Lahir dan Mati Berkali-kali

Comment

Identitas buku

Judul : Kerumunan Terakhir

Penulis : Okky Madasari

Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

Tahun : 2016

Jayanegara ialah seorang mahasiswa tingkat akhir yang tak berniat mengakhiri kuliahnya dengan mendapat gelar. Jayanegara sudah tak mempercayai pendidikan bisa memperbaiki moral seseorang mengingat sang Bapak yang profesor lulusan luar negeri tak lagi peduli pada rumah tangganya. Kerap berhasrat pada perempuan-perempuan muda bahkan pacar anaknya sendiri.

Hidup luntang lantung adalah perlawanan Jayanegara terhadap kemapanan Bapaknya. Tanpa penghasilan, Jayanegara tebal muka menumpang di indekos sang kekasih, Maera. Tak hanya itu, telinga Jayanegara juga teruji tahan direndahkan Meira yang berprofesi sebagai wartawan dengan obsesi kesuksesan di Ibu kota.

Lain Jayanegara, lain pula dengan Matajaya. Seorang fotografer yang sedang menemani kekasihnya kuliah di Amerika. Seorang yang gagah berani memukul bolak-balik sang Bapak yang dengan enteng melakukan praktik nepotisme di kampusnya.

Tetapi, Jayanegara adalah Matajaya. Matajaya adalah Jayanegara. Keduanya dihadirkan oleh Okky Madasari dalam novel kelimanya, Kerumunan Terakhir –selanjutnya akan disebut KT. Sastrawan pemenang Khatulistiwa Literary Award ini memang akrab dengan isu-isu sosial kontemporer. Lirik saja 86, novel yang membahas tentang praktik korupsi dan KPK. Tiga judul lainnya, Entrok, Maryam, dan Pasung Jiwa juga mengangkat isu sosial yang berbeda.

Kekalahan Jayanegara pada dunia lamanya membuat ia melahirkan Matajaya. Seorang sosok virtual dari Jayanegara, yang berhasil membuatnya merasakan ‘kejayaan’ di dunia baru. Melalui Matajaya, Jayanegara bisa merasakan didengar dan berkawan. Dua hal yang luput dari kehidupannya di dunia lama.

Dunia baru ini telah memberiku keberanian dan kepercayaan diri untuk bertemu dan berkenalan dengan banyak orang. di mana ada orang-orang berkerumun, di sana aku singgah dan menghabiskan waktuku berjam-jam. Layaknya seorang pengunjung warung kopi, aku bergabung bersama orang-orang yang sudah datang sebelumnya, mendengarkan orang bicara untuk menunggu kesempatanku bisa bicara. (hlm. 93)

Dunia baru yang dimaksudkan ialah media sosial. Namun dalam penulisannya, Okky tidak memisahkan antara kehidupan Jayanegara dengan Matajaya. Membedah novel ini, akan sangat sulit bila dikotomi dunianya kita sebut dengan dunia maya atau nyata. Sebab keduanya sama-sama nyata.

Kondisi sosial yang ditangkap oleh Okky ini disebut oleh Jean Baudrillard sebagai simulasi, sebuah proses di mana representasi suatu objek menggantikan objek itu sendiri. Sedangkan ruang sosialnya sendiri disebut simulakra. Jayanegara sadar bahwa yang disukai oleh ratusan jempol itu adalah Matajaya, namun ia bisa merasakan kegagahannya. 

Aku hidup di dunia baru ini dengan sebuah identitas: Matajaya. Orang yang menghajar bapaknya sendiri yang profesor itu. (hlm. 112)

Namun simulasi sendiri bukan tercipta hanya pada diri mereka yang melahirkan diri baru. Berbeda dengan Jayanegara, Maera lebih memilih tampil apa adanya. Ia terlahir di dunia baru sebagai orang yang sama. Meski begitu, dunia baru justru dirasanya memberi ruang lebih leluasa. Kekalahannya atas obsesinya mengejar kemapanan di ibu kota ia lampiaskan dengan ratusan pengikut di dunia baru. Maera bangga sekalipun yang ia bagikan adalah fantasi liarnya mengenai seks.

Dunia baru justru harus memunculkan kita. Bukan membuat kita tenggelam dan hilang, dimatikan oleh nama-nama samaran yang kita ciptakan.” (hlm. 237)

Pada tahapan tertingginya, Baudrillard menyebutnya sebagai hiperealitas. Suatu kondisi di mana sudah melampaui realitasnya. 

Bagaimana KT menjelaskan hiperealitasnya bisa kita temukan pada satu tokoh: Akardewa. Di media sosial, kita mengenal istilah seleb. Predikat yang diberikan kepada akun yang memiliki banyak pengikut serta interaksi yang tinggi dengan akun lainnya. Dalam KT, Akardewa lah seleb itu. Akardewa menjadi penting karena melalui sosok ini para penghuni dunia baru bisa mendapat panggung. 

Sekarang nama yang begitu kukagumi adalah Akardewa. Sesuai dengan namanya ia adalah dewa. Setiap yang ia katakan adalah sabda. Apa pun yang ia ucapkan itulah kebenaran. Suaranya besar, menggaung dan bisa terdengar hingga di mana-mana, didengar dan dibicarakan di berbaga kerumunan. Ia berdiri di panggung utama, dari pagi saat mataku baru terbuka hingga nanti saat semua orang sudah terlelap. Dari penggung itu ia mengendalikan dunia. Sementara ribuan orang lainnya dengan sigap mengiyakan dan menyebarkan ulang apa pun yang dikatakannya. (hlm. 105)

Mengapa Akardewa? Ia kerap melancarkan kritik pedas terhadap kebijakan pemerintah. Ia juga bercerita mengenai keterlibatannya dalam sejumlah perang. Topik-topik yang sebenarnya dalam dunia Jayanegara sebatas obrolan bapak-bapak selepas kerja di warung kopi. Tapi dunia baru meretas batas-batas itu. Kemahiran diksi menjelmakan Akardewa sebagai sosok yang dibutuhkan negara.

Hal ini juga disinggung oleh Michel Foucault, bahwa kemunculan dan penguasaan dunia atau ruang baru tidak terlepas dari wacana kekuasaan. Hiperealitas ini terasa ketika wacana dunia baru yang dibawa Akardewa juga memenangkannya pada dunia lama.

Setelah sedikit berbasa-basi memuji sebuah akun bernama Nura, Akardewa berhasil mengajak Nura yang berasal dari Semarang ke tempat tinggalnya di Bogor. 

Aku tersenyum mendengar pujian itu. Siapa yang tak suka dipuji seperti itu. Di zaman sekarang ini lebih cantik aslinya daripada fotonya adalah bentuk pujian tertinggi. Saat setiap orang bisa membuat kulit tampak lebih mulus dan lebih putih dengan photoshop, saat berbagai filter kamera diciptakan untuk membuat tampilan foto sesuai dengan yang kita inginkan. (hlm. 129)

Pasca bertemu, Nura memang agak menyesalkan fisik Akardewa yang berbalik dari yang dibayangkan: bugar, tegap, gagah. Hanya saja Akardewa berhasil menepis penyesalan itu hingga berhasil meniduri Nura yang masih terperangkap atas wacana yang terlanjur dimakannya pada dunia baru.

Penguasaan wacana Akardewa atas dunia baru dibuktikan pula dengan ‘matinya’ akun Nura dan Maera –yang belakangan juga terperangkap seperti Nura. Kedua akun tersebut terpaksa mati ketika mencoba menyerang Akardewa yang lantas dibela pengikutnya.

Cara mati di dunia baru tidak hanya dari pembunuhan karakter seperti yang dilakukan Akardewa. Matajaya sendiri justru mati seiring dengan ditangkapnya Jayanegara atas laporan Bapaknya sendiri. 

Setelah kematian di dunia baru, baik Jayanegara maupun Maera sama-sama menyatakan jera. Keduanya berusaha lari dengan mematikan semua media sosial. Hanya saja, sepertinya Okky ingin mengingatkan kita bahwa tak pernah ada dunia yang terpisah –karena hiperealitas itu sendiri telah tercipta. 

“Mana tempat yang kamu janjikan itu? Yang katanya nggak ada internet, nggak ada HP, nggak ada orang yang kenal aku? Mana?” (hlm. 357)
Kemajuan teknologi sendiri sebenarnya sudah pernah dibahas oleh Marshall McLuhan pada 1964. Konteks saat itu ialah kemunculan televisi. McLuhan menyambut baik dengan menyebut akan terciptanya desa-desa global di mana pengetahuan tersebar luas.

Akan tetapi begitu perkembangan teknologi kian pesat, Baudrillard justru menitikberatkan bahwa televisi adalah awal mula simulasi hadir. Penggambaran era-nya sendiri setidaknya bsia dibagi menjadi tiga. Pertama zaman pra-modern, manusia menciptakan gambar-gambar mengimitasi dari aslinya. Masih nampak jelas mana realitas dan imitasi. Kedua simulasi-simulakra yang berkembang setelah penemuan fotografi di abad 19. Perbedaan antara realitas dan imitasi semakin tipis. Hingga di tahap ketiga, hiperealitas. Di mana citraan-citraan atas simulasi justru menjadi realitas itu sendiri.

Latifah

LPM DIDAKTIKA
Up Next

Related Posts

Discussion about this post