Kota dalam Keterasingan

Comment

Orang-Orang Bloomington merupakan kumpulan cerpen (kumcer) yang ditulis oleh Budi Darma pada 1976 sampai dengan 1979. Kumpulan cerpen ini terdiri dari delapan cerpen yaitu: Laki-Laki Tua Tanpa Nama, Joshua Karabish, Keluarga M, Orez, Yorrick, Ny. Elbehatt, dan Charles Lebourne. Mengisahkan kehidupan perkotaan di kawasan Bloomington, Indiana, Amerika Serikat.

Cepren-cerpen yang ada di dalam buku Orang-orang Bloomington menggambarkan orang-orang kota yang individualistik, angkuh, merasa peduli tapi mencoba untuk tidak peduli. Dalam kumcer ini, Budi Darma menggambarkan pergolakan batin dari setiap tokoh dalam cerpennya dan cara yang berbeda dari mereka dalam memandang kehidupan. Setiap tokohnya cenderung egois, hal tersebut dipengaruhi oleh seluruh latar cerpen yang berada di perkotaan.

Seperti yang digambarkan dalam salah satu cepren yang berjudul “Laki-Laki Tua Tanpa Nama” digambarkan bahwa tokoh “saya” yang baru mempati loteng milik Ny. MacMillan. Tokoh “saya” merupakan tokoh yang sangat berbeda dengan kebiasaan orang-orang di perkotaan yang individualis. Tokoh “saya” sangat peduli dan suka ikut campur terhadap kehidupan orang lain. Karena sifatnya itu, tokoh “saya” banyak mengundang kemarahan para tetangga Ny. MacMillan. Bukannya menyelesaikan masalah, tokoh “saya” semakin terus membuat masalah karena sifatnya tersebut. Anehnya, tetangga yang lain sangat tidak peduli, padahal mereka yang tahu akan permasalahan sebenarnya.

Kemudian Budi Darma juga seolah mengambarkan ironi kehidupan masyarakat kota di Bloomington. Ada tiga cerpen yang motif ceritanya hampir sama yaitu cerpen Joshua Karabish, Ny.Elbehatt, dan Charles Lebourne. Tokoh utama dalam cerpen ini sama-sama membantu orang yang menderita penyakit yang kronis. Akan tetapi, tokoh utama lama-lama merasakan penyakit yang sama atau merasa dipermaikan oleh orang yang memiliki penyakit tersebut. Dampak psikologis yang digambarkan oleh Budi Darma terhadap tokohnya seperti mengisyaratkan manusia selalu dihantui rasa-rasa ketakutan, dan tidak ada hal yang tulus dalam diri manusia. Tersisa lah rasa ingin mengasihani, egois, dan ingin berkuasa.

Seperti yang sudah lazim bagi masyarakat kota pada umumnya, dalam kumcer Orang-Orang Bloomington tokoh-tokohnya digambarkan seperti orang yang kesepian. Kadang dari kesepian itu ia berprilaku aneh, suka menganggu tetangganya, iri terhadap apa yang orang lain miliki, selalu merasa curiga, dan rasa tanggung jawab yang kurang.

Seperti pada cerpen Keluarga M, tokoh “saya” adalah tokoh yang emosional, dan selalu merasa curiga. Suatu ketika tokoh “saya” melihat ada dua orang yang mempunyai ikatan saudara kandung membaret mobilnya, ia sangat marah dan kesal terhadap adik-kakak ini. Sebelumnya tokoh saya sudah sering melihat adik-kakak ini. Si kakak yang selalu bertengkar dengan temannya karena membela sang adik yang sedikit nakal. Setelah kejadian itu tokoh saya selalu memperhatikan adik-kakak ini. Karena tokoh saya sangat dendam kepada adik-kakak ini, ia melakukan berbagai cara untuk membalaskan dendamnya termasuk mecelakakan dan membuat adik-kakak beserta keluarganya yang harmonis pindah dari lingkungannya.

Apa yang digambarkan Budi Darma dalam kumcer orang-orang Bloomington sangat realistis dan dekat dengan kehidupan masyarakat yang ada di kota. Motif-motif cerita yang disajikan mungkin hal-hal yang kecil dan kadang sering kita lakukan tetapi, kita tidak sadar bahwasannya hal tersebut bisa sangat berpengaruh. Ironi memang hidup di kota yang ramai, akan tetapi orang-orang di dalamnya merasa kesepian. Kota menuntut masyarakatnya selalu cepat melupakan hal-hal kecil yang berharga.

Jika Budi Darma dalam kumcer Orang-Orang Bloomington menceritakan perspektif kota di Bloomington, Eka Kurniawan dalam Novel O menceritakan kebengisan kota di Indonesia. Novel O merupakan novel Eka yang diterbitkan tahun 2016. Gaya penulisan dalam novel ini lompat-lompat, dari menceritakan satu tokoh Eka bisa langsung beralih ke cerita tokoh yang lainnya.

Hampir sama selayaknya Budi Darma, Eka menggambarkan kehidupan kota dengan jujur. Eka mengisahkan kisah-kisah kaum-kaum marjinal kota. Seperti pemilik sirkus topeng monyet, pemulung, preman, penyanyi ibu kota, dan pemakai narkoba. Eka menghadirkan ironi-ironi yang ada di kota. Dimana kota yang dianggap modern tapi masyarakatnya justru masih percaya hal-hal tahayul dan mitos-mitos. Seperti monyet O yang percaya bahwa ia bisa menjadi manusia dan tokoh Betalumur yang menjadi babi ngepet.

Ironi yang selanjutnya dihadirkan oleh Eka adalah orang miskin harus kalah di kota. Seperti yang terjadi pada Ma Kungkung yang merupakan istri Mat Angin seorang pemulung, tetangga Betalumur. Pada saat awal ke Jakarta ia diperkosa oleh segerombolan laki-laki. Begitu pula yang tejadi pada O, ia harus rela disiksa sering kali oleh Betalumur. O sering kali dicambuk jika tidak mengikuti kemauan Betalumur. Betalumur juga mengalami tekanan dari kehidupan di kota, ia merasa tersisih. Maka, sering kali ia mabuk-mabukan, dan menyiksa O sebagai pelampiasannya.

Eka dalam novel O juga seolah menggambarkan kehidupan orang kota semakin membuat manusia dan binatang tidak ada bedanya. Manusia yang seperti kita tahu memiliki akal budi yang lebih dari hewan seakan dibinasakan oleh kehidupan kota. Binatang ingin menjadi manusia, manusia ingin menjadi binatang. Nilai moral antara yang baik dan yang benar juga ikut terbinasakan.

Budi Darma dan Eka Kurniawan dalam hemat saya sama-sama menggambarkan kebobrokan kehidupan di perkotaan. Budi Darma menggambarkannya melalui kota Bloomington di Indiana yang terlihat lebih mapan sebagai sebuah kota, akan tetapi dampak psikologi terhadap masyarakatnya masih patut dipertanyakan apakah kota membuat masyarakatnya terasing? Lalu melalui perspektif Eka Kurniawan dalam novel O yang menggambarkan kota di Indonesia yang belum mapan. Maka, Eka menghadirkan banyak ironi kemiskinan dan penderitaan dari setiap masyarakat kotanya.

Sepertinya saya akan sepaham dengan sebait lirik lagu Balada Harian milik Silampukau.

“Kota tumbuh kian asing kian tak peduli dan kita tersisih di dunia yang ngeri dan tak terpahami ini”.

Kota telah menjadi sesuatu yang sifatnya absurd, moral manusia mungkin di sini harus dipertanyakan kembali. Karena kota tidak mengenal mana yang baik dan mana yang buruk. Yang ada hanyalah mana yang menang dan mana yang kalah.

 

Penulis: Uly Mega Septiani 

Editor: Muhammad Muhtar

LPM DIDAKTIKA
Up Next

Related Posts

Discussion about this post

%d blogger menyukai ini: