Gramsci dan Kurikulum 2013

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) menyebutnya sebagai bonus demografi. Sebagai alasan penyebab gagasan kurikulum 2013 lahir ke dunia pendidikan. Yang menerangkan bahwa pada tahun 2035, Indonesia akan dibanjiri oleh populasi usia produktif .

 Untuk itu, Kemendikbud menyikapinya dengan perubahan kurikulum. Sebagai bentuk penyesuaian membludaknya populasi usia produktif tersebut. Melalui pendidikan, Kemendikbud mengharapkan usia produktif disiapkan guna menghadapi apa yang disebut sebagai arena pasar bebas dan globalisasi.

 Tanpa menyampingkan alasan lain atas lahirnya kurikulum 2013. Di mana dalam tulisan Wakil Presiden Boediono pada sebuah harian media nasional. Merasa prihatin dengan jumlah buku yang harus dibawa cucunya ke sekolah.

 Bonus demografi, menjadi motif yang harus dilihat dari perubahan kurikulum 2013. Sebagai sebuah pandangan bahwa perubahan kurikulum ini tidak ada kaitannya dengan usaha pemerintah. Mengembalikan posisi pendidikan hari ini, sesuai yang diamanatkan oleh konstitusi UUD 1945.

 Sebab, sudah banyak penyimpangan yang dilakukan pemerintah dalam menyelenggarakan pendidikan. Sebagai sebuah hak di mana setiap warga negara berhak mendapatkan pengajaran dan pendidikan. Yang bertujuan mencerdaskan kehidupan bangsa tentunya.

 Hal ini kemudian memaksa kita menarik ingatan ke belakang sebelum lahirnya gagasan kurikulum 2013 ini ada. Di tangan menteri pendidikan sebelumnya yaitu Bambang Sudibyo, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan saat ini Muhammad Nuh. Mereka semakin menjauhkan pendidikan sebagai hak, di mana negara mesti bertanggung jawab atas semuanya.

 Komersialisasi pada masa ini dilakukan begitu masif. Sekolah-sekolah yang mempunyai kualitas bagus dirubahnya menjadi sekolah bertarif internasional. Sehingga anak-anak miskin tidak mampu mengakses sekolah-sekolah bermutu.

Di tingkat pendidikan tingginya, kita tentu masih ingat dengan Undang-Undang Badan Hukum Pendidikan. Kini menjelma menjadi Undang-Undang Pendidikan Tinggi. Yang mengakibatkan biaya kuliah pendidikan tinggi menjadi semakin tinggi dan sulit di akses oleh mayarakat miskin. Meskipun pemerintah mengagas program beasiswa bidik misi sebagai solusinya. Ternyata hal yang berbentuk live service ini, tidak tepat sasaran dan dianggap sekadar buang-buang anggaran.

 Syahdan, kurikulum 2013 menjadi pintu masuk atas sejumlah penyimpangan yang dilakukan pemerintah. Dalam mencampuradukan pendidikan dengan kepentingan bisnis. Sehingga komersialisasi pendidikan semakin menjadi dan akses masyarakat miskin atas pendidikan, jadi semakin tertutup.

 Hegemoni Pendidikan

 Pergantian kurikulum ini memaksa kita untuk melihat kembali keberpihakan pendidikan. Sudah bukan barang baru lagi jikalau perubahan kurikulum lahir. Penyebabnya bukan karena semangat zaman yang berubah, melainkan kepemimpinan politik yang kemudian acuannya adalah kepentingan ekonomi global.

 Guna menjelaskan hubungan antara pergantian kurikulum dengan kepemimpinan politik. Kita dibatu oleh seorang pemikir Italia yang hidup semasa gerakan fasisme bergelora yaitu, Antonio Gramsci. Hegemoni tidak hanya dilakukan oleh negara, yang dalam hal ini negara sekadar menjadi kepentingan kelas sosial tertentu.

 Oleh karena itu, hegemoni bisa dilakukan oleh seluruh kelas sosial. Maksud Gramsci, dominasi kelompok satu atas kelompok lainnya tidak mungkin terelakan dapat terjadi dalam suatu negara. Sebabnya ide-ide yang didiktekan oleh kelompok dominan terhadap kelompok yang didominasi diterima sebagai sesuatu wajar yang bersifat moral, intelektual serta budaya.

 Dominasi yang paling sering dilakukan adalah oleh alat-alat kekuasaan negara seperti sekolah. Gagasan yang disusupkan lewat alat-alat tadi. Bagi Gramsci merupakan kesadaran yang bertujuan agar ide-ide yang diinginkan negara (dalam hal ini kepentingan kapitalisme) menjadi norma yang disepakati oleh masyarakat.

 Melalui sekolahlah, kita bisa melihat hari ini bahwa stratifikasi sosial justru diproduksi dari lembaga sekolah. Meskipun telah dihapus, rintisan sekolah bertaraf internasional dan gagasan world class university.  Membagi masyarakat ke dalam kutub-kutub yang bertentangan. Kaum miskin dirumuskan sebagai orang yang tidak menempuh pendidikan di lembaga sekolah dan perguruan tinggi.

 Kewajiban bersekolah menentukan peringkat bangsa-bangsa di dunia menurut sistem kasta internasional. Semua negara diurutkan seperti pada sistem kasta, di mana posisi setiap negara di bidang pendidikan. Ditentukan berdasarkan jumlah tahun rata-rata rakyatnya bersekolah.

 Lahirnya kurikulum 2013 pun tidak terlepas dari analisa Program for International Assessment of Student (PISA)  dan The Third International Mathematics and Science Study (TIMSS) yang menyatakan kemampuan pelajar Indonesia terendah dalam pelbagai bidang pelajaran, terutama sains. Ukuran-ukuran kualitas internasional ini kemudian tidak senada dengan kualitas dan kesejahteraan guru buruk. Serta keberadaan ruang kelas yang tidak komunikatif antara guru-murid/siswa.

 Tujuan lahirnya kurikulum 2013 sebagai jawaban atas bonus demografi. Kurikulum ini berniat menghasilkan teknokrat-teknokrat ilmiah serta upaya kulturisasi masyarakat agar sesuai dengan nuansa industrialisasi. Kurikulum ini merancang sumber daya manusia berwawasan ilmiah, guna menyongsong era industrialisasi dan pasar bebas di Indonesia.

 Hal ini jelas, pendidikan yang sebenarnya merupakan proyek humanisasi berubah menjadi pabrik kuli. Pendidikan hanya menghasilkan kuli-kuli ekonomi untuk kepentingan kelas penguasa. Pendidikan hanya dipakai sebagai pencetak tukang untuk menopang pertumbuhan ekonomi dan kepentingan industrialisasi. Syahdan, gagasan Gramsci pun menyatakan bahwa kurikulum 2013 lahir bukan untuk kepentingan kelas miskin. Melainkan sebagai alat pemenuhan kelas kaya guna melanggengkan proses kemiskinan struktural.

Satriono Priyo Utomo

Leave a Reply

Hubungi Kami

Gedung G Ruang 304 Lantai 3 Kompleks Universitas Negeri Jakarta Jl. Rawamangun Muka No. 1 Jakarta 13220
Telp: 021-47865543
Email:redaksi304@didaktikaunj.com lpm.didaktikaunj@yahoo.com

ADVERTISEMENT

Photobucket Photobucket
Masuk log - by VBzen.com