Hidup untuk Hidup

No Comment Yet

Agama adalah candu, begitu kata Karl Marx. Namun, bagi si Aku dalam Novel Mati, bertahun yang lalu karya Soe Tjen Marcing, kehindupanlah yang merupakan candu. Tidak ada yang lebih adiktif daripada kehidupan dan mencoba hidup.  Manusia makan agar tetap hidup, manusia sakit akan berobat agar tetap hidup, manusia berdoa kepada yang maha tinggi untuk dipanjangkan umurnya karena manusia sudah kecanduan akan hidup. 

Soe Tjen adalah seorang akademisi dan komponis serta pendiri Lembaga Bhinneka dan Yayasan Bhinneka Nusantara.  Sebuah lembaga yang mempromosikan keanekaragaman tradisi, budaya, agama dan hak asasi manusia di Indonesia (pluralisme). Gaya penulisan Soe Tjen dalam novel ini tidak jauh beda dengan tulisan-tulisannya yang telah ia tulis di websitenya. 

Novel ini berlatarbelakang tahun 1998, yaitu pada saat runtuhnya rezim orde baru dan digantikan oleh reformasi. Dimana manusia-manusia keturunan tiongkok menjadi sasaran utama pada kerusuhan ’98. Soe Tjen rupanya tak lupa menyelipkan isu prulasime pada Mati, bertahun yang lalu  dengan menyangkut-pautkan suku, adat, ras, agama dan golongan dengan memanfaatkan setting waktu dalam novel ini.  

Ada dua kata kunci yang pasti disebut-sebut dalam setiap bab dalam novel ini, yaitu Mati dan Hidup. Secara harfiah, mati mempunyai makna tidak bernyawa, sedangkan hidup mempunyai makna yang sebaliknya. Secara harfiah, nyawa adalah sesuatu yang tidak dapat dilihat (non-fisik) namun dijadikan acuan untuk apakah sesorang dikatakan sudah mati atau hidup. Dalam novel ini, Soe Tjen mencoba menggambarkan manusia yang Mati seperti apa. 

Pemaknaan hidup selalu terhenti pada anggapan terhadap sesuatu mempunyai nyawa. Si Aku dalam novel Mati, bertahun yang lalu adalah satu tokoh yang digambarkan Soe Tjen telah mati meskipun bernyawa. aku sudah mati bertahun-tahun yang lalu. Namun tak seorang pun telah menguburku, karena mereka belum tahu (hlm. 1). Kalimat ini tertulis penulis diawal buku ini untuk membuka sebuah cerita. Tapi, kalimat ini akan dijumpai pembaca di bab-bab berikutnya, bahkan dalam satu bab yang sama, seakan-akan penulis ingin memberitahu kepada pembaca bahwa si Aku telah mati, benar-benar mati. 

Cerita Aku dapat memengaruhi orang untuk berpikir bahwa ia juga telah mati.  Menurut Aku, kehidupan lah yang telah mebuat orang mati. Kehidupan menyajikan berbagai macam alasan seseorang untuk berusaha tetap hidup, maka manusia bergerak untuk satu tujuan yaitu tetap bisa hidup tanpa  menyadari bahwa dirinya telah diperbudak oleh kehidupan. Eksistensi manusia dalam kehidupan telah dikubur oleh hidup itu sendiri. 

Aku telah mati terkungkung oleh tuntutan-tuntutan diluar dirinya. Inilah yang mungkin dikatakan oleh Nietzsche.  Roh yang seperti unta, maka roh merindukan roh itu sendiri. Manusia bergerak bukan karena ia menginginkannya namun karena mereka terpaksa melakukannya. Merasa hidup, namun belum tentu hidup. Merasa hanyalah merasa yang orang-orang bilang fana, khayalan, ilusi dan utopis, seperti tokoh-tokoh dalam cerita ini selain si Aku. 

Cerita dalam novel ini banyak menyalahkan hidup dan hal-hal yang berada diluar diri manusia seperti pekerjaan, bahasa, perkawinan, adat dan sebagainya. Karena hal-hal tersebut dianggap membuat manusia kehilangan dirinya. rupanya adat itu seperti bahasa. Ia diciptakan manusia dan kemudian ganti menciptakan mereka, sehingga akhirnya manusia harus menurut pada calo adat, ahli adat yang bisa menyuruh-nyuruh manusia (hlm. 40). Salah satu kutipan yang dirasakan oleh Aku dalam novel Mati,bertahun yang lalu terhadap respon bahwa manusia telah diperbudak oleh yang diciptakan oleh dirinya sendiri. 

Dalam hal ini, rupanya alur cerita yang dibuat terlalu pesimis dan memisahkan antara aktor dan struktur. Ada anggapan bahwa struktur atau hal-hal diluar Aktor terlalu mendominasi dan menihilkan eksistensi Aktor itu sendiri. Penggambaran Aku oleh Soe Tjen terlalu berlebihan, meskipun pada kenyataan hal-hal yang diluar diri manusia banyak mendominasi manusia, contohnya seperti uang. Menurut Weber, manusia sudah menjadi objek dan digerakan oleh uang.  

Namun, menjadi dilema jika dilihat dari perspektif lain, apakah manusia benar-benar satu-satunya objek ? jika mengacu pada kutipan diatas mengenai Adat, disitu Aku mengakui bahwa adat diciptakan oleh manusia. Hal itu menunjukan bahwa sebenarnya peran manusia bukanlah menjadi objek melainkan juga subjek. Ada dualitas antara manusia dengan hal-hal diluar diri maunsia. 

Jadi, apakah manusia sudah mati ? 

Meskipun begitu, novel ini layak dibaca bahkan di 2017 ini. Tahun dimana bertambahnya hal-hal diluar diri manusia mencoba menguasai manusia, atau mungkin sudah ?

Novel ini bisa menjadi refleksi kita yang sepertinya (sudah pasti) terdominasi oleh hal-hal diluar diri kita dengan bahasa yang mudah dipahami. Dengan begitu kita dapat lebih menghargai diri kita. Namun, mungkin juga novel ini bisa membuat pembaca menjadi malas bekerja karena pembaca sudah mulai berpikir bahwa bekerja adalah salah satu bentuk penjajahan dari luar dirinya ? dan kemudian enggan melakukan apapun. Bukankah ini seperti mati juga ?

Judul Buku: Mati, bertahun yang lalu

Penulis: Soe Tjen Marching  

Penerbit: Gramedia 

Tahun Terbit: Cetakan I, Oktober 2010

Tebal: 153 halaman

ISBN 978-979-22-6345-9

(Adiningsih) 

LPM DIDAKTIKA
Up Next

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *