Tandus, Imagi Diri dan Hasrat Revolusi

Comment

 Oleh: Sahat Farida*

 

Biar/ Biarlah kita terbang mengawang/ menari ketawa di ujung jiwa/ Biarlah kita tenggelam di dalam jurang/ menjerit mengerang di dasar cita/ 

 

Kutipan dari sajak Ilham II, yang menjadi pembuka buku Tandus, edisi lainnya dari karya S. Rukiah yang diterbitkan ulang oleh Ultimus di tahun 2017.  Berisi 34 sajak dan 6 cerita pendek. Buku ini pertama kali diterbitkan oleh Balai Pustaka. Buku inilah yang mengantarkan S. Rukiah sebagai perempuan pertama yang mendapatkan Hadiah Sastra dari Badan Musyawarah Kebudayaan Nasional tahun 1952. Pemenang lainnya didominasi oleh pria seperti Pramoedya Ananta Toer, Mochtar Loebis dan Utuy Tatang Sontani.

Bunga, musim, matahari, laut, ombak, jam dan piano, kertas, pena, hati, pemuda dan kekasih. Masih berlatar suasana revolusi, sajak–sajak yang disuguhkan memaparkan kisah cinta, cinta personal yang tenggelam untuk cinta yang lebih luas, “Aku bagimu hai Negara”. Mempertanyakan diri, mempertanyakan hidup, mempertanyakan nilai.  Menggugat norma seperti tertuang dalam sajak Kehilangan Surga, yang mengimajikan manusia pertama, Adam dan Hawa, lelaki dan perempuan. Sepertinya, Rukiah menarasikan dirinya sendiri, sebagai perempuan yang menjadi penyaksi dan merasakan langsung hempasan perubahan zaman.

“… adakah nikmat bila hidup pernah merasakan beban berat percintaan?” sajak Dengan Satu Bacaan.

Mak Esah menjadi kisah pembuka setelah melewati kumpulan sajak. Lepas dari kolonial Belanda, tak berarti keluar dan segera bangkit dari masa kelam. Perang, revolusi, kemiskinan, kelaparan, kepedihan. Masyarakat abangan yang memuja Tuhan dengan menebarkan kasih sayang agar diberikan kedamaian dalam kehidupan. Tidak ada dosa, maka tak ada alasan Tuhan untuk memberikan hukuman. Cinta tidak perlu alasan, pada Tuhan lah semua itu dipertanyakan.

Pada Istri Prajurit, Rukiah menggambarkan sosok perempuan yang hidup dalam limpahan kasih sayang orangtua dan memiliki pandangan untuk kemajuan. Ia melihat dan belajar bagaimana kelak menjalankan hidupnya. Siti, memuja bapaknya, memuja suaminya. Pendamping hidup, guru, teman, tempat kepada siapa ia berperan dan berkembang. Mendukung segala tindakan meski pedih menyayat perasaan. Begitulah seorang perempuan berkorban, pengorbanan perempuan dalam imaji Rukiah melalui Siti.

Tidak ada narasi yang menceritakan perempuan yang terlibat di medan perang, berjibaku dengan pasukan gerilya. Di lingkungannya, di masanya, sepertinya memang tak lazim. Ruang paling dominan yang diberikan adalah pelayanan kesehatan dan kemanusiaan. Bukan angkat senjata, Rukiah dan imajinya memilih pena. Di narasi ini, kesetaraan hanya sekali disampaikan, bahwasanya perwakilan perempuan tidak melulu mewakili kelompok keputerian.

Seperti kisah Antara Dua Gambaran. Sakit hati harus ditelan lagi oleh tokoh utama, perempuan. Ati yang memuja dan mencinta Irwan. Lelaki bergelora yang mencintai hidup dan merasa rugi apabila mati. Namun toh akhirnya mati karena revolusi. Ia menikah dengan Tutang sosok yang digambarkan sebagai intelektual, pemuja ilmu, pengetahuan yang dibutuhkan untuk kelangsungan gerak revolusi. Sesama rekan yang menjadi pelengkap Irwan. Antara Dua Gambaran seperti versi ringkas Kejatuhan dan Hati, dalam setting yang lebih minimal. Perempuan dalam kepura-puraan laiknya seorang puteri perjuangan yang rela ditinggal kekasih yang menjadi pahlawan.

Surat Panjang Dari Gunung,  Ceritanya Sesudah Kembali dan  Sebuah Cerita Malam ini. Masih bercerita tentang cita dan cinta. “Cita-cita, jika ada sesuatu cita-cita yang tidak meleset, itu bukan cita-cita lagi namanya. Tiap cita-cita mesti mengalami perjuangan kemelesetannya. Siapa yang berani bertahan dalam kemelesetan cita-citanya, dialah pahlawan cita-cita.” Asmara perempuan dengan pasukan gerilya, yang membingkai hidup seperti kehendak bebasnya sebagai manusia, namun kembali mentah karena realita. Kebimbangan akan pilihan-pilihan, kemajuan diri ataukah kemajuan massa.

Jika rakyat yang bodoh dan tidak berkesusilaan ditinggalkan, lantas siapa yang menemani untuk kemajuan mereka? Begitu sepertinya pesan yang hendak disampaikan melalui fragmen Sebuah Cerita Malam Ini. Rika, dalam kesakitannya menginginkan perkawinan namun juga mempertanyakannya. Betapa malunya, jadi manusia rumah yang kerjanya makan, tidur, berpakaian, jalan-jalan, kawin, punya anak kemudian tidur lagi sepanjang malam. Rika, yang terpaksa menyendiri, berperang dengan hati sendiri, kemudian hati itulah yang repot terbunuh dengan tak pernah ada kepuasan.

Siti, Ati, Isti, Nursewan, dan Rika, adalah persembahan Rukiah untuk manusia yang harus dibaca.

 

*Sahat Farida – Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kota Depok

LPM DIDAKTIKA
Up Next

Related Posts

Discussion about this post