Dominasi Ideologi

1 Comment

Judul : Setelah Marxisme (Sejumlah Teori Ideologi Kontemporer)
Penulis : Donny Gahral Adian
Penerbit : Koekoesan, Juni 2011
Tebal : 173 Halaman

Berangkat dari kesadaran palsu, ideologi tidak bersifat netral.

Menurut Marx, kesadaran manusia tidak hanya ditentukan oleh keberadaannya, tetapi juga pikiran dan persepsinya, bahkan juga oleh bentuk-bentuk perasaan dan intuisi. Bagi Marx, “spontanitas” tidak menjamin sebuah kondisi yang tidak terkontaminasi. Sebab kekuatan dan relasi-relasi produksi memberikan bentuk formasi sosial dengan karakter yang spesifik.

Contohnya, buruh pabrik yang dipekerjakan secara berlebihan oleh perusahan tertentu, dengan pasrah berkomentar, “ Ya, begitulah adanya.” Inilah yang diungkapkan oleh Terry Eagleton sebagai representasi dari ideologi. Senada dengan Marx, bahwa ideologi adalah kesadaran palsu. Bagi Eagleton, ideologi muncul dari sebuah state of affairs pada        saat tertentu dalam bentuk perasaan, nilai, persepsi      yang mengabdikan dirinya pada pemeliharaan dan reproduksi kekuasaan sosial.

Teori ini terangkum dalam buku berjudul, Setelah Marxisme. Kumpulan sejumlah teori-teori kontemporer yang ditulis oleh seorang dosen Filsafat Politik dan Teori Ideologi, Universitas Indonesia (UI). Dialah Dony Gahral Adian, yang coba menawarkan wacana marxisme di tengah pusaran demokrasi intelektual. Yang pada masa rezim otoritarian Soeharto wacana ini dilarang. Sehingga pasca lengsernya rezim yang telah berkuasa selama 32 tahun. Negara ini terjebak pada istilah kanan dan kiri yang tidak substansial, melainkan manifestasi dari kesadaran palsu.

Hal ini juga dikemukakan oleh sejumlah pemikir pasca Karl Marx yang tidak meninggalkan ajaran Marxis sebagai corak berpikirnya. Salah satunya Jurgen Habermas, menurutnya, ideologi bukanlah keyakinan palsu yang biasa. Dimana hampir semua anggota masyarakat dibuat percaya. Selain itu ideologi merupakan keyakinan palsu yang fungsional. Ini terjadi karena komunikasi telah terdistorsi secara sistematis oleh sebuah kekuatan, sebuah diskursus yang telah menjadi medium dominasi dan berfungsi melegitimasi relasi-relasi kekuatan terorganisir. Inilah yang terjadi ketika era Soeharto, dimana istilah Demokrasi Pancasila telah digunakan untuk menindas semua oposisi dalam politik Indonesia.

Semua ini berasal dari premis Marx yang terbagi menjadi dua teori tentang ideologi. Teori yang pertama mengungkapkan bahwa, setiap kelas sosial menentukan kesadarannya masing-masing. Dan yang kedua, struktur ekonomi masyarakat menentukan suprastruktur legal dan politik. Struktur masyarakat harus dipahami secara hirarkis, kelas pemilik modal dengan kelas pekerja yang bersifat antagonistik. Sehingga menimbulkan gagasan yang dominan diantaranya. Yang biasa menjadi pemenang adalah gagasan dari pemilik modal sebagai gagasan dominan.

Jelas, ini semua berangkat dari bagaimana Marx melihat hubungan sosial antar manusia.  Bagi Marx hubungan sosial terjadi ketika manusia mencari nafkah. Pemenuhan kebutuhan hidup merupakan kegiatan sosial dan menyiratkan hubungan sosial. Sehingga Marx dapat membagi manusia ke dalam kelas-kelas khusus. Antara basis dan suprastruktur. Basis yang dimaksud Marx adalah cara manusia memenuhi kebutuhan hidupnya. Sedangkan suprastruktur adalah perangkat untuk memenuhi kebutuhan itu. Yaitu, sistem politik, sosial, agama, filsafat dan seni.

Selanjutnya, Marx melihat ideologi sebagai bentuk universalisasi. Bentuk-bentuk pikiran dari kelompok sosial yang mengubah kebutuhannya sendiri ke dalam norma-norma yang berlaku bagi seluruh masyarakat. Marx memberikan petunjuk pada persoalan ideologi, yaitu pada korelasi antara kesadaran dengan kontradiksi. Dalam hal ini ideologi bekerja sebagai penyelesaian kesadaran pada kontradiksi yang tidak selesai pada tataran praktik. Praktik selalu dilaksanakan di bawah peraturan kelas tertentu yaitu kelas yang berkepentingan. Sehingga, hal ini menyembunyikan hubungan antar kelas yang sebenarnya.

Suprastruktur, Penyulut Ideologi

Dalam buku ini, Donny Gahral Adian menawarkan beragam interpretasi tentang ideologi. Yang memang semua bermula dari Marx. Ideologi telah merangsek masuk ke dalam struktur masyarakat. Seketika, menurut Gramsci, menjadi sebuah perebutan hegemoni antar kelas.

Konsentrasi Gramsci, pada suprastruktur yang diungkapkan Marx. Bagi Gramsci, ideologi tidak hanya tumbuh dan berkembang pada kelas pekerja yang didominasi oleh kelas pemilik modal. Melainkan kegiatan dominasi yang berlangsung di setiap aspek kehidupan, mulai dari keluarga, lembaga agama, budaya politik dan media massa. Hal ini dilakukan melalui mekanisme hegemoni.

Gramsci mencatat bahwa sebuah kelompok menjadi hegemonik bilamana kelompok tersebut mengartikulasikan kepentingan sektoralnya sebagai kepentingan umum, lalu menjadikan kepemimpinan moral dan politis sebagai bentuk realisasi. Contohnya ketika hari ini diberlakukan Perda perihal larangan merokok di area umum. Kepentingan sektoral dalam hal ini ialah bagaimana menjaga kelestarian alam di tengah ancaman pemanasan global. Namun bila semangatnya bahwa, merokok dapat menyebabkan gangguan kesehatan juga pada perokok pasif. Maka hal ini akan menjadi kepentingan umum. Apalagi, jika media banyak memblowup bahaya merokok dengan membuat ketakutan-ketakutan pada masyarakat. Tanpa memperhatikan jutaan nasib buruh yang bergantung pada industri ini.

Gagasan Gramsci tentang hegemoni ialah sebuah kemajuan besar bagi filsafat dan politik. Hal ini berguna memberikan pemahaman secara kritis bagi dunia intelektual. Teori Gramsci ini juga menjawab pertanyaan Marx yang masih tersisa tentang ideologi. Yaitu, tentang apa saja yang dikontrol oleh ideologi. Gagasan hegemoni ini kemudian diteruskan oleh Louis Althusser.

Dalam pandangan kaum marxis, ideologi berperan sebagai penundukan kaum pekerja atas kelas pemilik modal atau penguasa. Hal ini dicapai ketika terciptanya tatanan yang mapan. Dimana ajaran-ajaran moral dan penghormatan diatur ke dalam institusi-intitusi. Yang menurut Althusser, disebut sebagai Aparatus Ideologi. Dalam hal ini aparatus ideologi dapat berupa negara, bahkan institusi di dalamnya. Seperti lembaga keagamaan, sekolah dan militer. Yang mengontrol hal-hal yang diperlukan guna mengamankan kelangsungan sistem ekonomi.

Penekanan Althusser pada letak antara subjek dan ideologi. Baginya ideologi adalah aktivitas yang tepat dilakukan orang di dunia nyata. Sebagaian dari aktivitas itu merupakan imajinasi manusia yang memberikan makna sosial. Dengan kata lain, ideologi dan subjek saling menentukan. Bagi Althusser ideologi bukan seperangkat ide atau keyakinan, tapi tindakan-tindakan yang disisipkan ke dalam praktik material. Praktik ini diatur oleh ritual, ke dalam eksistensi material dari suatu aparatus ideologi. Misalnya pada, upacara bendera setiap hari senin di sekolah.

Penekanan pada subjek dan ideologi ini kemudian membawa kita kepada Michael Foucault. Yang ingin disampaikan oleh Foucault ialah penekanan pada subjek-subjek yang dianggap ahli. Yaitu mereka yang dapat berbicara tentang kebenaran. Bagi mereka yang tidak memiliki posisi kekuasaan, tidak dapat berbicara perihal kebenaran. Foucault mengungkapkan bahwa kebenaran selama ini didukung secara material oleh berbagai praktik dan institusi-institusi. Yang dalam hari ini di negara kita dimanifestasikan melalui institusi seperti universitas, dan departemen pemerintah.

Semua institusi bekerja untuk menyingkirkan pernyataan yang dianggap palsu atau tidak benar, dan pada saat yang sama, institusi-institusi terus mengedarkan pernyataan yang diklaim benar. Dalam buku ini melalui pernyataan Foucault, Donny Gahral Adian mengambil contoh. Anda tidak mungkin menyatakan teman Anda menderita penyakit tertentu, jika Anda bukan seorang dokter.

Pernyataan Foucault juga berlaku dengan dinamika politik hari ini. Ketika terjadi simpang siur tentang keberadaan mantan bendahara umum Partai Demokrat yaiu M. Nazaruddin yang diduga terlibat skandal korupsi. Media memberitakan isi pesan singkat yang diduga berasal dari M. Nazarudin. Pesan itu membuat gerah Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), Presiden sekaligus pembina Partai Demokrat. Yang terjadi dalam hal ini ialah pertarungan antara bahasa jurnalis dengan bahasa politik. Dengan kekuasaannya bahasa politik menyalahkan bahasa jurnalis dalam peristiwa ini.

Buku yang mengungkapkan teori pemikir besar seperti Karl Marx, Georg Lukacs, Antonio Gramsci, Thoedor W. Adorno, Louis Alhusser, Slavjo Zizek, Terry Eagleton, Jurgen Habermas, Roland Barthes, dan Michele Foucault. Membawa kita pada interpretasi bahwa, gagasan yang senantiasa ada menyembunyikan kepentingan kelompok yang berkuasa. Sedangkan kekuatan ada karna kepentingan ekonomi.

Donny Gahral Adrian mengajak kita menyelami teori ideologi yang menurutnya bermula dari Marxisme. Teori marxisme dalam buku ini menerangkan bahwa gagasan itu tidak bebas nilai. Artinya bahwa gagasan tidak bersifat netral.

Kumpulan teori yang dipaparkan oleh penulis layak dibaca tidak hanya untuk tataran intelektual. Pembaca juga harus menyiapkan kamus ilmiah untuk mengerti kata-kata yang biasa dijumpai dalam sebuah teori. Mungkin pembaca akan menemui kesulitan mencari benang merah dari teori satu ke teori yang lain. Jika perjumpaan pada teori marxisme baru memasuki pandangan pertama. Jelas, buku ini pun mengandung gagasan yang patut dicurigai oleh pembaca.

Satriono Priyo Utomo

LPM DIDAKTIKA
Up Next

Related Posts

Komentar