Dompet Dhuafa Masuk Kampus

No Comment Yet

Rabu (25/1), Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Negeri Surakarta Sebelas Maret (UNS) mengadakan acara seminar bedah buku dan peluncuran program beasiswa aktivis Dompet Dhuafa. Acara ini berlangsung di Auditorium, Gedung III Fakultas Teknik (FT), UNS. Dengan mengambil tema “Untukmu Aktivis Sejati”, acara ini dihadiri oleh bekas Ketua BEM UNS Ikhlas Thamrin, dan Dirut LPI-Dompet Dhuafa Sri Nur Hidayah, yang juga pada siang itu menjadi pembedah buku.

Acara yang dibuka oleh Kepala Bidang Kemahasiswaan UNS Hermawan ini kemudian dilanjutkan dengan sosialisasi program beasiswa aktivis oleh Fakhri Tanjung, selaku pengurus beasiswa aktivis Dompet Dhuafa. Katanya, beasiswa ini guna menjaga idealisme mahasiswa. Motif utama hadirnya beasiswa ini ialah sebagai pemberdahayagunaan masyarakat di tengah mahalnya biaya pendidikan di Perguruan Tinggi Negeri (PTN). “Dengan adanya program ini, harapannya penerima dapat memotong rantai kemiskinan yang tiap tahun merangkak naik. Kalau mau tahu, beasiswa Bidik Misi sebenarnya berasal dari gagasan kami (Dompet Dhuafa-red),” kata Fakhri dengan bangga.

Senada dengan Bidik Misi, beasiswa ini punya persyaratan penerimanya harus berorganisasi. Sebelum di UNS beasiswa aktivis Dompet Dhuafa hadir di tiga kampus besar; UI, IPB, dan UGM. “Kita sepakat menjaring aktivis di luar kampus tersebut. Kita buka tiga kampus lagi; UNS, ITB, dan UNSRI,” papar Fakhri. Pemilihan kampus ini bertolak pada kepercayaan pasar terhadap enam kampus ini. “Di UNS fakultas yang paling banyak mahasiswanya ialah Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP). Tapi untuk peminat, yang paling besar di  Fakultas (FH) dan Fakultas Kedokteran (FK). Soalnya, lahan pekerjaannya menjanjikan gaji yang lumayan besar teruntuk daerah Surakarta ini,” ujar Qodri, mahasiswa FKIP UNJ.

Yang berbeda beasiswa ini dengan Bidik Misi ialah penerimanya wajib berasal dari mereka yang telah memasuki jenjang perkuliahan di semester lima. “Intinya kita mencegah mahasiswa putus kuliah akibat biaya pendidikan yang tiap tahun naik. Tentu kita mau mereka berprestasi di bidang akademik,” imbuh Sri. Hermawan sebagai perwakilan UNS pada acara itu sangat mendukung hadirnya program ini. “Bila perlu kampus bisa dilibatkan sebagai tim seleksi,” katanya.

Sejak memakai pola keuangan Badan Layanan Umum (BLU) dengan ditandai dibukanya jalur masuk mandiri (baca: swadana), UNS giat menaikan jumlah biaya pendidikan. Tiap angkatan jumlah biaya pendidikannya berbeda. Teruntuk swadana dengan jalur reguler mencapai 150 persen. “Di fakultas saya biaya semseteran tiap tahun naik seratus ribu. Biaya pangkal reguler tahun ini lima juta, sedangkan swadana sampai lima belas jutaan,” ungkap Haris, mahasiswa Fakultas Ekonomi (FE) UNS.

Efek hadirnya beasiswa aktivis Dompet Dhuafa mendapat pandangan skeptis mahasiswa UNS. Hal ini terlihat stagnan, ketika di satu sisi beasiswa hadir sebagai efek dari kenaikan biaya pendidikan. Tentu hal ini jauh dari solutif guna menyelesaikan permasalahan yang fundamen. “Bayang saya, ini sama saja gali lubang tutup lubang,” celetuk Qodri.

Acara ini ditutup dengan berakhirnya sesi pertanyaan menyangkut sosialisasi dan mekanisme beasiswa aktivis Dompet Dhuafa. Bedah buku berjudul,”Merawat Indonesia” yang menjadi agenda utama kegiatan ini pun urung tercipta. Dikarenakan pembedah lebih banyak berbicara menyoal beasiswa aktivis Dompet Dhuafa.”Ini di luar rencana. Tapi tidak masalah, sekali-kali mahasiswa meninggalkan diskusi. Toh, mahasiswa juga butuh dana. Kan aktivis itu akibat kantong tipis mas,” imbuh seorang panitia yang enggan menyebutkan namanya.

LPM DIDAKTIKA
Up Next

Related Posts

Komentar