Aku Enggak Masokis!

No Comment Yet

Plak plak plak

Hilir mudik hajra berjalan di depan kamar kosnya. Berputar seperti mengelilingi gundukan api unggung. Derap langkahnya terdengar begitu jelas karena saat ini tidak ada satupun yang beraktifitas di luar kamar kosnya. Penghuni kos di lantai dua belum juga kembali semenjak libur semester kuliah satu bulan yang lalu. Ini adalah kesempatan hajra untuk melakukan yang ia malu tanpa di ejek wong gila.

Drep drep drep….

Hentakan kaki kini berubah menjadi suara Paskibra. Hajra tidak lagi berkeliling. Ia berjalan ditempat menatap lurus antena TV yang ada di depannya. Sesekali Hajra cemas aktifitas yang sedang ia lakukan terganggu karena angin yang menyentuh kulitnya seperti angina-angin yang biasa menyebabkan dia mules.

Drep drep drep ……….. drep drep

Hajra menambahkan frekuensi kecepatannya berjalan di tempat. Terdengar gonggongan anjing milik tetangga kosannya, sesekali gonggongan anjing itu ditimpali oleh bunyi ayam milik ibu kos Hajra. Anjing dan ayam kini sedang bercengkrama dalam bahasanya masing-masing. Burung tak mau kalah dengan anjing dan ayam. Berung-burung kecil yang hinggap di atas pohon yang setengah gundul terus berkicauan. Kini terdengar seperti paduan suara. Burung mengisi suara 1, anjing mengisi suara 2 dan ayam mengisi suara tiga.

Brummmmmmmmmmm….

Tiba-tiba ada suara yang mengacaukan perpaduan suara anjing, ayam dan burung. Itu adalah suara motor yang mulai hilir mudik berganti menyambut munculnya sang mentari. Motor-motor itu berjalan melewati gang kosnya hajra dan cukup banyak menyumbangkan polusi pada pagi hari. Hajra terdiam. Ia mulai berhenti jalan di tempat. Masih terdiam. Perutnya terasa mulas. Hajra masih tetap terdiam merasakan kocokan di perutnya. Diam…. Diam… diam…… dan….. bau. Hijra mengeluarkan angin pertama di hari sabtu.

Hajra jongkok sambil memegang perut namun masih di tempat yang sama. Ia berpikir 2x untuk memutuskan pergi ke toilet. Jika ia memutuskan untuk pergi ke toilet, maka ini adalah ke-3x nya ia ke toilet pada pagi hari ini.

“ jaaaaaaaa”

Terdengar suara dari kamar kosnya Hajra namun Hajra tidak menghiraukannya. itu adalah Heni, teman sekamarnya Hajra.

“jaaaaaaaaaaaaa ngapain lu jongkok gitu ? lagi maen gundu ?”

Heni bertanya setengah berteriak. Kali ini Hajra menjawab.

“sakiiiiiiiiiit”

Hajra menjawab sesingkat-singkatnya dan setidakjelasnya karena suaranya ia sengaja bikin parau. Jawaban hajra mengundang heni untuk bertanya lagi.

“sakit mag ? sakit gigi ? sakit kaki ? sakit hati ……………….?”

Heni semakin menyerbu Hajra dengan pertanyaan.

“jantuuuuuuuuuuuung”

Heni berlari menghampiri hajra dan berjongkok di depannya. Menatap dalam-dalam bola mata Hajra yang tidak sepenuhnya bisa dilihat oleh Heni. Heni tediam.

“jaaaaaaaaaaaaaaaaa”

Nadanya terdengar parau. Tapi hajra tetap terdiam.

“jaaaaaaaaaaaaaaaaaaa”
Gumamnya lagi.
“apa ?”

Hanya itu yang telontar dari mulutnya hajra.

“jantung ? ko jantung ?”

Kali ini pertanyaan Heni langsung dijawab dengan cepat.

“emang kenapa?”

Heni terdiam. Beberapa puluh detik kemudian lalu
menjawab dengan pertanyaan lagi.

“kenapa ga kanker aja atau ginjal ?”

“sial. Hahahahahahahhahah harusnya tadi gue jawabnya –kenapa engga?– hahahah”

Hahahahahahahahahah

keduanya tertawa berbarengan

“gue mules Hen daritadi udah berapa kali gue bolak balik wc hahahaha”

“sekarang masih mules lu jaaaa ?
kebanyakan makan sambel sih lu ga kapok-kapok”

“udah engga Hen. Klo ga pedes yo ga asik toh hen. Rasa paling nikmat itu yo pedes hen”

Aksen Hajra berubah sedikit Jawa, padahal dia orang Sunda yang mutlak ga bisa ngomong Jawa tapi suka sok tau Bahasa Jawa. Jadi sedikit terdengar aneh.

“sok Jawa lu ja hahahah. Ngomong Jawa ko pake logat Sunda”

“yo iku akulturasi toh Hen hahahaha”

Heni terdiam namun tidak bau.

“oh ya ja, ko lu suka banget pedes sih ? kan lu udah tau kalo makan pedes bakalan sakit perut ?”

“enak Hen pedes itu bisa ngilangin setres”

“lu ada indikasi masokis dh kayanya jaaaaaa”

“lah ko lu jauh banget nyambunginnya Hen hahahahahah. Lu jangan terlalu serius gitu apa Hen jadi orang. Apa-apa disangkut pautin sama teori-teori yang lu baca. Tua lu ah hahahah”

“serius gue jaaaaa. Gue kemaren baru baca artikel tentang orang penyuka makanan pedes gitu di internet”

“terus apa hubungannya “

“gue rada-rada lupa dikit sih. Bentar y ague inget-inget dulu. Mmmmmmm”
“Jadi gimana ?”

“mmmmmmmmmmmmm”

“ am em am men. Apaan coba ? jelasih secara ilmiah !”

“ yang alami……… yang ilmiah”

Heni malah mengikuti iklan salah satu merek pasta gigi di Tv

“ yang alami……. Yang ilmiah……… hahahahah “

Heni mengulangnya lagi. Hajra pun terlihat kesal
“ ga jelas deh lu hen! Hahahah “

“jadi gini, lidah kita kan Cuma bisa mengecap rasa manis, asin, pait, dan asam. Nah sedangkan pedes itu ga termasuk. Jadi ketika lu menikmati rasa pedas itu sama aja lu menikmati rasa sakit. Lu membiarkan rasa pedas itu ada di mulut lu dan selanjutnya lu udah otomatis menyetujui apa yang akan diberikan oleh rasa pedes itu. Yaitu diare. Gitu . jadi lu ada indikasi masokis, ja”

“setau gue masokis itu istilah dalam seks deh hen”

“nah yang lu maksud itu mungkin arti sempitnya. Sebenernya itu istilah umum ja. Makanya lu baca dong buku the art of loving-nya Erich Fromm biar gaul. Ha ha”

“males bangeeet. Mendingan gue baca novel Dilan aja lebih enak. Duuuuuh Dilan”

“ nah kan mulai deh lu ga jelas! Ha ha. Ya tetep lu harus baca teori juga jaaaa biar lu ga terjebak cinta yang ga rasional. Eaaaaaaaaaa. hahaha”

“bentar….hmmmm. tapi bukannya kata ahmad tohari cinta itu emang harus ga rasional ya ? katanya ga seru kalau misalkan cinta itu semuanya pake logika… kan kata penyanyi yang pengen banget go internasional, eh udah go internasional deh (katanya), katanya sih gitu kadang-kadang ga ada logika. Ha ha ”

Hahahahhahah

“udah ah gue mau poop dulu hen”
“udah sono lu nanti cepirit lagi. Hahah”

Hijra pergi ke kamar mandi dan meninggalkan heni sendirian.

*Ditulis saat sakit perut

Yulia Adiningsih

LPM DIDAKTIKA
Up Next

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *