Mahasiswa Banyak, Kampus Sesak

Persoalan kurangnya gedung untuk menyelenggarakan MPA akan menjadi masalah yang tidak berujung.

Kegiatan Masa Pengenalan Akademik (MPA) 2012 berlangsung di beberapa tempat, bahkan di luar lingkungan Universitas Negeri Jakarta (UNJ). Seperti dilakukan oleh Fakultas Teknik (FT) dan Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP). Tahun ini kedua fakultas tersebut memilih Gelanggang Remaja (GR) Pulo Gadung Jakarta Timur sebagai lokasi pelaksanaan MPA fakultas.

Koordinator Komisi Disiplin MPAFT Raden Denay mengungkapkan, hal ini merupakan solusi atas masalah lokasi.Sebelumnya, pihak universitas menjatahkan lantai dua gedung pascasarjana yang baru dibangun sebagai lokasi pelaksanaan MPA FT. Namun pihak dekanat menolak untuk ditempatkan disana, karena gedung itu sendiri belum rampung pembangunannya.

“Kondisi gedung yang seperti itu kan tidak layak untuk ditempati,” kata Pembantu Dekan III FT Tuti Iriani. Tuti menambahkan dirinya bermaksud memindahkan kegiatan MPA FT ke gedung Sertifikasi Guru. Tapi hal ini tidak mungkin mengingat jumlah mahasiswa baru (maba) yang terdaftar ikut MPA mencapai sekitar 1500 orang. Sedang daya tampung gedung jauh di bawah angka tersebut.

Atas kerjasama dekanat dengan Panitia MPA, diputuskanlah untuk menyewa GR. Dengan harga sewa enam juta rupiah, beban pengeluaran mereka malah lebih ringan. “Jika menggunakan gedung pascasarjanakami justru memerlukan dana sebesar delapan juta,” papar Denay. Pengeluaran ini dibutuhkan untuk membeli banyak alat. Mengingat gedung tersebut belum mempunyai fasilitas apapun.

Hal tersebut diamini oleh Ketua Panitia MPA FIP Pradipta Hendrawan Putra. Bagi Pradipta dipilihnya gelangganguntuk melaksanakan MPA FIP justru menguntungkan. Karena kapasitasnya besar, sesuai dengan kebutuhan fakultas.

“Kami tidak ingin kejadian seperti tahun kemarin terulang,” ujar Dipta. Tahun lalu dalam pelaksanaan MPA FIP, beberapa mahasiswa pingsan karena aula Daksinapati terlalu kecil untuk menampung jumlah maba FIP yang banyak. Kemudian maba dialihkan ke Teater Terbuka. Menurut Dipta karena lokasinya outdoor,  terik panas matahari mengganggu konsentrasi maba.

Hal semacam ini juga terjadi pada MPA FT tahun lalu. Daya tampung Unit Pelayanan Teknis(UPT) Perpustakaan juga tidak sebanding dengan jumlah maba FT, 1200 orang. Para maba akhirnya harus berdesak-desakan megikuti kegiatan tersebut.

Membludaknya jumlah mahasiswa FT turut menimbulkan polemik dalam pelaksanaan MPA jurusan. Tahun ini jurusan Ilmu Kesejahteraan Keluarga (IKK) FT juga akan mengadakan MPA jurusannya di luar kampus. Jurusan menyewa sebuah aula masjid dekat Rumah Sakit Persahabatan Rawamangun. Untuk biaya sewa, Adi selaku Kepala Sub Bagian biaya sewa masjid mengatakan, jurusan harus membayar sebesar Rp 2,5 juta. Namun ia menolak menyebutkan dari mana dana sewa gedung itu didapat.

Untuk saat ini universitas memiliki kebutuhan baru. Seperti agenda pembangunan gedung-gedung serba guna berdaya tampung diatas seribu mahasiswa. Tuti Iriani berharap pembangunan gedung-gedung yang terbengkalai bisa diselesaikan tahun depan. Dengan begitu, fakultas tidak perlu repot lagi mencari tempat seperti sekarang. Menurutnya, dengan pembangunan-pembangunan seperti itu,permasalahan ini akan segera teratasi.

Tetapi, bertambahnya jumlah mahasiswa UNJ setiap tahun, menyebabkan masalah tersebut akan selalu terulang kembali. Gedung-gedung yang dibangun tak lagi mampu menampung jumlah mahasiswa yang semakin banyak.

Masalah ini menjadi tidak berujung. Karena letak permasalahannya bukan berada pada ranah kurangnya fasilitas. Hal yang perlu diperhatikan adalah ledakan jumlah mahasiswa itu sendiri. Peningkatan jumlah mahasiswa ini yang seharusnya mendapatkan perhatian khusus pihak universitas. Seperti menekan angka target jumlah penerimaan mahasiswa.

Menurut keterangan Denay, FT sendiri tahun ini menargetkan penerimaan mahasiswa baru sebesar 1200 orang. Tetapi jumlah mahasiswa baru yang diterima jauh melampaui target, “mencapai sekitar 1500 mahasiswa.”

Kejadian ini diindikasi kuat  merupakan salah satu dampak status Badan Layanan Umum (BLU) yang disandang universitas. Dengan status ini universitas dituntut untuk mandiri dalam membiayai kebutuhannya. Karena kampus tidak memiliki sumber daya lain yang dapat diberdayagunakan untuk menghasilkan uang, akhirnya mahasiswa juga yang harus dikorbankan. Biaya kuliah harus dinaikkan.

Pundi-pundi uang kampus semakin gemuk ketika jumlah mahasiswa bertambah. Maka tidak heran jikafakultas-fakultassenantiasa menaikkan target jumlah mahasiswa baru setiap tahunnya.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*