Komersialisasi Pendidikan Mencekik Rakyat

No Comment Yet

Judul                       : Pendidikan yang Memiskinkan

Pengarang             : Darmaningtyas

Penerbit                 : Intrans Publishing

Tahun                     : Agustus 2015

Kota                       : Malang, Jawa Timur

Pendidikan merupakan sarana untuk belajar mengenai kecerdasan berpikir yang didapat di mana saja. Lembaga Pendidikan, salah satu tempat untuk memperoleh kecerdasan itu. Institusi pendidikan menjadi salah satu wadah untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Oleh karena itu, setiap manusia berhak menikmati pendidikan tanpa terbebani secara ekonomi.

Pandangan ini yang dijelaskan Darmaningtyas, dalam bukunya Pendidikan yang Memiskinkan. Darmaningtyas telah banyak menulis karya buku diantaranya berjudul Melawan Liberalisasi Pendidikan dan Manipulasi Kebijakan Pendidikan. Buku Pendidikan yang Memiskinkan adalah kumpulan tulisan yang berisi kritik terhadap sistem pendidikan orde baru yang dimuat di media. Ia juga menambahkan pandanganya terhadap sistem pendidikan masa kini. Pemberian judul buku ini, ialah bentuk refleksi Darmaningtyas setelah membaca kembali beberapa tulisan yang ditulis pada masa orde baru.

Dalam buku ini, Darmaningtyas mengatakan pendidikan adalah usaha sadar dan sistematis untuk mencapai taraf atau kemajuan yang lebih baik (hal. 1). Artinya, manusia semestinya sadar akan pentingnya pendidikan, dan menempuh proses agar mencapai taraf ekonomi yang mencukupi. Namun, kini pendidikan tidak menghantarkan kita ke taraf ekonomi tersebut, melainkan menghantarkan ke jurang kemiskinan.

Konteks hari ini, pendidikan menjadi suatu hal yang diperjualbelikan. Penuh dengan komersialisasi. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, komersialisasi adalah perbuatan menjadikan sesuatu sebagai barang dagangan. Oleh karena itu, masyarakat harus mengeluarkan banyak uang untuk memperoleh pendidikan. Padahal, tiap masyarakat wajib memperoleh pendidikan.

Pendidikan pun menjadi lahan bisnis bagi industri penerbitan. Buku pelajaran menjadi sebuah bentuk komersialisasi di dunia pendidikan. Penerbit bekerja sama dengan pihak sekolah. Penerbit juga menawarkan harga murah kepada sekolah. Kemudian, sekolah memaksa siswa-siswanya untuk membeli buku pelajaran yang sudah ditentukan.

Tidak hanya industri penerbitan, industry tekstil dan perusahaan pariwisata juga memanfaatkan pendidikan untuk dijadikan lahan bisnis mereka. Pada industri tekstil, sekolah-sekolah menjadi sasaran utama seiring berlakunya kebijakan seragam sekolah. Ketika tahun ajaran baru, orang tua murid membeli seragam baru untuk anak-anaknya. Hal itu menjadi beban ekonomi bagi orang tua murid yang kurang mampu. Walaupun, kebijakan tersebut pada dasarnya untuk menghindari diskriminasi antara golongan menengah atas dan golongan menengah bawah. Diskriminasi tidak dapat dihindari.

Perusahaan pariwisata juga diuntungkan ketika sekolah mengadakan study tour. Sekolah biasanya berkerja sama dengan pihak travel untuk melaksanakan study tour. Sayangnya, pengadaan study tour ini berujung pada proses memiskinkan masyarakat, orang tua memaksakan segala cara agar anaknya bisa mengikuti kegiatan study tour.

Selain memiskinkan masyarakat dalam aspek ekonomi, pendidikan juga memiskinkan dalam aspek berpikir kritis siswa-siswa. Minimnya minat baca siswa yang dipengaruhi oleh harga buku yang mahal, membuat siswa tidak mampu memperoleh bahan baca dengan mudah. Siswa kemudian terpaksa membaca buku-buku yang tidak berkualitas yang mereka dapatkan di sekolah.

Apalagi penerapan kurikulum 2013, yang bertujuan untuk melahirkan generasi yang kritis, kreatif, inovatif, dan produktif. Namun, tidak diiringi dengan tradisi membaca siswa serta ketidaksiapan guru.

Menurut Earl Pulias dan James D Young, guru adalah sosok makhluk yang serba bisa untuk membantu proses pertumbuhan dan perkembangan murid secara terus menerus (hal. 146). Namun saat ini, guru sekedar menjadi tutor, pemberi komando, atau penatar. Tidak jarang guru menjalankan peran sebagai hakim yang kejam bagi para muridnya (hal. 146).

Komersialisasi pendidikan tidak hanya melanda sekolah-sekolah, perguruan tinggi negeri tidak luput dari hal tersebut, misalnya sistem Uang Kuliah Tunggal (UKT). UKT merupakan bentuk subsidi silang. Terdapat pengelompokan berdasarkan kemampuan orang tua yang bertujuan memudahkan masyarakat untuk memperoleh masyarakat. Namun, dengan diterapkannya sistem UKT, membuka celah untuk para oknum melakukan komersialisasi pendidikan dalam bentuk sistem.

Semakin mahal UKT maka semakin bagus fasilitas yang didapatkan, sehingga pendidikan dianggap sebuah barang dagang. Artinya, semakin banyak uang yang dikeluarkan maka semakin bagus barang yang diterima.

Yang menjadi pertanyaan adalah sejak kapan pendidikan menjadi sebuah pasar yang menawarkan  kualitas? Sehingga akhirnya pendidikan ini menjadi sebuah beban bagi masyarakat dan menjadi proses penyengsaraan masyarakat.

Untuk mengatasi hal tersebut pemerintah mengeluarkan berbagai macam beasiswa. Sayangnya, beasiswa juga terkadang tidak tepat sasaran, masih terdapat mahasiswa yang padahal mampu dari segi ekonomi, tetapi mendapatkan beasiswa.

 

Ahmad Qori Hadiansyah

LPM DIDAKTIKA
Up Next

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: