Ribuan Buku Perpustakaan UNJ Raib

Comment

Mahasiswa kesusahan mendapatkan buku karena koleksi buku di Perpustakaan UNJ tidak lengkap. Selain karena kuranganya dana untuk pengadaan buku, juga diakibatkan oleh kurangnya dana untuk membeli alat keamanan seperti alat pendeteksi buku yang menyebabkan banyaknya buku yang hilang.

Keluhan datang dari beberapa mahasiswa mengenai banyaknya buku yang hilang. Mereka kesulitan untuk mendapatkan buku yang mereka cari. Hal ini diakui oleh Aghnesia Hafaz mahasiswi Program Studi (Prodi) Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini (PG PAUD) 2017, ia tidak menemukan buku yang dicarinya. Akhirnya, ia memutuskan untuk mencari di perpustakaan Fakultas Ilmu Pendidikan UNJ, “aku bingung, dicari ke perpustakaan universitas tidak ada,”ujarnya.

Seperti halnya Aghnesia, Fahrezi mahasiswa Prodi Pendidikan Sejarah 2016 mengalami kesulitan yang sama dalam mencari buku di pepustakaan UNJ. Ia mengaku terpaksa harus mencari buku hingga ke perpustakaan Universitas Indonesia (UI) dengan meminjam kartu perpustakaan milik kerabatnya. “Kalau di perpus UNJ tidak lengkap,” tuturnya.

Kurangnya koleksi buku di Perpustakaan UNJ diakui oleh pihak perpustakaan itu sendiri. Menurut Ummi Mukminati, Kepala Tata Usaha UPT Perpustakaan, perpustakaan UNJ kekurangan dana. Dana untuk pengadaan koleksi buku yang berasal dari dana Bantuan Operasional Perguruan Tinggi Negeri  (BOPTN), tidak cair setiap tahun. Terakhir kali Perpustakaan UNJ mendapatkan dana BOPTN pada 2014.

Ketidaklengkapan koleksi buku di perpustakaan UNJ dipengaruhi juga oleh rusaknya alat pendeteksi buku dan kamera pengawas. Alat pendeteksi tersebut tidak berfungsi sejak 2000an. Sedangkan kamera pengawas rusak sejak 2014 ketika plafon perpustakaan direnovasi. Hal tersebut menyebabkan banyak koleksi buku perpustakaan yang hilang tanpa diketahui alasannya karena tidak ada kamera pengawas dan alat pendeteksi rusak.

Berdasarkan data hasil Stock Opname  pada Maret 2017 yang dilaksanakan selama kurang lebih satu bulan, terdapat 25.254 buku yang hilang dari 102.097 koleksi buku yang ada. Jumlah buku yang hilang lebih banyak dari pada buku yang dipinjam, yaitu 7.687 buku.

Seperti halnya pengadaan buku, perpustakaan tidak mampu mengganti alat pendeteksi tersebut karena keterbatasan dana. Pengadaan alat pendeteksi buku masuk ke dalam anggaran Perencanaan Operasional Kerja (POK). Tahun ini, perpustakaan mendapatkan POK sebesar 380 jutaan. Menurut Ummi, dana tersebut tidak cukup untuk membeli alat pendeteksi buku yang baru.

Ia juga menambahkan bahwa dana POK habis digunakan untuk kebutuhan dan pengadaan fasilitas yang sifatnya lebih mendesak seperti penjilidan, alat tulis kantor, kunjungan dinas, pembuatan kartu, dan seminar atau lokakarya. “Kalau dana dibelikan untuk membeli alat tersebut, banyak yang harus dikorbankan, seperti fasilitas-fasilitas lainnya tidak bisa dibeli,” ucapnya.

Komarudin selaku Wakil Rektor II Bidang Akademik dan Keuangan menyatakan bahwa ia tidak pernah mendapat laporan rusaknya alat pendeteksi buku. Ia juga berpendapat bahwa pihak perpustakaan sendiri harus bertanggung jawab atas banyaknya buku yang hilang. “Ada atau tidaknya alat pendeteksi, seharusnya Standart Operating Procedure (SOP) itu berjalan lancar,” ujarnya.

Ia juga menambahkan bahwa berapa pun anggarannya untuk alat pendeteksi buku, pasti ia akan menyetujui. “Ya, kalau untuk penunjang perpustakaan apapun bentuknya, berapa anggarannya, saya pasti menyetujui, perpustakaan kan jantungnya kampus, saya pasti menyetujui sekali demi kebaikan perpustakaan itu,” ujarnya.

Berbeda dengan Komarudin, mengenai anggaran perpustakaan UNJ, Ummi menjelaskan bahwa pihak perpustakaan sendiri sudah berulang kali mengajukan dana untuk pengadaan alat pendeteksi buku kepada pihak rektorat, namun tidak ada kejelasan dari mereka hingga saat ini. “Sudah lama kami mengajukan proposal untuk anggaran perpustakaan,” ucapnya.

Rita Jenny selaku Kepala Perpustakaan UNJ merasa prihatin terhadap kesulitan Perpustakaan UNJ untuk mendapatkan dana dari pihak rektorat. Ia mengharapkan Perpustakaan UNJ maju dalam segi koleksi buku, fasilitas, dan alat penunjang lainnya berupa server. “Kita sudah ketinggalan jauh loh dari perpustakaan kampus lainnya, seperti UI, UPI dan UIN yang maju dalam segi koleksi dan fasilitas, mereka juga maju dalam segi ilmu teknologinya,” keluhnya.

Senada dengan Rita, Ummi mengeluhkan hal yang sama. Ia juga berharap pihak birokrasi harus lebih peduli terhadap perpustakaan yang sebagai unsur penunjang perguruaan tinggi dalam kegiatan mahasiswa. Ia juga menambahkan, “jangan sampai kata-kata perpustakaan jantung universitas hanya slogan saja.”

Penulis : Tonny Priangan; Aprillia Hani

Editor : Yulia Adiningsih

LPM DIDAKTIKA
Up Next

Related Posts

Discussion about this post

%d blogger menyukai ini: