Bedil, Kuman, & Baja (2/2)

Comment

oleh : Wisnu Adi Wibowo*

 

Dari Makanan ke Bedil, Kuman, dan Baja.

Bagaimana teror bakteri muncul, lalu berevolusi menjadi epidemi cacar api kurang ajar sehingga dapat membunuh banyak kalangan Inka saat ditaklukan Spanyol? Menurut Jared, salah satu penyebabnya adalah berkembangnya sistem agrikultur. Dengan adanya agrikutur, dapat mengartikan pada kita bahwa masyarakat akan beralih ke gaya hidup menetap serta menjaga tingkat kenaikan jumlah populasi.

Gaya hidup menetap memaksa kita harus tinggal bersama-sama dengan kotoran kita maupun hewan ternak. Bakteri yang ada pada kotoran, bahkan siput yang membawa skistosomiasis di sistem irigasi kita, akan menembus kulit sewaktu menebarkan kotoran sebagai pupuk atau sedang melintasi genangan air yang bercampur dengan kotoran. Bakteri akan berevolusi untuk mendapatkan inang baru sekaligus berkembang biak menggunakan media tubuh kita.

Namun, masyarakat di wilayah yang pertama kali muncul sitem domestikasi hewan maupun tanaman,  merespon dengan membuat penawar bagi wabah bakteri itu. Kemudian tubuh pun merespon untuk memproduksi imun sehingga tubuh cenderung lebih kebal terhadap penyakit yang telah terdeteksi. Hal inilah yang membuat Spanyol—ketika sampai ke Cajamarca—membawa sisa bakteri di dalam tubuh mereka. Bakteri ini kemudian menyebar ke dalam tubuh masyarakat lokal (Inka) yang cenderung tidak memiliki resistensi tubuh terhadap bakteri baru tersebut.

Dalam hal teknologi, masyarakat yang telah mengembangkan sistem agrikultur cenderung menghasilkan struktur masyarakat pekerja purnawaktu. Ini dapat diartikan bahwa mereka mendapat hasil produksi makanan berlebih dan memiliki waktu lebih banyak, serta terspesialisasi dalam kegiatan produksi ketimbang masyarakat pemburu-pengumpul.

Seiring dengan peningkatan populasi dan keterbatasan wilayah, menyebabkan seseorang  memiliki jam kerja purnawaktu sehingga menghasilkan pembaharuan. Kemudian cenderung mengekslusifkan diri menjadi golongan birokrat dan memicu unifikasi politik di wilayah itu (mulai adanya stratifikasi sosial, penciptaan lembaga politik serta sentralisasi kekuasaan). Kehadiran birokrat sebagai alat pengkontrol jalannya hubungan antar individu serta mengatur jalannya kegiatan produksi, menghasilkan suatu bentuk kebudayaan masyarakat yang mengenal tulisan.

Namun, penciptaan tulisan secara mandiri tidak semudah apa yang kita bayangkan. Penciptaan tulisan sebagai suatu bentuk kebudayaan baru benar-benar memaksa sang penciptanya memutar otak. Hal ini disebabkan, sang pencipta harus tahu betul bagaimana cara memotong bahasa lisan menjadi satuan-satuan lisan (satu  kata, suku kata, ataupun fonem). Kemudian mereka harus mencari cara untuk merepresentasikan berbagai bentuk suara  abstrak ke dalam satuan-satuan simbol atau logografik (silabari). Tingkat kesulitan pembuatan tulisan yang cukup tinggi membuat kemunculan tulisan secara mandiri terhambat hanya di beberapa daerah, seperti Cina, Mesoamerika, Fenisia, Kreta, dan sebagainya. Penciptaan kebudayaan tulisan yang rumit pada akhirnya di wilayah yang tak bisa mengembangkan tulisan secara mandiri harus mengadopsi aksara (cetak biru aksara).

Pada perkembangannya, sitem tulisan pada mulanya hanya digunakan secara terbatas hanya di golongan birokrat untuk menghitung penerimaan pajak. Ini mengingatkan penulis pada sebuah kata milik Claude Levi-Strauss, penciptaan bahasa kuno pertama kali hanya memfasilitasi perbudakan-perbudakan manusia. Penggunaan dan keterbatasan pengguna tulisan awal tampaknya menunjukkan mengapa tulisan muncul sedemikan lambat dalam evolusi manusia. Sebab, yang terlibat dalam penciptaan aksara hayalah masyarakat yang terstratifikasi sosial dengan lembaga politik kompleks dan tersentralisasi.

Tulisan awal dibuat demi memenuhi kebutuhan lembaga-lembaga politik (semisal pencatatan data pajak, dan propaganda istana atau ideologisasi), dan penggunanya adalah golongan birokrat purnawaktu yang melahap simpanan makanan berlebih hasil budi daya para petani yang memproduksi makanan. Tulisan tak pernah dikembangkan atau diadopsi oleh masyarakat pemburu-pengumpul, sebab mereka tidak memiliki kebutuhan institusional bagi tulisan awal maupun mekanisme sosial dan agrikultural untuk menghasilkan kelebihan pangan yang dibutuhkan oleh juru tulis.

Dengan demikian, produksi makanan dan ribuan tahun evolusi masyarakat setelah mengadopsi produksi makanan, merupakan hal yang sangat diperlukan bagi perkembangan terciptanya tatanan pemerintahan, evolusi mikroba, membuat persenjataan untuk melakukan penaklukan, sampai evolusi aksara. Kehidupan bagi wilayah-wilayah yang memiliki keterbatasan ekologi bernasib pada minimnya taraf kemajuan di daerah itu. Seperti halnya di Papua. Kondisi tanpa sebaran jenis hewan mamalia besar hingga tanaman padi-padian, dan bahkan kondisi geografis di pulau Papua yang berhutan lebat dan bergunung-gunung (yang dapat diartikan minimnya daerah lapang untuk kegiatan bercocok tanam serta menernak kasuari sehingga menopang jumlah populasi) menyebabkan masyarakat Papua tidak mengenal lembaga kekuasaan tersentralisasi yang berwenang atas wilayah Papua. Namun, penulis ingin menambahkan bahwa apa yang disebutkan tidak begitu saja menjadi menjadi patokan utama yang menyebabkan tidak berkembangnya masyarakat di beberapa wilayah. Penaklukan, imperialisme, kolonialisme, sampai etika kapitalisme juga berperan besar dalam ‘mandek’-nya taraf kemajuan di wilyah-wilayah tertentu.

 

(2/2)

 

*WISNU ADI WIBOWO, mahasiswa UNJ Pendidikan Sejarah 2015

LPM DIDAKTIKA
Up Next

Related Posts

Discussion about this post