Aku Tidak Sedingin Kepingan Itu

Comment

Sedari tadi aku mempersiapkan diri. Ku tekan-tekan sofa agar terasa empuk dan nyaman rebah di atasnya. Dengan remote televisi yang digenggam di tanganku, beberapa kali mencari saluran televisi favoritku.

“Ah ketemu!” seruku.

“Yahh, tapi harus menunggu beberapa menit lagi,” ujarku. Saluran yang kutemukan sedang menayangkan berita malam. Aku tahu itu, meskipun kondisiku ini buta. Aku bisa mendengar presenter berita itu mengoceh soal peristiwa hari ini.

Ya, kalau diingat-ingat, aku menderita kebutaan sejak umur lima tahun. Insiden kecelakaan lalu lintas yang mendera keluargaku pedih untuk diingat. Ibuku yang berada di kursi belakang sambil memangkuku, harus direnggut nyawanya akibat salah satu mobil lain menghajar bagian samping dari mobil keluargaku. Ayahku sempat koma akibat benturan itu selama dua bulan, sebelum akhirnya ia menghembuskan nafas terakhir.

Sedangkan aku? Sepasang mataku terkena serpihan kaca akibat kecelakaan itu, dan akhirnya divonis oleh dokter mengalami kebutaan di mata kanan. Mata kiriku masih dapat melihat, tetapi sangat kabur, tidak lebih dari sepuluh sentimeter jarak penglihatannya.

Apa yang aku sudah tunggu-tunggu akhirnya tiba. Acara favoritku adalah pertandingan hoki es. Kebetulan tim favoritku, Edmonton Oilers, sedang bertanding melawan tim Los Angeles Kings. Aku menyimak ulasan tentang prediksi jalannya pertandingan dari kedua komentator dengan khidmat, sambil memohon kepada Tuhan supaya tim favoritku diberikan kemenangan.

Ku panggil Zoraya, adikku yang selisih dua tahun umurnya denganku untuk mengambilkan cemilan yang akan menemaniku menonton pertandingan ini.

“Zo, tolong ambilkan bir kakak di lemari es!”

“Siap kak,” ia bergegas menuju dapur.

“Ohh iya, jangan lupa dengan nachos kakak.”

“Okay”

Tak lama kemudian, Zoraya sampai di hadapanku. Ia langsung menyodorkan bir dan nachos kepadaku.

“Zo, mari kita menonton sama-sama.”

“Tidak kak Dylan, aku ingin ke kamar saja, ada beberapa cerita pendek yang belum ku selesaikan,”

“Ohh, baiklah.”

Aku merasa kesepian. Yah, tapi memang rutinnya seperti ini ketika menonton pertandingan hoki es di televisi. Sendirian, dengan bir dan nachos menunggu untuk disantap di samping.

Zoraya adalah adikku dengan kondisi yang normal. Ia tidak terlibat dalam insiden kecelakaan itu. Saat itu, dia sedang dititipkan di rumah tanteku, sekitar lima blok rumah di seberang rumahku. Ia tidak diajak pergi ke Detroit saat itu.

Aku tinggal di kota kecil bernama Kingston. Kota ini terletak di negara bagian Ontario, Kanada. Masyarakat disini kebanyakan menggemari olahraga hoki es. Setiap bar di tempat ini begitu ramai ketika ada pertandingan hoki es. Namun, aku tidak pernah mengunjungi bar. Perilaku kasar diterima terhadap diriku ketika aku pernah berkunjung kesana.

“Hei, buta, ngapain berkunjung disini! Memangnya kamu bisa melihat orang-orang itu bertanding, hah!”

“Orang cacat ngapain disini?”

“Pulang saja sana, simak aja di radio baik-baik!”

Sakit rasanya mengingat hal itu. Memang apa salahnya jika orang buta sepertiku hadir untuk menonton? Kita di dunia ini dilahirkan dengan kondisi yang sama, tanpa pakaian, bahkan tak tahu apa-apa. Namun mengapa mereka menganggapku berbeda?

****

Aku juga merasakan kecewa ketika tidak diterima di satu-satunya tim hoki es profesional di kotaku, Kingston Frontenacs. Tim ini ikut dalam liga hoki es tingkat junior (usia 16-21 tahun) di Ontario. Ya, betapa kecewanya karena aku yang mempunyai kemampuan yang ciamik dalam memainkan olahraga ini harus disingkirkan karena aku buta!

“Maaf, kamu tidak diterima di tim ini.”

“Mengapa demikian, pak?”

“Karena kondisimu yang tidak memungkinkan untuk bermain olahraga ini. Nantinya akan menyusahkan anggota tim yang lain.”

“Hah! Apa-apaan alasan itu, pak! Sejauh ini, aku bermain dengan baik.”

Ia lantas pergi dan menyambut anggota baru tim tersebut, meninggalkan diriku yang diliputi rasa kecewa ini.

Padahal, aku sering berkontribusi besar kepada tim saat masih bergabung di tim hoki es di SMP-ku. Malah, pelatihku ketika itu merekomendasikan untuk ikut seleksi di Kingston Frontenacs. Ya, walaupun kondisiku buta, namun aku bisa bermain dengan baik.

Setelah kalimat menyakitkan yang menghujam itu, aku mengubur dalam-dalam impianku untuk menjadi pemain hoki es profesional.

Kembali lagi ke diriku yang rebah di sofa sambil menyantap satu per satu nachos yang berada di dalam bungkusan. Edmonton Oilers sementara ini unggul 2-1 terhadap lawannya.

Aku sontak sumringah, meskipun ingatan kelam ini mencoba untuk membuatku tidak bergairah.

****

Tidurku malam ini nyenyak. Edmonton Oilers menang pada pertandingan kemarin. Skor 3-2 untuk tim favoritku. Hatiku rasanya seakan dihiasi beberapa convety karena pemain favoritku, Connor McDavid, menjadi Most Valuable Player (MVP) untuk pertandingan kemarin.

Aku dan Zoraya duduk di meja makan. Tiba-tiba, kiriman koran datang ke rumahku. Zoraya lantas mengambil kiriman itu dan memberikannya kepadaku.

“Zo, tolong bacakan berita tentang hoki es hari ini,” seruku.

“Baiklah.”

“Hei, kak, ada berita bagus.”

“Coba bacakan.”

“Edmonton Oilers akan bertanding menghadapi Calgary Flames kak, dua hari lagi pertandingannya digelar.”

“Wahh, lawan yang berat ini. Aku ragu mereka bisa menang.”

“Kak Dylan, mengapa kakak tidak menonton di stadion saja lusa nanti? Selama ini kakak belum pernah menonton disana.”

“Hmm… benar juga kamu.”

“Iya, daripada suntuk di rumah, apalagi ini derby lho, sayang kalau kakak tidak bisa merasakan atmosfernya di stadion.”

Walaupun Zoraya tidak tertarik dengan olahraga hoki es, namun dari raut wajahnya begitu antusias untuk menyambut pertandingan esok.

Aku menghela napas, kemudian bergumam.

“Seandainya saja orang tuaku hadir bersama kami disana.”

Ayah dan ibuku merupakan penggemar berat dari Edmonton Oilers. Sebenarnya, cinta mereka dipertemukan ketika keduanya sama-sama menonton pertandingan hoki es di Edmonton. Bibiku di Edmonton yang menceritakannya. Kesukaanku dengan hoki es berawal ketika melihat koleksi merchandise tim ini di kamar ayah dan ibuku, setahun sebelum insiden kecelakaan itu terjadi. Mereka juga membiasakanku untuk menonton pertandingan hoki es di ruang keluarga.

“Tapi kak, Zo tidak bisa melihat pertandingan bersama kakak lusa nanti.”

“Mengapa, Zo?” jawabku penuh dengan keheranan.

“Zo ada ujian lisan mata kuliah Sintaksis lusa. Besok, aku hanya bisa mengantarkan kakak sampai ke wilayah luar stadion saja. Nantinya, biar paman yang menemani kakak selama disana.”

****

Hari yang dinanti tiba. Ribuan orang berbondong-bondong, baik dari Edmonton maupun Calgary menuju stadion pada sore hari itu. Meskipun Kanada dilanda musim dingin yang cukup berat, namun pertandingan hoki es hari ini membuat cuaca menjadi begitu bersahabat.

Sebenarnya, aku takut mendapat perlakuan yang diskriminatif dari orang lain lagi ketika aku berada di luar. Apakah seisi di stadion bisa menerimaku? Apakah mereka bisa toleran dengan kondisiku? Ingin rasanya menolak saran dari Zoraya kemarin, namun sudah terlanjur. Toh, benar kata Zoraya, derby yang melibatkan tim favorit jangan dilewatkan.

Seketika aku tersadar dari lamunanku, ketika Paman Holman mengingatkanku untuk membeli bir dan sejumlah cemilan.

Aku yang pada saat itu memakai sweater tim favorit serta syal yang dikalungkan di leher, langsung bergegas ke warung di sekitar stadion.

Namun, pengalaman yang didapat ketika berada di warung itu sungguh tidak terduga.

“Kok, bapak bilang saya bayarnya kurang? Sudah pas lho itu.”

“Iya, seharusnya 30 dollar, tapi kenapa kamu berikan cuman 3 dollar.”

“Tapi pak, sungguh saya memberikannya dengan uang pas, bapak jangan mengada-ada ya!”

“Saya mengatakan apa adanya dik, kalau tidak percaya silahkan pergi dari warung saya!”

“Saya juga tidak menerima orang cacat seperti anda, kok,” ia melanjutkan perkataannya yang menyakitkan bagiku.

Uang yang diberikan oleh Paman Holman memang cukup. Walaupun aku buta, tapi aku tahu karakteristik dari tiap lembar uang beserta nominalnya. Aku bisa merasakan ketebalan kertasnya. Apa yang dikatakan oleh pedagang itu tidak jujur. Aku merasa direndahkan olehnya, merasa tidak dianggap sama seperti manusia yang lain.

Aku kembali menuju Paman Holman, dan berkata bahwa bir dan sejumlah cemilan tidak ada di warung. Aku mencoba untuk tidak menceritakan apa yang terjadi saat disana.

Imaji buruk itu terlintas lagi, namun aku tetap untuk bersikeras membuangnya. Aku mencoba untuk tidak menjadi beku seperti kepingan yang tergeletak saat pertandingan hoki es usai. Sama seperti hati manusia yang bisa beku dengan situasi sekitarnya. Aku mencoba untuk tidak sedingin itu.

****

Dua tiket sudah berada dalam genggaman. Aku tidak sabar menantikan aksi Connor McDavid dan kawan-kawannya langsung di atas tribun. Aku mengambil tribun kelas satu bersama dengan Paman Holman.

Tentunya, bir dan cemilan sudah tersaji di hadapan. Kami tidak berpikir bahwa hal itu sudah biasa diperdagangkan di tribun. Mengingat kami baru pertama kali berkunjung ke stadion.

Beberapa waktu kemudian, orang di sebelahku mengeluarkan perkataan yang tak terduga.

“Maaf, aku tidak bermaksud mengganggu, tapi mengapa orang buta seperti anda antusias sekali menonton di stadion. Apakah kamu bisa melihat pergerakan mereka nantinya?”

Aku diam saja dan merasa kesal dengan pertanyaannya tadi.

“Hei, dijawab dong bung pertanyaanku!”

“Itu adalah pilihanku. Tolong, urusi saja dirimu sendiri,” jawabku dengan nada kesal.

Setelah itu, aku tidak ingin melihat wajah penonton di sebelahku, kemudian fokus melihat kedua tim mempersiapkan diri untuk pertandingan.

Aku bersyukur bahwa stadion ini ramah terhadap penyandang difabel. Terdapat headphone yang membantu orang buta sepertiku untuk mendengar jalannya pertandingan lewat ocehan dari komentator. Jadi, aku bisa membayangkan seperti apa pergerakan pemain favoritku nantinya.

Terlebih lagi, di sampingku ada Paman Holman yang menemani.

Setelah tiga kuarter berlangsung, aku harus menerima kenyataan bahwa Edmonton Oilers kalah telak dengan skor 2-5 dari Calgary Flames. Pemain favoritku, Connor McDavid, tidak  bermain baik dalam pertandingan itu dan tidak mencetak gol. MVP dalam pertandingan ini terpaksa harus diserahkan kepada Michael Frolik dari pihak lawan.

Namun, kekecewaan itu hanya berlangsung sementara, sampai akhirnya hal yang tak terduga pun terjadi.

CONNOR McDAVID MEMANGGILKU DARI TRIBUN!

Sontak rasa kaget sekaligus haru seakan terpancar dari raut mukaku. Entah secara kebetulan atau tidak, ia menyebutku sebagai orang yang inspiratif. Ya, seorang buta yang mendapat panggungnya malam ini di stadion. Ini merupakan momen yang tidak akan terlupakan, mengingat masih ada orang-orang yang toleran terhadap penyandang difable sepertiku.

Connor, diikuti oleh Leon Draisaltl dan Patrick Maroon, memelukku di tengah lapangan. Kemudian pemain lainnya dari Edmonton maupun Calgary menyalami diriku. Mayoritas penonton memberikan sambutan yang hangat kepadaku. Sungguh malam yang tak terduga!

Mungkin saja adikku berperan besar dalam kebahagiaanku ini, meskipun ia masih berkutat dengan ujian Sintaksis disana.

 

Tambahan: Didedikasikan kepada penggemar olahraga, tetapi kondisinya difable yang mungkin masih mendapat perlakuan diskriminasi dari orang lain.

 

Muhammad Rizky Suryana

LPM DIDAKTIKA
Up Next

Related Posts

Discussion about this post

%d blogger menyukai ini: