Ibadah Senin Bersama Joko Pinurbo

Comment

 

Judul Buku    : Selamat Menunaikan Ibadah Puisi

Penulis            : Joko Pinurbo

Penerbit          : PT Gramedia Pustaka

Tahun Terbit : 2016

Halaman         : 192

 

Sopirnya sepuluh,

kernetnya sepuluh,

kondekturnya sepuluh,

pengawalnya sepuluh,

perampoknya sepuluh,

Penumpangnya satu, kurus,

dari tadi tidur melulu;

kusut matanya, kerut keningnya

seperti gambar peta yang ruwet sekali.

Sampai diterminal kondektur minta ongkos: “Sialan, belum bayar sudah mati”

 

Beginilah sepenggal bebunyian puisi Joko Pinurbo yang diberi judul Naik Bus di Jakarta (hal. 42) pada tahun 99. Memang seperti inilah cara berpuisi Jokpin. Renyah namun dibuat tersenyum ketika selesai membacanya.

Pertemuan saya dengan Joko Pinurbo atau bisa disebut dengan nama teranyarnya Jokpin. Ketika hendak mencari sebuah kitab puisi dari Gunawan Maryanto saat sedang mampir di bilangan Merdeka, Bandung. Tidak sengaja, saya langsung dipertemukan oleh puisi yang memikat dengan metaforisnya, Tahilalat (hal.176). Saat itu juga saya langsung tertegun diam, lalu terbahak-bahak. Menariknya Jokpin mampu mengembangkan perspektif liris antara waktu yang melompat lompat dari puisi tersebut. Selain itu, ia tidak lupa memasukan kesederhanaa kata-kata yang menjadi andalan Jokpin dalam setiap puisinya. “Kadang tahilalat itu memancarkan cahaya selagi si ibu lelap tidurnya” Tahilalat diangkat dengan narasi bersoalkan hubungan manusia, melalui hubungan anak-ibu, ia memasukan unsur seksualitas juga sensualitas yang dilebur dengan apik. “Akankah kau menciumnya?, si ibu bertanya. Ah, tahilalat itu telah hinggap dan melekat di puting susu ibunya”

Jokpin mempunyai tempat tersendiri di riuh hati para pembaca sastra. Karena cara berpuisinya yang nakal, berlagak jenaka, namun serius dalam pemaknaannya. Ia dikenal sebagai penyair yang mengangkat hal-hal sepele. Ketika seorang Sapardi membumikan puisi-puisi romansa seperti Hujan Bulan Juni, Aku Ingin, Hatiku Selembar Daun, dsb. Jokpin malah mendobrak dunia puisi dengan Celana, Toilet, Thailalat, Asu, dan puisi jenaka lainnya.

Pada puisi Celana Ibu, ia menghadirkan keimanan pribadi seorang kristiani. Jokpin menuangkan keresahan yesus saat disalib dengan hanya menggunakan sobekan jubah, berlumuran darah, tanpa celana. Ia juga menghadirkan kesedihan sesosok maria saat melihat yesus mati di kayu salib. “Yesus bangkit dari mati, pagi-pagi sekali maria datang kekubur anaknya, membawa celana yang dijahitnya sendiri. Paskah? Tanya maria. Pas! Mengenakan celana buatan ibunya, yesus naik kesurga” (hal. 123). Jokpin seolah membawa unsur jenaka tapi tidak lupa untuk mendeskreditkan kesucian paskah. Ia juga memasukan pemaknaan matrialis didalam puisi ini, seolah celana adalah pakaian wajib untuk menuju surga. Di puisi lain, Jokpin juga senang menyenggol hal-hal yang berbau matrialis. Seperti Baju Bulan, ia menggambarkan situasi kesedihan dengan metafora baru. Menaruh seorang anak yang jauh dari sosok orang tua, mencoba mengemis baju untuk lebaran. Bulan pun iba, ia rela telanjang dilangit, atap paling rindang bagi yang tak berumah dan tak bisa pulang (hal. 114). Jokpin mencoba menyolek khalayak, bahwa hari raya bukan hanya tentang atribut kebendaan atau material baru semata. Namun juga tentang bagaimana cara mengikhlaskan keburukan-keburukan yang telah ditinggalkan. Hari raya sering hanya dimaknai sekedar pesta rohani dan perayaan. Namun tak lagi menghadirkan perenungan dan abai kepada orang-orang yg membutuhkan.

Buku ini adalah kumpulan puisi dari sehimpun puisi-puisi Jokpin. Rentan waktu 1989-2012 yang diberi judul dari salah satu frasa dalam sajak Puasa (2007) dan memuat 121 puisi.

Tak hanya kecupan-kecupan vulgar yang dibahas. Seperti kematian, jenazah, kuburan pun sempat dibahas. Seperti Celana(hal. 14), Keranda (hal. 22), Minggu Pagi di Sebuah Puisi (hal. 28), Mudik (hal. 69), Penumpang Terakhir (hal. 73), Perias Wajah (hal. 76), Bunga Kuburan (hal. 78), Panggilan Pulang (hal. 90), Celana Ibu (hal. 123), Malam Suradal (hal. 137), Kamar 1105 (hal. 167), serta Kunang-kunang (hal. 174). Ia mengingat ajal dengan cara yang berbeda, menuangkan diksi-diksi nyata secara waras diantara deretan puisi-puisinya.

Ada sekitar 62 celana yang bisa kita temukan di 17 puisinya. Tak heran Jokpin dikenal dengan sebutan penyair celana. Mungkin ia mempunyai suatu kenangan buruk atau bahkan indah dengan semua celan-celana dalam puisinya. Pada tahun 99 buku puisi pertama Jokpin yaitu Celana menorehkan warna baru pada dunia perpuisian. Dalam puisi Celana I, Jokpin menuliskan romantisme dan juga rasa syukur seorang anak kepada ibunya lewat celana “Ia ingin membeli celana baru, buat pergi kepesta supaya tampak lebih tampan dan meyakinkan. Dan ia mengakhiri dengan adegan satir melalui rasa syukur dan romantis namun tak lupa menyisikan kejenakaannya. “Lalu ia ngacir tanpa celana dan berkelana mencari kubur ibunya hanya untuk menanyakan. Ibu, kau simpan di mana celana lucu yang ku pakai saat bayi dulu?” (hal. 14)

Di Celana II (hal. 16)  Jokpin seperti mengkritik tentang ketabuan larangan dalam pendidikan seks sejak dini. Ia berpandangan bahwa bayang-bayang seks sejak kecil akan membawa diri kepada kebajikan positif dikemudian waktu. Lalu di

Celana III, ia nampak begitu tenang membahas keresahan-keresahan yang dituangkan didalam 2 puisi sebelumnya, seakan sudah mendapatkan apa yang ia inginkan. “Ia memantas-mantaskan celananya di depan cermin dengan bangga ditepuk-tepuk pantat tepos yang sok perkasa” (hal. 17)

Selain itu Jokpin juga menghadirkan 2 puisi cerpen pada buku ini, yaitu Laki-laki Tanpa Celana (hal. 91), dan Liburan Sekolah (hal. 161) tak seperti biasanya, puisi ini dihadirkan dengan narasi begitu panjang. Namun tak membuat pembaca bosan, sebab ia menaruh rasa penasaran disetiap titiknya. Dan seperti biasa diakhiri dengan tertegun diam, lalu tertawa hahahahaha.

Buku ini diakhiri dengan puisi-puisi kecil namun tidak meninggalkan kebijakan dan kearifannya. Seperti Keranjang (hal. 186), Batu Hujan (hal. 187), Doa Malam (hal. 188), Pada Matanya (hal. 189).

Dari ruang tiga kosong empat yang teduh dan sunyi, saya ucapkan Selamat Menunaikan Ibadah Puisi.

 

 

Ilham Abdullah

LPM DIDAKTIKA
Up Next

Related Posts

Discussion about this post

%d blogger menyukai ini: