Sumpah Tak Menyerah Jenderal Soedirman 

Comment

Siapa yang tak kenal dengan Jenderal Soedirman? Seorang jenderal sebagai peletak pertama fondasi ketentaraan tampaknya memang tertancap kuat pada alam bawah sadar bangsa Indonesia. Sang Panglima Besar yang terikat sumpah: Haram hukumnya menyerah bagi tentara. Karena ikrar inilah sang panglima besar menolak bujukan Soekarno untuk berdiam di Yogyakarta

Tepat 19 Desember 1948 Yogyakarta dibombardir Belanda. Dengan durasi lebih kurang tujuh jam. Akhirnya Yogyakarta runtuh dan otomatis belanda menduduki Yogyakarta secara paksa setelah 3 tahun lamanya Indonesia merdeka. Hal inilah yang menyebabkan Soedirman bergerilya. Meninggalkan rumah yang sudah menjadi tempat rehatnya selama 3 bulan. Pergi ke medan gerilya.

Dwitunggal Soekarno-Hatta saat itu ada di Yogyakarta terdiam setelah mengetahui Belanda melancarkan Agresi Militer II pada 19 Desember 1948 yang dipimpin oleh Jenderal Simon Spoor, Panglima KNIL, yang diperintah untuk merebut Yogyakarta dengan sandi Kraai Operatie. TNIpun dipukul mundur namun dengan situasi seperti itu para pengikut Soedirman Tjokropranolo, Latief Hendraningrat, Soepardjo Roestam,  Soeprapto, serta dibantu oleh A.H. Nasution dan T.B. Simatupang yang membantu lewat markas. Tak tinggal diam mengetahui peristiwa itu. 

Kecewa Adinda di Perang Gerilya merupakan salah satu bab yang menceritakan hubungan Soedirman dan Soekarno yang tidak berjalan dengan mulus (Hal. 107). Dan bahkan Soedirman berniat mengundurkan diri dari militer. Apa yang menyebabkan Sang Adinda (Soedirman) yang kecewa kepada Kanda (Soekarno) ?

Kecewanya Sang Jenderal bukan karena alasan sepele. Namun kekecewaannya yang ditengarai oleh keputusan para pemimpin sipil di sidang kabinet. Sehinggal membuat Soedirman penasaran terhadap hasil sidang kabinet. Itu sebabnya, ia menunggu di luar ruangan. Ternyata sidang kabinet memutuskan tidak akan mempertahankan Yogyakarta.  Pemimpin sipil tidak bergabung dengan Soedirman, yang hendak berperang gerilya, membuat dia kecewa. Soekarno mengajak Soedirman untuk tetap berada di Yogyakarta. Ia berjanji mengontak komandan Belanda agar Soedirman dirawat di rumah sakit. Tawaran itu ditolak mentah-mentah oleh Soedirman. 

Apakah yang menyebabkan Soedirman menolak ajakan Soekarno? Karena sang Panglima Besar sudah terikat sumpah untuk tidak menyerah. Dengan separuh paru-paru, ia memimpin gerilya. Selama delapan bulan lamanya ia ditandu keluar masuk hutan. Sesuai dengan sumpahnya. Tak salah jika Soedirman dicap sebagai seorang Panglima. Seorang MARTIR (orang yang berani berjuang sampai mati demi mempertahankan kepercayaannya)

Siasat Nomor 1 sebenarnya sudah dijalankan setelah penyerbuan Belanda ke Maguwo. Soeharto sendiri yang mengumpulkan pasukan di Yogyakarta sambil berkeliling berjalan kaki. Dan sesuai perintah Soedirman agar meminta sultan untuk berkoordinasi dengan Komandan TNI setempat. Ya, koordinasi tersebut benar terjadi sebagai buktinya Sri Sultan Hamengkubuwono IX dan Soeharto bertemu empat mata. Membahas Strategi Serangan Umum (SU). 

Serangan umum 1 Maret dimulai pukul 06.00 WIB sesuai dengan kesepakatan Soeharto dan Sultan. Pasukan menggunakan janur kuning yang diikatkan di leher, kepala, ataupun tangan sebagai simbol keselamatan. Pasukan akan keluar pada saat terdengar suara sirine di samping pasar Beringharjo (Hal 52).

Ya benar saja kota Yogya berhasil dikuasai oleh TNI dengan gemilang. Serangan umum 1 Maret ini berhasil mengunci Yogya selama 6 jam, Dari pasukan bala bantuan Belanda yang mencoba masuk dari luar Yogya untuk membantu pasukan yang ada di kota tersebut. Dan juga keberhasilan TNI yang diteruskan ke pemancar Radio Rimba Raya, Aceh, yang kemudian menyebar ke seluruh dunia.

Mata dunia kembali melihat Indonesia. Dampak lainnya yaitu delegasi Indonesia di Perserikatan Bangsa-Bangsa menggelora semangatnya untuk mengobarkan dan memperjuangkan keberadaan bangsa Indonesia. Namun disini masih abu-abu tentang siapakah sang inisiator SU 1 Maret. Apakah Soedirman. Soeharto. Atau Sri Sultan?

Sejarawan Asvi Warman Adam mengatakan,  selama orde baru buku-buku dan film dibuat untuk mengkultuskan Soeharto dalam SU 1 Maret.  Namun menurut Soekotjo, apapun kontroversi perihal SU 1 Maret yang pasti kehebatan Soeharto dalam memimpin serangan militer tersebut memang tak terbantahkan. Soeharto menurutnya, mampu membangkitkan moral ribuan prajurit yang sudah tercerai-berai dari kesatuannya. Dikatakan Soekotjo pula,  Soedirman juga memuji ketangguhan Soeharto. 

Soedirman, Hamengkubuwono IX, dan Soeharto, memiliki satu kesamaan: tak banyak bicara. Sebab bagi mereka, kala itu yang penting Indonesia bisa merdeka. 

Judul :  SOEDIRMAN : SEORANG PANGLIMA, SEORANG MARTIR

Pengarang:  TEMPO

Penerbit: PT. Gramedia  Jakarta

Tahun terbit: 2016

Halaman: 160 Halaman

(Budi Firdaus) 

LPM DIDAKTIKA
Up Next

Related Posts

Discussion about this post