Kok Demo Lagi?

No Comment Yet

karya Ahmad Sajali*

 

Kok Demo Lagi?

Gue kira semua selesai ketika ada permintaan maaf dari Ronny.

Maaf yang hadir bukan di momen idul fitri.

Tapi karena kritik kampus sendiri berujung ancaman diluluskan dini tanpa harus susah payah garap skripsi.

 

Kok Demo Lagi?

Gue kira semua selesai ketika rencana gila 15 juta tak jadi nyata.

Rencana yang bisa saja melenyapkan suka cita lulus penmaba.

Saat-saat yang membuat orang di sekitar, ibu, bapak, kakak, adik, om, tante  sanak saudara, para tetangga, guru, teman, musuh, kepala sekolah dari SD sampai SMA ikut merasa bangga.

 

Kok Demo Lagi?

Gue kira semua selesai ketika Anies-Sandi dinyatakan menang Pilkada DKI.

Oh lupa, ternyata barisan aksi hari ini bukanlah FPI, melainkan FMI.

Bukan demo soal penistaan agama, sengketa sembako pilkada, ribut-ribut buzzer dunia maya. Memang demo ini juga soal pemimpin, pemimpin kampus dengan inisial D, J, A, A, L dan I.

 

Kok Demo Lagi?

Gue kira semua selesai ketika terkumpulnya suara masyarakat lewat petisi.

Suara yang bicara soal kebebasan berekspresi, anti komersialisasi, hingga soal tranparansi dan antikorupsi.

Tapi nyatanya semua itu tak membuat sang pimpinan bergeming, belasan rekan seprofesi dilapor ke polisi, anak istri diajak berpraktek kolusi.

 

Kok Demo Lagi?

Gue kira semua selesai ketika kehidupan kampus normal kembali.

Tapi memang tak pernah ada yang normal hingga hari ini.

Buktinya masih berantakan pelayanan dan hak yang kita semua terima sampai saat ini, masih sedikit yang kita semua bisa banggakan dari kampus yang ada di ibukota negeri, masih begitu alergi untuk bisa transparan membuktikan kepada kita semua bahwa dirinya dan kampus ini bersih.

 

Kok Demo Lagi?

Gue kira semua selesai nanti saat harinya tiba politik rezim dan kebijakan berganti. Ganti!.

Maka tolong jangan ada kata maaf keluar dari Pak Ubed dan rekan-rekan pengajar yang telah menyampaikan kegelisahan dan kebenaran dengan amat berani.

Agar kita semua bisa tunjukkan bahwa di kehidupan, maaf itu keluar dari yang salah, dari dia yang keliru dan amat perlu instropeksi diri.

Maka tolong jangan ada takut bagi rekan-rekan pekerja yang haknya dibuat terkatung dan nasibnya dibuat menjadi buntung.

Agar kita semua bisa tunjukkan bahwa kampus sebagai kumpulan manusia bisa menghargai nilai kemanusiaan bagi jiwa-jiwa yang ada di dalamnya.

Maka tolong jangan ada mundur bagi rekan-rekan mahasiswa yang tak pernah lelah memperjuangkan kebaikan di kampus tercinta.

Agar kita semua bisa tunjukkan bahwa yang benar adalah benar, yang salah harus mengaku salah, ilmiah dan keadilan serta integritas di atas segalanya, dan bahwa berjuang tidak pernah sebercanda itu, sebercanda maaf untuk menghilangkan suara gerakan yang siap untuk menjawab dengan gembira saat ditanya pacar, gebetan atau mantan

 

Kok Demo Lagi?

 

 

*penulis adalah mahasiswa program studi Pendidikan Geografi dengan NIM 4315111495

 

LPM DIDAKTIKA
Up Next

Related Posts

Komentar