Reaksi Cepat BEM UNJ

No Comment Yet

Tidak seperti  Senin, 29 Januari 2018, mahasiswa tidak nampak berkumpul untuk melakukan orasi atau membantu warga mengemas barang-barang karena, tempat tinggalnya  dihancurkan alat berat pada Selasa pukul 10.15. Warga Kampung Laskar, Jalan Pemuda Rawamangun digusur, pontang-panting warga mengemas apapun yang bisa mereka bawa keluar rumah. Pukul sembilan gerbang depan telah dijaga oleh petugas yang melarang warga untuk masuk walau hanya sekedar untuk menyelamatkan barang yang tersisa. Salah satunya Sutinah, wanita berusia 52 tahun sempat dihalangi saat menuju rumahnya lantaran alat berat sudah mau beraksi merobohkan rumahnya. Pada akhirnya petugas mengantarkan Sutinah, namun ia tidak bisa menemukan banyak hal yang bisa diambil dari rumahnya karena sudah dijebol. Tak jauh berbeda dengan Sutinah, Suminih, wanita 50 tahun asal Indramayu tidak tahu kemana ia harus membawa barang-barang yang telah ia selamatkan.

Terpaksa warga yang telah terusir, harus mencari tempat tinggal lain untuk menaruh barangnya. Ketidakpastian nasib warga kampung itu yang kebanyakan pendatang bukanlah urusan mahasiswa Universitas Negeri Jakarta (UNJ). Tujuan perguruan tinggi yang tercantum dalam tri darma perguruan tinggi adalah pengajaran, penelitian, dan pengabdian masyarakat. Bersama-sama turun ke jalan dan berorasi nampaknya tidak terlalu masuk ke satupun poin tri darma tersebut, apalagi menggunakan almamater hijau memenuhi jalan menyebabkan kemacetan. Meski begitu Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UNJ berupaya untuk melakukan sesuatu yang bertema membela rakyat kecil, patut diapresiasi secukupnya.

Perjuangan BEM untuk memperjuangkan keadilan bagi rakyat kecil yang diawali dengan isu penggusuran kawasan kumuh nan padat samping UNJ. Maka BEM UNJ menghampiri  lokasi, lalu memutuskan untuk berhadapan dengan aparat berwajah garang. Mereka meminta para polisi untuk meninjau kembali putusan penggusuran. Tidak perlu sok bersikeras mengarahkan massa beralmet untuk mempertahankan posisinya bersama rakyat kecil melawan ketidakadilan koorporasi besar atau mengkaji sebab musabab kenapa kampung kumuh dipadati oleh orang-orang yang membayar mahal tiap bulannya, berada di posisi tengah tidak memihak sekedar meminta aparat untuk meninjau kembali sudah syukur berhasil dipenuhi.

”Target aksi kita bukan untuk menghalangi penggusuran, tapi menegahi masyarakat dan polisi,” ujar Rakha Ramadhana, kominfo BEM yang tersenyum pada saat diwawancarai tim Didaktika pada 1 Februari 2018.

Aksi BEM menunjukan keberanian total untuk maju dengan cepat dan sigap, tidak perlu mengajak perkumpulan mahasiswa lain toh mereka paling akan menuntut hal-hal dasar seperti hak rakyat untuk hidup, tanggung jawab negara, atau isu pembangunan yang tidak merata sehingga penduduk berdatangan memenuhi ibu kota.  Tidak sok mengadvokasi atau sekedar mempertanyakan realita penindasan toh memang begitu cara kerja dunia ini. Cukup berada di tengah, dan berada di posisi aman. Dengan ini terbukti pernyataan BEM kurang merakyat adalah keliru, memang rakyat mana yang dimaksud? Apakah rakyat sendiri sudah memBEM?

Teriakan dan semangat militan bersama dengan pekik ”hidup mahasiswa”, mereka seakan mengajarkan kita untuk pantang menyerah dalam memperjuangkan kebajikan di muka bumi, kecuali ada yang diciduk oleh aparat kepolisian. Meskipun tidak membela kemanusiaan atau omong kosong lainnya, BEM UNJ, melalui pernyataan Rakha Ramadhana saat diwawancara berada di posisi tengah atau tidak memihak warga korban gusuran atau aparat pemerintah yang mau menggusur. Lebih mulia lagi mereka akan menolong warga yang tidak memiliki tempat tinggal dengan pemberian bantuan bersama Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS), selagi bisa ditemui menginap di bawah fly over Rawamangun. Tapi mungkin menolong teman-teman yang diseret oleh aparat lebih penting

Namun sangat disayangkan, bahwa BEM tidak terlihat pada hari Selasa. Saat rumah demi rumah tumbang oleh alat berat, hampir tidak nampak mahasiswa turut serta membantu. Padahal warga sangat membutuhkan siapapun yang berbaik hati mengangkut barang-barang. Maka kritik untuk BEM UNJ ialah harus lebih peka lagi membantu membawakan barang karena tempat kejadian perkara yang hampir menempel dengan UNJ, seharusnya mahasiswa berinisiatif membawakan barang pecah belah, seperti gas dan kompor sambil meneriakan hidup rakyat Indonesia.

Hidup Mahasiswa

Hidup Penulis

 

Penulis: Faisal Bachri

Editor: Uly Mega Septiani

 

 

 

 

 

LPM DIDAKTIKA
Up Next

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: