Bapak Saya

Comment

Bapak saya orang teranyar di kampus.

Kerjanya ngurus uang terus.

Jangan salah, nasibnya tidak lebih bagus dari tukang becak.

 

Bapak saya senang camar kemewahan.

Tiap pagi sambil minum kopi,

ia ongkah-ongkah kaki hingga berbirahi.

 

Bapak saya sering didatangi anaknya.

Dari yang ingin anjangsana kerjasama,

hingga yang diam-diam berkonstruksi.

 

Tapi, bapak saya benci mahasiswa.

Yang kritis terhadap peristiwa,

ia hanya gigit pena sampai mati kata.

 

Bapak saya tak pernah putus berdoa.

Agar supaya peristiwa tak pernah terbongkar mahasiswa.

“Tuhanku, jagalah anakku agar terus dijalan-Mu.”

 

Bapak saya dulu, sering ajak nonton berita

dengan media singkong dan kopi.

“Anakku, ayo dimakan. Jika ingin,

kau bisa jadi wartawan.”

 

Oleh bapak, saya belajar gigih.

Merangkai huruf tulisan,

membuat rubrik koran,

sampai menjadi jurnalis jempolan.

Ah, memang tak ada yang lebih nikmat

dari membaca koran pagi dengan tulisan sendiri.

 

Namun, kerap kali ia digesa-gesa anaknya.

Seperti biasa, lewat berita.

Segerombolan kata-kata mengepung gedungnya, ditatapnya oleh bola mata,

eh, kata-kata musnah tersita oleh kuasa.

 

Bapak saya gemetar, tapi tak kehabisan akal

ia memanggil koloni lalu memesan sebuah kopi.

Kawan-kawannya sibuk mencari cara,

bapak malah diam saja.

Setengah hati, ia tenang ingin damai,

tapi kawannya tak ada belas kasih.

 

Demi majalah seribu halaman

anaknya menulis hingga sakit-sakitan.

Tapi bapak tak peduli

ia bredel apa yang ia takuti: kejujuran.

4/3/18

 

Ilham Abdullah

LPM DIDAKTIKA
Up Next

Related Posts

Discussion about this post

%d blogger menyukai ini: