SEBUAH KESAKSIAN

No Comment Yet

Karya: Sukindar Putera

 

Satu pekan terakhir setelah pembangunan dilakukan, aku cukup tak berdaya di gudang bersama gulungan sajadah yang lain dengan alasan agar kami tidak rusak. Ini adalah kali ke sekian kami diperlakukan seperti ini, dalam artian lain telah beberapa kali tempat ini melakukan pembangunan. Entahlah, kadang karena pandangan yang kumiliki terbatas aku jadi tidak bisa menyadari bagian mana yang berubah. Tapi kali ini jelas berbeda. Setelah dijemur supaya debu terpisah dari tubuh kami, dan digelar kembali seperti semula aku dapat merasakan perubahan yang telah terjadi.

Keramik yang menyelimuti dinding tentu membuat tempat ini semakin terlihat mewah saja, apalagi kaligrafi yang terukir di dalamnnya membuat suasa semakin khidmat. Dan pada awalnya aku juga terkejut, ketika pertama kali digelar kembali tiba-tiba ada hawa sejuk yang menyambutku. Rupanya pendingin ruangan sudah menggantung di empat sudut yang berbeda. Tak luput mimbar juga menjadi sasaran pembangunan kemarin, meja lama sudah diganti dengan yang lebih baru dan tampak lebih kuat. Tepat di depan tempat imam, ada gambar Kabah yang sangat besar ukurannya. Selain itu, tampaknya pengurus tempat ibadah ini menambahkan lemari di pojok ruangan dekat dengan kotak amal. Di dalam lemari itu sepertinya berisikan kitab suci, dan beberapa alat solat baru. Segalanya tampak menjadi terlihat indah sekali.

Malam harinya, aku melihat si kepala pengurus masjid sedang berbicara dengan lelaki yang sangat asing untuk kukenali wajahnya. Percakapan mereka terdengar olehku samar-samar.

“Insya Allah, lantai dua yang baru setengah jalan ini akan segera kami selesaikan,” kata si kepala pengurus masjid.

“Jika dirasa masih butuh biaya lagi,” balas lelaki itu sambil tersenyum “jangan sungkan untuk bilang ya, Pak,” aku benar-benar terpana melihat kemurahan orang itu, sungguh tak pernah kulihat orang sebaik itu menawarkan hartanya di sela orang-orang sedang meminta kesejahteraan materil kepada sang pencipta.

“Semoga Allah membalas semua kebaikan Bapak,” mereka berjabat tangan, dan itu menjadi tanda bahwa percakapan mereka telah berakhir.

Amin. Semoga siapapun lelaki itu, yang tubuhnya jangkung dan berambut klimis yang tidak kuketahui namanya. Segera dibalas kemuliaannya oleh Allah.

Pembangunan kali ini tampaknya tidak main-main, bahkan tempat yang sudah cukup luas ini ingin dibangun kembali hingga memiliki dua lantai. Kapan dilaksanakannya aku tidak tahu pasti, yang jelas aku turut senang apabila tempat ibadah disulap menjadi sedemikian indah, megah dan nyaman. Tapi entah mengapa, seiring berjalannya waktu aku malah merasa heran. Makin kesini malah makin sering saja yang mengeluhkan nasibnya kepada sang khalik, sebab bagaimanapun doa mereka sedikit-sedikit dapat terdengar olehku.

Dua hal yang paling sering kudengar—setidaknya dari beberapa jemaah yang melaksakan ibadah di atas tubuhku—adalah mereka yang tak bosan-bosannya meminta agar ditempatkan di surga yang dijanjikan, dan perihal materil. Untuk yang kedua, maksudnya meminta akan rejeki yang berlimpah. Sungguh, aku tidak habis pikir. Bukankah tempat ini sudah lebih dari pada cukup untuk kalian, kenapa dan apa pula yang menjadi penyebab kalian berkeluh dengan kurangnya harta yang kalian miliki?

Salah satu di antara orang itu adalah Bayu, nama yang kukatahui saat ia tengah berdoa karena seringkali menyebut-nyebut nama dirinya. Disaat orang-orang segera bergegas pulang setelah selesai melaksanakan solat isya, ia tetap tak beranjak. Masih duduk dan melipat kedua tangannya. Dengan leluasa disanalah ia mengadukan nasibnya, sambil sesekali menangis. Sungguh, aku benar-benar merasa iba melihatnya seperti itu. Kutaksir kira-kira umurnya sekitar empat puluh limaan, sebab terlihat dari beberapa rambutnya yang sudah mulai memutih. Matanya semakin terlihat sayu saja ketika ia telah selesai menangis, kerut di sana sini terukir di wajahnya. Pakaian yang ia kenakan benar-benar menggambarkan keadaan yang ia keluhkan itu.

Yang kuketahui setelahnya Bayu adalah seorang pemulung. Anaknya sekarang sedang terkena penyakit tbc, meski sudah bekerja sepanjang hari ia mengaku masih tidak mampu untuk membawanya berobat. Aku semakin heran saja. Di saat masjid sudah semewah ini, mengapa masih ada saja orang yang mengeluhkan hal ini. Apa jangan-jangan dunia sedang dilanda krisis orang murah hati seperti si lelaki jangkung dan klimis itu?

Semoga Allah segera mempertemukan Bayu dengan si lelaki jangkung dan klimis yang murah hati itu, Amin.

Setelah kejadian itu aku selalu berharap lelaki klimis itu segera datang dan membantu Bayu. Tapi sampai hari kesekian ia tak kunjung datang, bahkan sebetulnya setelah percakapannya dengan kepala pengurus masjid itu aku tak pernah melihatnya lagi. Entah luput atau bagaimana, tapi aku yakin ia memang jarang datang ke sini. Mungkin karena itulah aku jadi sulit sekali untuk mengenali wajahnya. Lain halnya dengan Bayu, aku mengetahuinya sudah cukup lama. Hanya saja mengetahui nama, dan keadaannya yang pelik itu baru-baru ini.

Malam ini, masih sama seperti sebelumnnya. Hanya saja Bayu tampak terlihat sedikit aneh, sedari tadi ia celingak-celinguk. Seperti tidak tenang karena ada sesuatu yang sedang mengintainya. Kadang-kadang ia berdiri, lalu duduk lagi. Bahkan saat jemaah sudah pada pulang semua, ia malah mengelilingi seluruh ruangan sambil komat-kamit. Apa yang ia katakan tidak begitu jelas, meski aku yakin ia sedang melafalkan ayat suci. Tapi untuk apa juga ia berkeliling seperti itu? Di sisi lain, jarum pendek jam dinding menunjuk angka sepuluh-

Sekitar pukul seginilah aku melihat si lelaki klimis itu sedang berbincang dengan kepala pengurus masjid beberapa hari lalu, dan aku berharap hariini ia juga datang dan bertemu dengan Bayu. Aku yakin, lelaki itu sama sekali tidak keberatan untuk membantu anak dari Bayu yang sedang dilanda penyakit. Yang kupikir biaya pengobatannya, jauh lebih murah ketimbang pembangunan yang ia lakukan terhadap masjid ini.

-Tiba-tiba terdengar suara ricuh dari luar. Kulihat Bayu sudah tidak ada di dalam, dan pintu masjid terbuka lebar. Dari sini, aku melihat orang-orang berlarian mengejar sesuatu. Mereka berteriak, tapi karena terlalu ricuh apa yang mereka teriakkan jadi terdengar tidak jelas. Yang dapat kupastikan adalah kota amal yang berada di dekat lemari sudah hilang. Aku benar-benar terkejut, yang jelas kericuhan itu pasti berasal dari sana. Hanya Bayu lah yang terakhir berada di sini, tapi bukan berarti aku menuduhnya sebagai pelaku. Bahkan bisa jadi malah dia yang memergoki maling itu.

Siapapun yang mengambil kotak amal itu, semoga Allah mengampuni dosanya

Suasana semakin tak terbendung, orang-orang semakin ramai saja berbondong-bondong datang ke sini. Kepala pengurus masjid sudah hadir sejak tadi, ia tampaknya sedang mendengarkan penjelasan kronologis dari seseorang. Entah mengapa aku bisa lalai seperti ini, bagaimana bisa hal semacam itu luput dari pandanganku? Aku benar-benar tidak bisa memastikan siapa pelakunya, tapi yang jelas aku berharap bukan Bayu lah pelakunya. Tiba-tiba orang yang tadi menjelaskan kepada kepala pengurus masjid itu datang mendekatiku. Ia menunjuk-nunjukku, kemudian menirukan seperti apa yang Bayu lakukan tadi. Perasaanku semakin tidak karuan.          Lalu dengan cepat sebagian besar dari mereka meninggalkan masjid, dan pergi entah kemana.

“Bagaimana, kok bisa terjadi hal semacam ini?” Tanya pengurus satu kepada pengurus lainnya.

“Astagfirullah, saya juga gak tau. Yang saya tahu orang itu memang rajin beribadah kok, makannya saya gak menaruh curiga sedikitpun kepadanya,” balas satunya. Kemudian mereka berkeliling seperti memastikan supaya tidak ada barang yang hilang lagi.

Tak ada yang pernah menyangka termasuk aku, kalau Bayu lah yang melakukan hal itu kemarin malam. Aku sangat menyesali pilihannya untuk menjadi maling, karena bagaimanapun mengambil kotak amal bukanlah cerminan dari apa yang ia lakukan selama ini. Meski begitu, ia tetap pergi ke masjid. Hanya saja kali ini berbaring, dengan tubuh yang berselimut kafan, dan tak bernyawa lagi. Dari apa yang kudengar, ia digebuki setelah tertangkap ketika sedang melarikan diri. Kepalanya bocor dan mengalami pendarahan, begitulah kira-kira yang pengurus masjid obrolkan tadi subuh.

Sungguh memprihatinkan. Tak bisa kubayangkan bagaimana nasib anaknya yang sakit itu. Sudah sembuh atau belum aku tidak tahu karena keterbatasan yang kumiliki sebagai sajadah masjid. Aku hanya terbaring, seperti apa yang Bayu sekarang lakukan. Yang lebih menyedihkannya lagi, orang-orang tampak enggan menyolatinya. Setelah selesai solat zuhur, beberapa jemaah langsung meninggalkan masjid. Hanya sebagian kecil saja yang iklas melakukannya.

Semoga Allah mengampuni dosanmu, Bayu. Amin.

Tak disangka-sangka malam harinya aku melihat si lelaki jangkung dan klimis itu. Meski ia berada cukup jauh dariku, tapi aku dapat melihatnya sedang berbicara dengan kepala pengurus masjid. Sungguh terlambat pikirku. Andai saja dari jauh hari ia sudah bertemu dengan Bayu dan rela membantunya, mungkin kejadian semalam tidak akan terjadi. Kali ini aku tidak dapat mendengar apa yang mereka bicarakan, yang jelas si lelaki baik hati itu pasti datang ke sini dengan niatan yang juga baik.

Dari arah luar terdengar dengung mesin yang lumayan keras, seperti suara mobil tapi lebih kasar. Aku melihat beberapa pengurus masjid langsung keluar, dan kembali lagi menggotong bergulung-gulung sajadah baru. Dan kemudian mereka menggulungku bersama yang lain, lalu kami diangkut dan dibawa pergi entah kemana. Setibanya aku digotong kembali oleh orang yang tak kukenal wajahnya, dan aku melihat masjid yang tampaknya belum sepenuhnya selesai dibangun. Temboknya belum di cat, dan masih ada beberapa tembok yang belum disemen. Aku disandarkan di pojok ruangan.

Semua yang kulihat benar-benar asing, hanya satu orang yang wajahnya kukenal. Yaitu lelaki jangkung dan klimis yang baik hati itu. Ia tampak ramah sedang menyalami orang-orang satu persatu.

“Semoga bermanfaat, Pak,” Katanya kepada salah seorang, kemudian ia menambahkan “kalau ada biaya atau barang yang dibutuhkan lagi, jangan sungkan untuk bilang ya, Pak.”

Orang yang menerima tampak riang. Dan akhirnya aku tahu, ini adalah masjid yang baru dibangun tak jauh dari masjid tempat kubersemayam dulu. Aku turut senang dalam pembangunan masjid baru ini, tapi di sisi lain perasaanku berkata lain. Entah mengapa sosok Bayu, dan nasib anaknya yang malang masih sangat terngiang-ngiang di pikiranku.

 

Sodong Raya, 17 April 2016

LPM DIDAKTIKA
Up Next

Related Posts

Komentar