Kemerdekaan, MPA, dan Gosip seputar Petinggi UNJ

No Comment Yet

RAWAMANGUN  –  Jarum pendek jam belum tepat menunjuk angka  12, namun perayaan Hari Kemerdekaan Indonesia di Universitas Negeri Jakarta (UNJ), kamis (17/8/2017), telah berakhir.

Yel-yel dari calon mahasiswa baru (camaba) Fakultas Ilmu Olahraga (FIO) 2017/2018 masih terdengar saat peserta perayaan beranjak dari Lapangan UPT Perpustakaan UNJ.

Perayaan hari kemerdekaan tersebut dihadiri oleh Rektor UNJ Djaali dan jajarannya, juga dihadiri oleh beberapa Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM)  dan camaba pada 17 Agustus 2017. Perayaan diakhiri dengan yel-yel dari camaba FIO dan lagu nasional.

Tak hanya peserta dari beberapa UKM yang meninggalkan tempat upacara itu, demikian pula jajaran rektorat, termasuk Rektor UNJ.

Di lapangan, tersisa Camaba FIO. Mereka harus melanjutkan Masa Pengenalan Kampus Olahraga (MPKO). “Pelaksanaan MPKO sdah sejak selasa kemarin,” ujar Aditya, Anggota Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) FIO.

Sementara itu, terlihat Djaali dan Wakil Rektor III Achmad Sofyan Hanif serta dua petinggi UNJ lainnya berjalan menuju Gedung Rektorat. Sesampainya di depan gedung rektorat mereka tampak  berbincang-bincang.

Beberapa reporter Didaktika kemudian  menghampiri Djaali dan Achmad Sofyan. Setelah bersalaman, mereka pun berbincang tentang sejumlah isu yang sedang hangat di UNJ. Satu diantaranya adalah tentang isu plagiarisme. Djaali tak berkomentar tentang isu ini.  Akhirnya, reporter Didaktika meninggalkan Djaali dan Achmad Sofyan. Sedangkan Djaali dan Achmad Sofyan berbincang-bincang kembali.

Reporter Didaktika pun kemudian menunggu Wakil Rektor I Bidang Akademik  Muchlis Rantoni Luddin. Di lapangan, Camaba pun bertambah. Tak hanya dari FIO, melainkan juga Camaba Fakultas Teknik dan Fakultas Ekonomi. Pada hari bersamaan, mereka mendapat pengarahan (briefing) dari seniornya tentang Masa Pengenalan Akademik (MPA). “Briefing dilaksakan dari pukul 7 pagi tadi,” kata Athallah camaba Fakultas Teknik.

Saat camaba berseragam batik berbaris mengikuti pengarahan, Muchlis terlihat berjalan di depan Gedung Rektorat.  Reporter Didaktika langsung menghampirinya dan meminta waktu untuk wawancara. Muchlis memberikan ijin untuk diwawancarai. Isi perbincangan dengan Muchlis beragam, mulai dari MPA hingga kultur akademik.

Tak lama, datang lima orang memakai baju batik yang sama dengan Muchlis dan menghampirinya. Muchlis pun meminta izin untuk untuk berbincang dengan lima orang tersebut.

“Ayo foto dulu sama calon rektor baru, sebelum dia naik,” ujar salah satu dari mereka, yang lainnya terkekeh sambil menghampiri Muchlis dan berjajar mengambil posisi untuk berfoto.  Satu-satunya lelaki dari kelima orang itu memfoto keempat perempuan berkerudung dengan Muchlis. Setelah berfoto, keempat perempuan itu kembali tertawa kemudian melingkar dan melanjutkan obrolan bersama Muchlis. Sementara itu, reporter Didaktika menunggu di belakang lingkaran obrolan para petinggi kampus untuk melanjutkan wawancara dengan Muchlis.

“Jangan lupa fakultas untuk Ilmu Kesejahteraan Keluarga (IKK),” celetuk perempuan yang satu-satunya memakai kerudung paling panjang.

Selain itu, terdengar juga perbincangan mengenai beberapa dosen, salah satunya adalah  tentang isu kedekatan Muchlis  dengan mantan ketua Jurusan Sosiologi. Dengan nada mengejek dan bercanda, perempuan pertama yang mengajak foto tadi berbicara dengan semangat membahas dosen tersebut. Perbincangan itu keluar cukup keras sehingga terdengar oleh reporter Didaktika. Seperti sebelumnya, obrolan tersebut diikuti oleh tertawa setelahnya, kali ini semakin menyeringai.

Hampir 15 menit mereka berbincang-bincang dan berakhir dengan saling memberi salam perpisahan kepada Muchlis.

“Masih mau lanjut?” tanyanya kepada Reporter Didaktika.

“Tadi sepertinya seru banget pak, obrolannya,” ujar seorang reporter.

Muchlis menanggapi, “iya biasalah.”

Muchlis pun kemudian berbicara tentang UNJ yang akan membuka fakultas baru, katanya, untuk menambah daya tampung masyarakat  Indonesia yang ingin memasuki perguruan tinggi.

Menurut Muchlis, dari sekian banyak masyarakat Indonesia hanya beberapa ribu yang dapat tertampung perguruan tinggi negeri dan swasta.

Selanjutnya, Muchlis menanggapi isu kedekatan dirinya dengan seorang doesen jurusan sosiologi (jurusan tersebut kini terpecah menjadi Prodi Pendidikan Sosiologi  dan Sosiologi Pembangunan).

“Itu sih cuma omongan local polical  saja. Biasa, kalau mau menjelang pemilihan rektor atau dekan baru kan suka banyak penyebar-penyebar gosip,” ujarnya. Ia juga menambahkan isu-isu seperti ini dikeluarkan untuk menjatuhkan citranya. “Mungkin orang bingung mau nyerang saya pakai apa karena saya kan kuat di akademik, jadi lewat perempuan.”

Reporter Didaktika pun tersenyum menampakan gigi mendengar penjelasan tersebut. Setelah itu perbincangan bersama Muchlis kembali ke topik utama. Sementara itu,  camaba masih berbaris di depan gedung Dewi sartika dan R.A Karini.

 

Yulia Adiningsih

LPM DIDAKTIKA
Up Next

Related Posts

Komentar