Bedil, Kuman, & Baja (1/2)

Comment

oleh : Wisnu Adi Wibowo*

 

Berawal dari penelitian arkeologisnya mengenai evolusi burung di Papua Nugini pada 1970-an, Jared Diamond mendapat sebuah pertanyaan yang cukup mencengangkan bagi dirinya. Seorang politikus lokal, bernama Yali, bisa dibilang membuat suatu pertanyaan yang cukup mendalam sekaligus dapat membongkar paksa kembali susunan teori filsafat sejarah spekulatif (setidaknya sampai pertengahan abad ke 19) untuk dapat menjawab inti yang paling dasar bagi sejarah panjang riwayat masyarakat manusia.

Kenapa kalian orang kulit putih membuat banyak barang berharga, sedangkan kami orang kulit hitam tidak pernah sekalipun memikirkannya sampai sejauh itu?

Sepintas pertanyaan tersebut amat sederhana. Namun, faktanya memang sungguh rumit untuk sekadar mencoba menjawabnya. Pertanyaan tersebut mengingatkan kita pada jawaban rasis sewaktu Indonesia masih berada dalam masa kolonialisme Belanda. Kita, kaum Bumiputera yang berkulit cokelat, sudah sewajarnya bodoh. Sedangkan, Belanda yang berkulit putih sewajarnya menjadi insan pandai nan cerdik!

Terlepas dari jawaban yang masih diselubungi diskriminasi rasial euro-sentris, Jared Diamond dalam buku Guns, Germs, & Steel mencoba menjawab dengan perspektif berbeda. Bahwasanya,  sepanjang riwayat setiap suku bangsa memiliki benturan-benturan yang berbeda pada setiap waktu yang dilalui sampai wilayah yang mereka singgahi. Dengan begitu, ada kemungkinan bahwa perbedaan taraf kemajuan seluruh suku bangsa dapat kita lacak pada beribu-ribu bahkan berjuta tahun silam.

 

Dari Garis Start, Eksperimen Sejarah Alami, Menuju Bentrokan di Cajamarca

Kiranya sekitar tujuh juta tahun silam, populasi kera Afrika terpecah menjadi gorilla modern, simpanse modern, dan kera pra-manusia. Proses evolusi struktur anatomi tubuh manusia menunjukkan hasil pada sekitar 4—2,5  juta tahun lalu. Kemudian membentuk tiga fase koloni berbeda yakni Australopithecus africanus, Homo habilis, dan Homo erectus. Fase yang disebut terakhirlah yang kiranya bereksodus ke seluruh belahan dunia selama jutaan tahun sekaligus berevolusi secara genetik. Hal ini diperkuat adanya temuan fosil-fosil Homo Neanderthalensis (Eropa)  dan Homo Javanicus (Jawa).

Namun, kiranya 40.000 tahun silam, koloni Neanderthal di Eropa secara sengaja diusir, diinfeksi, bahkan dimusnahkan oleh sekelompok manusia Cro-Magnon—yang beranatomi manusia modern, keterampilan bahasa lebih mumpuni, serta bersenjata maju. Fase ini dinamakan oleh para ahli arkeologi dengan sebutan fase lompatan jauh ke depan. Skenario fase lompatan jauh ke depan merupakan proyeksi penyebaran kawanan manusia modern ke segala penjuru dunia. Berawal dari kolonialisasi Erasia raya, Australia, pasifik, sampai Amerika kemudian menyebar terbalik kembali ke Erasia.

Namun, sampai saat ini masih menjadi perdebatan pelik bagi kalangan ahli, mengenai daerah mana yang lebih awal dikolonialisasi oleh Cro-Magnon sehingga memperoleh kesempatan start lebih awal untuk membangun peradabannya sampai sekiranya pada 11.000 SM di mana munculnya domestikasi hewan maupun tumbuhan pertama kali.

Pada sub-bab selanjutnya Jared Diamond melompat ke pembahasan mengenai perbedaan karakter kepemilikan teknologi (dipengaruhi oleh produksi pangan yang dideterminasi oleh kondisi ekologi), serta keterisolasian sebuah pulau berimbas pada penumpasan berdarah suatu suku (Moriori) di kepulauan Chatham atas suku lain (Mori) di Selandia Baru. Jared seakan ingin menunjukkan bahwa faktor lingkungan memiliki dampak lebih terhadap perkembangan produksi dan selanjutnya teknologi persenjataan yang kemudian hal demikian ia sebut sebagai fenomena sejarah alami.

Pada sub-bab selanjutnya, Jared beralih untuk mengkonstruksi pikiran pembaca dengan suatu studi kasus sejarah penaklukan kekaisaran Inka oleh Spanyol pada abad ke-15. Spanyol yang dipimpin oleh Pizzaro membawa serta 160 prajurit lengkap dengan persenjataan bedil, pedang, dan rompi baja, serta teror epidemi cacar api. Rupanya, itu semua dapat menumpas pasukan kaisar Atahualpa yang berjumlah lebih dari 80.000 orang.

Jared seakan membawa kita menuju ke sebuah pertanyaan yang serupa seperti Yali: bagaimana bisa Spanyol menaklukan Inka dengan 160 prajurit? Bahkan pertanyaan lain timbul, bagaimana bisa Colombus dapat menemukan benua Amerika yang memancing Pizzaro dan perajuritnya berhadapan dengan Inka di Cajamarca? Bukannya Inka-lah yang menemukan benua tempat berdirinya kekaisaran mereka lalu menaklukan Spanyol di Eropa dengan 80.000 prajuritnya?

 

Kemunculan dan Penyebaran Produksi Pangan

Berdasarkan analisis Jared di atas mengenai perbedaan kepemilkan teknologi suku Mori dan Moriori, ia menyimpulkan bahwa perbedaan tersebut didasarkan atas faktor geografis (berkaitan erat dengan penyebaran ekologi hewan serta tanaman domestik, maupun keterisolasian kepulauan Chatham suku Moriori yang berimbas pada nihilnya hubungan produksi dilluar kepulauannya) yang menjadi dampak perbedaan kepemilikan teknologi. Lantas, faktor dalam hal apakah yang menjadi penyebab perbedaan tersebut? Jika memang kondisi bio-geografis, kondisi bio-geografis yang bagaimana?

Dalam analisisnya, Jared menyinggung mengenai persoalan produksi pangan yang ia anggap sebagai prasyarat bagi berkembangnya bedil, kuman, maupun baja. Dengan alasan bahwa hanya dengan produksi pangan berlebihlah yang menyebabkan gaya hidup menetap kemudian berdampak pada semakin banyak jumlah kawanan dan memicu unifikasi politik (struktur masyarakat yang semakin kompleks). Seiring dengan berkembangnya domestikasi hewan pada 8000 SM (seperti sapi, domba, kuda, ayam, dll.) serta gaya hidup bercocok tanam pada 8500 SM—yang diperkirakan muncul secara mandiri di daerah Bulan Sabit Subur, Cina, Mesoamerika, Andes, dan kemungkinan Papua—membawa  dampak perubahan signifikan terhadap teknologi, pengembangan struktur birokrasi kekuasaan, bahkan ideologi.

Kemunculan produksi pangan pertama kali di wilayah tersebut kemudian menyebar, baik melalui difusi maupun berupa penaklukan. Sampai pada tahap ini, kiranya kita kembali terteror oleh sebuah pertanyaan, bagaimana bisa kemunculan produksi pangan berkembang di beberapa belahan dunia, sedangkan di tempat lain tidak?

Produksi pangan tanpa adanya iklim, kondisi kesuburan tanah, kontur geografis wilayah, sampai pada peneyebaran tanaman maupun mamalia besar yang menguntungkan sebagai penunjang  produksi pangan membuat masyarakat hampir di beberapa wilayah masih berada pada fase pemburu-pengumpul, bahkan lebih parah lagi yaitu ditaklukan.

Kiranya, untuk menjawab apakah geografi memiliki andil dalam proses produksi pangan, kita dapat masuk ke salah satu wilayah yang pertama kali menerapkan sistem domestikasi tumbuhan (8500 SM) yaitu Bulan Sabit Subur. Wilayah Bulan Sabit Subur (Asia Barat Daya) terletak di zona yang beriklim Mediterania, berciri musim dingin yang sejuk dan basah, serta musim panas yang panjang, menyengat, dan kering. Iklim itu menyeleksi spesies-spesies tumbuhan agar dapat bertahan melalui musim kering dan cepat kembali tumbuh saat hujan turun kembali. Mereka menjadi tumbuhan setahunan. Artinya, mengering sendiri dan mati pada musim panas.

Keunggulan lain, zona Mediterania tersebut memiliki banyak ragam ketinggian dan topografi dalam jarak pendek. Ini memastikan keanekaragaman lingkungan, yang kemudian berperan sebagai calon nenek moyang tanaman dan hewan pangan. Untuk domestikasi hewan di wilayah tersebut, Jared mencatat, paling tidak ada 4 mamalia besar yang memungkinkan untuk diternak yaitu: sapi, kambing, babi, dan kuda.

Lalu bagaimana dengan Papua? Di bagian pesisir Papua, memang memperoleh asupan pangan dari penangkapan ikan ataupun kerang. Lalu, bagaimana kondisi penduduk dataran rendah maupun dataran tinggi? Jared mengemukakan bahwa di Papua kekurangan mencolok pada ketersediaan bahannya di alam: tidak ada tumbuhan asli yang berupa padi-padian yang di sebagian wilayah sudah mulai didomestifikasi. Karena hal itu, masyarakat Papua cenderung untuk memanfaatkan tanaman pangan akar-akaran dan pohon (talas, sagu pisang). Untuk domestikasi hewan, justru lebih parah. Ketiadaan cikal-bakal mamalia besar menghambat laju penernakan hewan di Papua. Yang ada hanyalah burung moa, kasuari dengan berat 50 kg, dan kangguru dengan 25 kg—yang tidak memungkinkan untuk diternak.

Masyarakat dataran rendah maupun dataran tinggi Papua memiliki ciri fisik bengkakan pada perut yang menandakan ketiadaan sumber protein . Jared mengakui bahwa pemburu-pengumpul di Papua juga mengembangkan produksi makanan secara mandiri. Namun, dibatasi oleh ketiadaan tanaman padi-padian sehingga mengakibatkan kekurangan protein ekstrim yang nantinya menghammbat laju perkembangan masyarakatnya. Berdasarkan kesimpulan Jared, keterbatasan makanan di Papua tidak ada kaitannya dengan orang Papua, tetapi kondisi ekologinya.

 

Identitas Buku

Judul Buku : Guns, Germs, & Steel

Penulis         : Jared Diamond

Terbit           : Agustus 2016

Tebal            : xiv + 624 halaman

 

(1/2)

 

*WISNU ADI WIBOWO, mahasiswa UNJ Pendidikan Sejarah 2015

 

 

 

LPM DIDAKTIKA
Up Next

Related Posts

Discussion about this post