Ironi Fasilitas Difabel

Comment

Beberapa mahasiswa reguler dan mahasiswa difabel merasa kurang terpenuhinya fasilitas untuk penunjang mahasiswa berkebutuhan khusus di kampus Universitas Negeri Jakarta

Berdasarkan data dari Koordinator Pusat Perkembangan Akademik dan Layanan Disabilitas tahun 2017 Universitas Negeri Jakarta (UNJ) memiliki mahasiswa difabel berjumlah 17 orang, diantaranya tunarungu, tunadaksa, tunanetra, autisme dan hambatan motorik. Tetapi, fasilitas yang dibangun saat ini masih sangat memprihatinkan.

Hal ini dirasakan oleh salah satu mahasiswa tunanetra yang bernama Febrian Dwi Putra mahasiswa Pendidikan Luar Biasa (PLB) angkatan 2017. Ia berpendapat, belum semua gedung memenuhi standar untuk kebutuhan mahasiswa difabel. “Di Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) terdapat beberapa fasilitas penunjang seperti ram (bidang miring) namun fasilitas tersebut belum menyeluruh,” ungkapnya

Febrian juga menambahkan, ia sering mengalami kesulitan karena huruf-huruf braille yang tersedia belum memadai di setiap gedung. “Memang ada, tetapi hanya di beberapa tempat saja,” ujar Febrian.

Selaras dengan Febrian, Dwi Ramadany mahasiswa PLB 2017 juga berpendapat bahwa masih ada ketidakadilan dalam fasilitas yang diberikan untuk difabel contohnya seperti belum adanya pembangunan guiding block. “Hal ini akan berdampak pada mahasiswa tunanetra yang masih suka tersesat di dalam kampus,” ucapnya. Dwi kembali melanjutkan cerita, ada salah satu kejadian mahasiswa tunanetra yang pernah tercebur ke dalam selokan karena terdapat selokan yang belum ditutup.

Senada dengan pendapat diatas, Dewi Justitia, dosen pengampu Mata Kuliah Perkembangan Peserta Didik UNJ mengungkapkan bahwa kenyataannya kampus ini belum mempuni untuk menerima mahasiswa difabel. Dari sisi kebijakan, pembangunan di kampus ini hanya memprioritaskan pada mahasiswa reguler. Dalam proses perkuliahan pun, masih terdapat beberapa dosen yang belum mampu untuk mengajar mahasiswa difabel. Dikarenakan UNJ terdapat  2 tipe dosen yaitu dosen tetap dan dosen undangan atau dosen pengganti. “Dosen undangan tidak dibekali ilmu untuk mengajar mahasiswa difabel dikarenakan dosen tersebut hanya fokus terhadap keahlian bidang studi yang dia miliki,” katanya.

Berawal dari kemirisan akan hal tersebut, komunitas relawan disabilitas hadir di UNJ pada 2007. Keberadaannya cukup membantu mahasiswa difabel. Namun, komunitas ini dibentuk bukan dari keinginan pihak birokrat. Aida Jamila salah satu relawan mengatakan komunitas ini bersifat independen tanpa campur tangan pihak UNJ. “Dengan adanya relawan disabilitas yang dibentuk tanpa dukungan dari kampus ini seharusnya UNJ tergerak dalam membangun fasilitas difabel,” ujar Aida.

Saat dimintai keterangan mengenai fasilitas untuk difabel, Kamandoko selaku Kepala Bagian Perencanaan mengatakan, “tidak ada anggaran khusus untuk pembangunan fasilitas difabel dan dananya terbatas.”

Padahal, Undang-undang Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas secara umum memuat dua hal besar, yaitu hak penyandang disabilitas dan kewajiban berbagai pihak untuk memenuhi hak tersebut. Pada pasal 10 menyatakan bahwa penyandang disabilitas memiliki hak untuk mendapat pendidikan yang bermutu pada satuan pendidikan disemua jenis, jalur, dan jenjang pendidikan secara inklusif.

Dalam UU No. 28 tentang Bangunan Gedung dan Peraturan No. 30/PRT/M/2006 tercantum teknik pelaksanaan penyediaan fasilitas dan aksesbilitas bangunan umum. Pada bagian kedua tentang persyaratan teknis fasilitas dan aksesbilitas pada bangunan gedung dan lingkungan meliputi: ukuran dasar ruang, jalur pedestarian, jalur pemandu, arena parkir, pintu, ram, tangga, lift, lift tangga, toilet, pancuran, wastefel, telepon, perlengkapan dan peralatan kontrol, perabot dan rambu serta marka.

 

Penulis : Prisila Emine Fitri; Didit Handika

Editor : An Nissa Nur Istiqomah

LPM DIDAKTIKA
Up Next

Related Posts

Discussion about this post

%d blogger menyukai ini: