Namaku Arthur

No Comment Yet

karya : Faisal Bahri

 

Namaku Arthur, nama Inggris yang diberikan oleh ayah. Nama itu bukanlah nama seorang manusia lelaki maupun perempuan,melainkan nama seekor beruang putih.Tertanggal 17 Juni 1987, Belum lama aku dikembalikan ke Daratan Alaska dari fasilitas penelitian yang ditutup karena tidak diberi biaya untuk melanjutkan penelitian Beruang Kutub. Masih teringat jelas seorang peneliti Russia sekaligus manusia yang kupanggil ayah, Anatoly Boris. Dialah yang menanamkan implant microchip di kepalaku. Hasilnya aku bisa mengerti Bahasa Manusia dan Bahasa alay mereka dengan perangkat computer mutakhir, namun tidak mampu berbicara seperti manusia karena lidah beruang tidak dirancang tuhan untuk menggunakan Bahasa Manusia.

Doktor Boris, orang yang menyelamatkan ku dulu, ia membeliku waktu waktu tubuhku masih kecil dan memberikan rumah yang nyaman. Ia Merupakan orang yang baik untuk standar Orang Russia. Dia menjelaskan arti kasih sayang melalui tindakanya keibuannya padaku (walaupun ia jantan). Ia juga sempat mengajarkan Bahasa-bahasa Dunia. Ia sanggat bangga pada beruang yang mampu menyaingi manusia, terlebih lagi karena kemampuan ini adalah ciptaan tanganya.

Rumah sampai aku mencapai kedewasaan adalah fasilitas berteknologi canggih dibangun di kota tersembunyi ciptaan pemerintah. Ditujukan khusus untuk membuat dan mengembang segala sesuatu yang berhubungan dengan senjata guna menyaingi musuh. Ruangan untuk ku adalah kandang yang nyaman dengna pendingin ruangan yang diatur dengan rotasi per musim. Tiap tanggal dalam jangka tahun memiliki ciri khas suhu yang berbeda memanjakan bulu-bulu putih indahku. Tidak banyak beruang yang bisa ku ajak bermain dan berkeluarga. Waktu aku masih kecil ada 50 ekor beruang dewasa dan beberapa anak beruang yang dikurung, tiap jangka waktu tertentu satu ekor dibawa menuju ruangan putih dan tidak pernah kembali. Waktu aku yang digiring menuju ruangan itu, aku terbius. Lalu begitu bangun aku kembali ke kandangku, dan pikiranku penuh dengan hal-hal asing.

Sampai tiba hari, aku dihadapkan ke petinggi Russia. Semampu mungkin aku melakukan hal yang diperintahkan doktor. Dari mulai merangkai bait puisi yunani, menjabarkan kalkulus, dan menjelaskan pemikiran wanita. Sampai disini dingin Alaska menusuk sampai ke dalam ruang lemak tubuh, masih tergambar jelas, wajah orang-orang besar yang kecewa pada Doktor Boris hari itu.

“Kau kami perintahkan untuk membuat senjata, bukan membuat ini,”

“Tapi tuan, dengan benda ini. Kita bisa membuat manusia super untuk melawan Amerika dan..”

“Doktor, tidakkah kau lihat. Yang engkau ciptakan adalah penyalahan dari kodrat tuhan”

Berakhirlah perkara dengan pembubaran penelitian tersebut. Doktor Boris dilarang melanjutkan program implant micro chip karena Kremlin tidak menyetujui tentaranya kehilangan jati dirinya. Sampai saat ini aku tidak mengerti maksud dari ucapan-ucapan itu, namun berkat itu akhirnya aku dibawa ke tanah kelahiranku. Bulan Juni adalah musim kawin para beruang putih, seperti yang tertulis di buku itu aku harus mengikuti bau harum ini sampai puluhan kilometer. Terkutuklah insting binatang, namun tetap kupenuhi karena tubuhku bergerak sendiri meskipun akal ku menyatakan bahwa ini adalah hal bodoh untuk mengikuti nafsu untuk kenikmatan sementara berupa kawin.

Ciptaan tuhan selalu berjalan dalam lingkaran nafsu yang terus berputar. Kita harus berjalan lebih cepat dari lingkaran itu dan akhirnya bebas dari lingkaran nafsu duniawi. Namun seperti itu berlaku untuk manusia dan sejenisnya agar bisa hidup sederhana dan merakyat jauh dari gelimang harta yang membutakan mata. Aku seekor beruang nampaknya tidak sesuai menerapkan ajaran tersebut karena dengan kawin aku mendapat kenikmatan dan menambah populasi beruang kutub yang  memakan daging (manusia).

Setelah beberapa kilometer hembusan angin yang membawa salju memukul tubuh yang berlemak ini. Beberapa saat mulai kudengar alam seakan menyanyikan sebuah lagu untuk seekor beruang yang kesepian ditengah badai salju berusaha keras mencium bau betina yang dijanjikan dunia padaku. Lolongan serigala memainkan melodi seperti seorang desperado dipermainkan dengan lantunan harmonika dan gitar cowboy. Beruang ditakdirkan menjadi makhluk penyendiri. Semasa hidupnya ia habiskan berjalan mengelilingi gurun es, berenang, mencari makan dan mencari pasangan hidup,bila beruntung.

Kenyataan ini membuat ku ingat saat hangat, Doktor menonton Film Old Westren  dengan ku, yang banyak menceritakan tentang Cowboy yang bertualang hanya ditemani oleh kuda dan bedil setianya. Hal ini tentu merupakan pelanggaran aturan untuk menonton film produksi barat, namun dengan menyogok orang yang tepat. Barang-barang mewah produksi negara barat bisa dimiliki, Doktor juga memberi tahuku bahwa ini adalah bentuk kemunafikan Orang Eropa Timur dibawah tirai besi. Tahun 80 adalah saat-saat Hollywood membuat karya-karya besar seperi Terminator dan Terminator II.

“Thur, aku lebih takut dunia berakhir sebelum mereka membuat lanjutan dari Terminator.” Katanya setelah mencapai akhir film. Aku hanya mengiyakan dengan bahasa gaul beruang, Tapi betul memang ucapan pak tua itu, ia sendiri takut jika harus menghadapi dunia dimana roket-roket meluncur seperti kembang api tahun baru tapi pakai ledakan dan radioaktif. Pasti itu adalah salah satu alasan dia mengembalikan beruang ini kesini.

Doktor Boris selalu bercerita mengenai kebebasan, memang manusia cenderung menginginkan hal yang tidak ia miliki. Beberapa hari yang lalu ada Presiden Amerika yang menjual kebebasan pada Eropa Timur. Walaupun harganya begitu mahal untuk dibeli, pasti Doktor ingin sekali membelinya, paling tidak sedikit meminjam dari barat.

Sudah lebih dari 20 Km. Tentu saja tulang kaki ini merasa letih, namun bau harum ini makin kuat di udara. Setiap langkah yang kuambil membuatku makin yakin ada seekor betina yang cantik diujung sana, inikah yang dinamakan cinta?.

“Bukan, ini insting bego,” seruku pada diriku sendiri , tentunya menggunakan Grammar beruang.

Sudah aturan “Insting” untuk tidak makan selama perjalanan suci ini. Selapar apapun perut ini harus kutahan sampai diujung. Aku memutuskan untuk menamakan pemilik bau harum ini “Guinevere” atau “Genny”. Itu adalah nama seorang Gadis Inggris yang dinikahi Raja Arthur. Tapi sialnya dia selingkuh dengan anak buahnya sendiri, Lancelot. Seketika aku menyesali diriku sendiri yang diberi nama Arthur.

Selesai membayangkan ke seksian si betina, aku dihadapkan perkara sulit. Ada dua orang anak remaja manusia, dikejar oleh sebangsa ku. Beruang kutub yang lapar. Aku memiliki akal manusia yang berpikir bahwa makhluk dua kaki itu superior dibanding makhluk lain. Karena tidak seperti hewan atau tumbuhan jika mati hanya mengeluarkan suara dan jeritan aneh lalu mati. Sementara manusia jika mati ada musik dramatis dan keluarga yang menangisi mereka.

Tubuhku bergerak cepat, bahkan berlari. Hasilnya, tubuhku menabrak beruang lapar itu, aku mencoba berdiri menunjukan dominasi dan melakukan gerak memukul seperti petinju dunia. Aku pikir aku menyalahi kodrat alam. Alhasil beruang lain tidak takut, malah terlihat bingung lalu marah. Sekarang tubuh yang dipukul, aku memukulnya balik. Rangkaian serangan itu dilanjutkan cakaran kuat kearah mata kanan. Terlihat bercak merah diatas putih-putih salju dan bulu.

AKu enggan mengeluhkan rasa sakit. Sebagai serangan balasan aku berlari lagi kearahnya sampai tubuhnya terlempar dan terpeleset di es licin. Belum selesai aku mengahmpirinya lalu menyerangnya dengan cakaran tepat di mata kanan, lalu menggigitnya di leher sampai terluka. Ia berusaha melepaskan diri, akupun lelah menggit dan melepaskannya. Dengan tatapan marah ia pergi menjauh

Sekarang waktu itu melihat manusia-manusia itu. Ternyata mereka masih disana, kaki si pria terkilir. Ia tidak bisa jalan, sementara si adik hanya menangis disampingnya. Aku mendekat perlahan, sebisa mungkin agar tidak membuat mereka takut. Kupikir aku sendiri cenderung berguna untuk manusia karena sebaik-baiknya hewan dan tanaman yang berguna bagi manusia. Tanpa tujuan apapun terus kudekati kedua anak itu. Tidak kusangka ia memasang wajah takut, Si adik sudah melempari ku dengan salju putih. Aku merendahkan tubuh, memberi punggung untuk ditunggangi.

Tanpa kusangka, si kakak mengeluarkan sesuatu dari balik pakaian dinginya. Selongsong pistol, tanpa sempat berpikir terdengar suara bubuk mesiu yang terbakar dan timah panas menuju ke arahku. Tepat diantara pundak kanan, Rasa sakit memicu perasaan marah. Aku mengaum begitu keras sampai rasa sakitnya menghing dari syaraf. Namun tidak kunjung hilang, walau telah habis nafasku untuk mengaum.

Begitu kusadari dua anak itu mati-matian berlari. Aku pun memutuskan kembali ke jalur awal, jalur bau Guinevere sedikit meredakan jeritan syaraf kepedihan.  Aku berpikir banyak hal layaknya manusia seutuhnya. Pernah ada batinku menjerit ingin lahir sebagai manusia, setelah dipasangi benda ini. Namun setelah ku pelajari sejarah tertulis manusia, tentunya aku berubah. Apalagi setelah kejadian ini. Peluru kecil ini akan tersisa disini sampai seumur hidupku, sebagai saksi bisu idealistis Arthur si beruang putih.

Akhirnya setelah beberapa hari bau semakin kuat, namun tubuh semakin lemah. Dan kutemukan dia hari itu dipantai es. Hormon-hormon lepas bagaikan kuda perang yang dipecut. Pandanganku dipenuhi ilusi keindahan,kaki tangan ku dipenuhi energi semu, dan aku berlari ke arahnya mengikuti takdir yang telah diberikan alam semesta. Tapi gak secepat itu sayangnya, sebelum bisa membuat keturunan beruang saat kenaikan hawa nafsu. Ada battle royal antar penjantan tangguh untuk memperebut si betina.

Betina spesies manapun memang merepotkan, Jika menjelaskan manusia betina pasti cerpen ini akan sepanjang 20 lembar. Meski begitu Beruang betina tidak sembarang melakukan ini. Beruang hidup di dunia yang keras dan dingin, ia ingin hanya beruang jantan yang tangguh dan unggul jadi imam untuk anak-anaknya.

“Betul, Guinevere. Itulah aku, Arthur,”

Pertarungan pun pecah. Otot-otot yang lemah dipaksa adu pukul dengan beruang lain (yang mungkin juga lelah). Aku berdiri diatas tua kaki bagaikan seorang prajurit yang tangguh, kugerakan kaki depan yang menjadi tangan mencakar dan rahang tajam yang mengoyak semampu mungkin. Berhasil ku paksa ia menyerah, dan menjauh dari calon istriku.

Tapi tugas ku belum selesai. Aku harus mengekor pantatnya sampai ia ijinkan aku untuk menyentuhnya. Harus kulanjutkan perjalanan ini. Ia berjalan kearah matahari mulai terbenam, daratan yang lebih tinggi. Rasa sakit dari serangan beruang dan peluru tadi masih terasa betul melukai dagingku, meski begitu tetap kuikuti hatiku.

Lalu datanglah sosok dari masa lalu. Beruang dengan wajah yang kuingat jelas. Ia tampak begitu ekstrim raut wajahnya, otot dan tulang wajahnya mengukir raut amarah. Beberapa kali ia mengaum seperti Singa di National Geography begitu lebar memperlihat barisan gigi tajam setajam silet. Aku mencoba tenang seperti seekor panda cina, saudara jauhku.

Ia pun berlari ke posisiku, aku telah siap. Dengan sigap ku melompat lalu membalas serangannya. Ia cukup melukai ku parah. Salju putih ditetesi merah darah mamalia.

“Kau telah mengambil mangsaku waktu itu, dasar pencuri” Walaupun ia tidak benar-benar mengatakan itu, entah kenapa aku menerjemahkan aumannya demikian. Setelah pergulatan diatas bumi yang bulat, aku bisa mendaratkan cakat dimata kanannya, meninggal bekar cakaran yang nampak keren namun pasti sakit.

Ia belum juga menyerah. Dengan satu mata yang aktif efektif, dia mendorong tubuhku. Menggunakan taring yang tajam untuk membuat luka baru.Ia berhasil, sekarang aku beruang menjadi beruang merah putih. Dengan sisa kekuatan aku memberontak, kudeta ku berhasil menjatuh dominasi musuh. Giliranku menggunakan gigitan sampai ia menggunakan kekuatan penghabisan dan memilih pergi. Berhasil diriku melihat ia memutas tubuhnya lalu lari. Ia menatapku sekali dari jauh dan menghilang sebelum gelap.

Sampai titik ini tugas ku belum kelar juga. Guinevere telah menemukan goa hasil pergerakan tektonik, goa yang hangat, private, gelap , dan ada pintu masuknya. Lalu kemudian kami berdua tertidur saat waktunya untuk tidur. Waktu pagi datang aku yakin 9 bulan lagi keturunanku akan diturunkan oleh tuhan. Di penghujung jalan kami berpisah, Guinevere akan melahir dan mengurus anak-anak itu sendirian. Memang begitu aturan kami para beruang, tidak bisa kusalahkan dan kritisi hanya menerima.

 

LPM DIDAKTIKA
Up Next

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *