Rumah

Comment

Tidak ada yang lebih mengejutkanku selain menemukan sebungkus rokok di dalam tas abang ketika aku tak sengaja menjatuhkannya. Abang tak ada saat itu. Aku segera kembali memasukan kotak putih itu dan menaruh tas di tempat semula. Apakah Abang merokok? Belum tentu juga. Ku tenangkan diriku dengan beragam kemungkinan. Bisa saja rokok itu bukan miliknya. Mungkin milik seorang teman yang terbawa.

Abang tergabung dalam Karang Taruna. Ia pandai bergaul. Tak pernah pilih-pilih teman dan kerap diandalkan. Semua orang pasti menyukai abang. Teman sekolahnya pun sering berkunjung ke rumah. Aku dan Ibu biasanya akan dengan senang hati menyediakan makanan untuk mereka.

Tapi malam itu seperti berbeda. Abang pulang lebih larut dari sebelum-sebelumnya. Aku tak mengerti mengapa matanya merah. Saat mengucapkan salam, beraneka bau keluar dari mulutnya. Dari tubuhnya tercium asap rokok yang teramat pekat. Aku masih yakin Abang tidak merokok. Bukankah perokok pasif pun akan terkena imbas bau asap rokok?

Ibu tak menemuinya malam itu. Abang langsung menuju kamar. Mungkin tertidur. Karena aku yang masih terjaga, mengkhawatirkan keadaannya dari balik pintu tak mendengar apa-apa. Hingga pagi menjelang, Abang sudah kembali menjadi seperti abang yang seharusnya. Ceria dan menciumi kening Ibu.

Ibu tidak bertanya di mana Abang menghabiskan sabtu malamnya. Ibu telah menopangkan kepercayaan yang cukup besar untuk Abang. Selain sulung, Abang yang beberapa bulan lalu sudah mendapatkan SIM (Surat Izin Mengemudi), dianggapnya sudah bisa bertanggung jawab. Karena malam tadi, aku menjadi sedikit meragu.

Abang ternyata menyadari kalau aku memiliki sejuta tanya padanya tentang semalam. Lantas dengan dalih mengajakku lari pagi, kami berpamitan. Abang memulainya dengan bertanya mengapa aku masih terbangun selarut itu.

Aku habis menonton sebuah film yang ditayangkan di salah satu televisi. Film yang tak pernah kami lewatkan untuk ditonton bersama, Harry Potter. Tapi, malam itu abang tak ada. Aku tetap menontonnya meski sendiri.

Kemudian Abang bercerita. Semalam ia dan beberapa anak Karang Taruna yang aku tak begitu mengenalnya, pergi ke pusat kota. Di sana banyak muda-mudi yang melewati malam bersama.

“Abang merokok, Sya.”

Kalimat tersebut adalah kalimat yang paling tidak ingin kudengar. Kutatap lekat-lekat kedua mata coklat yang sama dengan kepunyaanku itu. Aku merasa kejujuran ada di sana. Benar. Abang merokok. Rokok itu milik Abang.

Aku memang kaget. Namun lantas aku berpikir, lalu apa yang salah dengan merokok? Tidak. Yang harus kutanyakan justru,

“abang kenapa merokok?”

Raut wajah abang berubah. Mungkin tak menyangka aku bertanya seperti itu. Atau mungkin saja dia telah menyiapkan jawaban. Banyak mungkinnya.

“Awalnya abang hanya coba-coba dari teman kelas Abang. Lama-kelamaan abang menyukainya.”

Sebuah pengakuan yang menurutku cukup klise. Aku yang masih duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP) saja sudah terbiasa dengan alasan tersebut yang diucapkan oleh beberapa temanku yang merokok. Aku bukan membenci rokoknya. Tapi yang ku tak suka adalah teman-temanku yang perokok itu membeli rokok dengan uang saku yang diberikan orang tuanya.

Padahal orang tuanya berharap mereka menggunakan uang saku mereka dengan bijak. Sesuai kebutuhan. Makan misalnya. Dan kenyataannya mereka justru lebih mengutamakan beli rokok daripada makan.

“Abang tau kok. Makanya abang merokoknya masih jarang-jarang.”

Aku menghela napas yang terasa berat.

“Bagaimana bila Ibu tau, Bang?”

“Ibu orang pertama yang abang beri tahu.”

Aku menoleh. Kami sama-sama menghentikan langkah di depan sebuah bangku taman.

Ya, sejak Ayah meninggal, Ibu sangat berusaha menjadi orang tua tunggal yang sanggup membesarkan dua anaknya. Ibu menjadikan dirinya sebagai sahabat kami. Sehingga kami tak pernah segan bercerita tentang segala hal padanya.

“Ibu bilang, mau menjadi seperti apapun kita, di rumah, kita harus jujur. Kalau abang mau merokok, silahkan merokok juga di rumah. Agar Ibu mengenal siapa abang, sebelum orang lain yang menghakimi abang atas penilaian mereka sendiri. Jangan pernah sembunyikan apa-apa dari rumah. Jangan pula membiarkan orang lain lebih mengenal Abang daripada Ibu atau kamu, Sya. Karena dua hal itu yang paling membuat Ibu bersedih.”

Aku memang tidak sepenuhnya paham. Tapi pasti itu suatu hal yang sangat bijak yang pernah Ibu tempuh. Abang nampak berkaca-kaca mengucapkannya. Mungkin saja haru.

Kami pun memilih kembali ke rumah. Ibu pasti telah menanti bersama sarapan yang disiapkannya. Selalu.

 

Penulis: Latifah

LPM DIDAKTIKA
Up Next

Related Posts

Discussion about this post

%d blogger menyukai ini: