KMPA Eka Citra UNJ di Peringatan HSPN 2018

Comment

Sampah menjadi persoalan yang dihadapi masyarakat global. National Geographic melaporkan tiap tahunnya, kota-kota di dunia menghasilkan sampah hingga 1,3 miliar ton. Diperkirakan oleh Bank Dunia, pada tahun 2025, jumlah ini bertambah hingga 2,2 miliar ton. Manajemen sampah yang buruk, terutama di negara-negara berkembang, menjadi salah satu pemicunya. Di negara seperti Indonesia contohnya, angka pendaurulangan sampah termasuk rendah yakni di bawah 50 persen. Kesadaran untuk tidak membuang sampah sembarangan juga masih memprihatinkan. Tidak heran jika kemudian sampah mudah ditemui di Tanah Air. Tengok saja di selokan, jalanan, sungai, dan kali. Slogan “jangan buang sampah sembarangan” hanya jadi kalimat tumpul yang gagal menggugah kesadaran bahaya sampah.

Dalam laporan sebuah penelitian yang diterbitkan di Sciencemag pada Februari 2015 menyebutkan bahwa Indonesia berada di peringkat kedua di dunia penyumbang sampah plastik ke laut setelah Tiongkok, disusul Filipina, Vietnam, dan Sri Lanka. Dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa fakta tentang sampah nasional pun sudah cukup meresahkan.

Menurut Riset Greeneration, organisasi non-pemerintah yang telah 10 tahun mengikuti isu sampah, satu orang di Indonesia rata-rata menghasilkan 700 kantong plastik per tahun. Di alam, kantong plastik yang tak terurai menjadi ancaman kehidupan dan ekosistem.

Kegelisahan inilah yang menggerakkan para relawan untuk menginisiasi gerakan Indonesia Bebas Sampah 2020 pada tahun 2015 sebagai wadah seluruh komunitas lingkungan di Indonesia, khususnya yang bergerak dan peduli dalam isu persampahan. Inisiatif Indonesia Bebas Sampah 2020 terbentuk dari semangat kerelawanan dan kolaborasi dari berbagai masyarakat yang peduli untuk mewujudkan cita-cita Indonesia #BebasSampah2020 tanpa adanya kepentingan Suku, Agama, Ras, Golongan dan Politik (SARAP) apapun

Kolaborasi masal yang menakjubkan tersebut dilanjutkan dengan usaha berkelanjutan dengan diselenggarakannya Jambore #BebasSampah2020 pada 2-4 September 2016 lalu di Solo. Saat itu mengidentifikasi 13 (tiga belas) isu utama persampahan di Indonesia. Ketigabelas isu utama persampahan di Indonesia yaitu :
melalui pendidikan formal non formal,
solusi sampah di tanah atau ruang yang tidak semestinya,
upaya pengurangan sampah,
solusi sampah organik,
strategi keberlanjutan,
teknologi tepat guna,
pergerakan dan kegiatan di ruang publik,
penegakkan hukum,
kepemimpinan & kelembagaan,
solusi di wilayah-wilayah dengan akses terbatas, terpencil, terluar,
solusi sampah anorganik,
strategi pembiayaan, dan
Tempat Pemrosesan Akhir (TPA).

Terkait persoalan sampah, Hari Peduli Sampah Nasional (HSPN) dijadikan momentum untuk membangun kesadaran kolektif tentang pentingnya prinsip reduce, reuse dan recycle (3R) dalam pengelolaan sampah. Mari maknai HPSN lebih dalam dengan melanjutkan Deklarasi Indonesia Bebas Sampah dan menemukan solusi bersama terkait 13 isu persampahan di Indonesia.

Begitu pun KMPA Eka Citra Universitas Negeri Jakarta sebagai organisasi pecinta alam yang salah satu roh gerakannya adalah menjaga kelestarian lingkungan hidup, kami turut andil dalam momentum HPSN 2018. Bekerja sama dengan Komunitas Ciliwung Depok, 3 orang anggota kami yaitu Nurman (22), Brian (20), dan Mardhika (23) turun langsung dalam pengarungan sungai Ciliwung dengan kegiatan utamanya berupa operasi pembersihan sampah di sempadan Sungai Ciliwung yang mulai menumpuk, pasca aliran Sungai Ciliwung meluap atau siaga satu pada 5 Februari lalu.
Pendiri Komunitas Ciliwung Depok (KCD), Taufik DS mengatakan operasi pembersihan (24 -25 Februari 2018) difokuskan pada sempadan Sungai Ciliwung di wilayah Kota Kembang atau kawasan Green Depok City yang masuk dalam wilayah Kelurahan Depok, Kecamatan Pancoran Mas dan Kelurahan Tirtajaya, Kecamatan Sukmajaya. Mengutip perkataan Taufik DS pada WartaKota (22/2) menurutnya Pemilihan tempat tersebut berdasarkan lokasi yang mudahnya di akses warga untuk mengamati dan menikmati Sungai Ciliwung, disamping bentuk upaya KCD mendorong pemerintah agar kawasan sempadan sungai di sana dijadikan Taman Edukasi dan Konservasi Ciliwung.
Kegiatan Operasi Bersih Bebenah Ciliwung bertujuan untuk menyadarkan masyarakat bantaran sungai Ciliwung untuk tidak membuang sampah ke sungai dan sebagai edukasi akan pentingnya kawasan sempadan sungai Ciliwung.

#HPSN2018 #reduce #reuce #recycle #ekacitraunj

LPM DIDAKTIKA
Up Next

Related Posts

Discussion about this post

%d blogger menyukai ini: