Waria

No Comment Yet

I

Orang-orang memanggil kami waria, meskipun kami tidak menyukai panggilan tersebut. Bagi kami, panggilan tersebut adalah bentuk kekurangajaran.  Panggilan tersebut menunjukan bahwa kami tidak dianggap sebagai laki-laki maupun perempuan alias berada di antara keduanya, padahal kami sudah menentukan gender kami sebagai wanita meskipun alat kelamin kami masih penis. Dengan menyebut kami waria, mereka tidak menghargai keputusan kami sebagai wanita.

Memanggil kami waria cukup membuat kami sedih. Tapi ada yang lebih sedih lagi, jika besok putusan Mahkamah Konstitusi (MK) mengabulkan permohonan perluasan pasal perzinaan, pemerkosaan dan pencabulan anak khusus untuk Lesbian, Gay, Bisexual, dan Transgender (LGBT) dari orang-orang yang tidak mengerti kami. Jika itu terjadi, aku yang paling bersalah.

II

Hampir setahun kalau tidak salah aku mengingat, aku dan teman-teman mengamen di sepanjang jalan ibu kota. Kami selalu menentukan daerah mana yang akan kami susuri. Kadang juga kami mengamen di taman-taman. Kami tidak pernah menentukan target siapa yang akan kami temui. Kami tidak pernah peduli apakah dia seorang pejabat, dokter, guru, dan sebagainya, apakah mereka punya uang atau tidak, kami tetap menghampiri. Masalah miskin atau kaya tidak ada yang tahu, tidak bisa dilihat dari kasat mata saja.

Kami sebenarnya sering merasa bingung, sering kali orang-orang yang kami hampiri terlihat takut dan menjaga jarak. Padahal, kami meminta uang dengan terang-terangan, tidak pernah memaksa karena kami bukan pemalak. Tidak pernah juga kami mengambil uang mereka secara diam-diam karena kampi bukan maling. Kami hanya meminta sumbangan dari suara yang telah kami keluarkan, meskpun suara kami tak bagus-bagus amat. Kami hanya meminta sumbangan atas goyangan kami yang terbaik. Dan juga beberapa bunyi kecrekan yang kami goyang-goyang dengan tangan kami.

Susahnya mencari uang di ibu kota. Padahal usaha sudah maksimal. Apa perlu kami ambil jalan pintas menjadi pekerja seks ? Tapi tetap saja sulit. Untuk kami-kami yang mereka sering panggil banci, jika kami menjadi pekerja seks juga tidak pernah mendapatkan uang seperti pekerja seks wanita yang bervagina. Kami dihargai lebih murah. Padahal, tugas kami sama, melayani hawa nafsu mereka yang seperti binatang.

Titik kumpul kami sebelum mengamen adalah di bawah jembatan penyebrangan manggarai dekat halte transjakarta. Tempat itu menjadi tempat yang strategis bagi kami karena aksesnya mudah jika kami mau menuju lokasi sasaran. Masyarakat sudah tau jadwal kami berkumpul adalah pukul 7 pagi. Sebagian orang yang akan ke Halte Manggarai sengaja naik Transjakarta dari depan stasiun demi menghindari kami.

Aku selalu bangun jam 4 pagi. Aku selalu menjadi orang pertama yang membuka mata dan segera setelah itu aku membangunkan ketiga teman-temanku, Tata, Bebi, dan Niki untuk melakukan sembahyang. Setelah itu seperti biasa, kami mandi dan bersolek.

Niki paling pintar masalah persolekan diantara kami berempat. Aku adalah yang terpayah. Aku tidak bisa membuat alis seperti Niki, alis logo sepatu nike terbalik. Aku selalu meminta Niki untuk menggambar alis yang bagus seperti miliknya. Tata dan Bebi menggambar alis sendiri walaupun tak sebagus buatan Niki. Waktu yang kami habiskan untuk bersolek bisa sampai setengah jam kadang lebih.  Untung Bebi memasang alarm untuk mengingatkan bahwa kami tidak boleh menghabiskan waktu hanya untuk bersolek.

III

Setahun yang lalu, aku mempunyai seorang pacar. Ia lebih tinggi 7 sentimeter dari aku berkulit sawo matang, berkumis, berbadan kekar, dan tentunya penyayang. Namanya Rudi. Aku bertemu dengan Rudi ketika aku masuk SMA. Kami masuk kelas yang sama yaitu kelas IPA 3. Awalnya aku kira Rudi adalah lelaki yang menyukai perempuan pada umumnya. Banyak teman-teman perempuan ku di kelas menyukai Rudi, karena sekilas Rudi terlihat macho.

Riri perempuan paling cantik di kelas, diam-diam juga menyukai Rudi. Kalau sedang waktu istirahat, Riri selalu sengaja pergi ke bangku paling belakang dan mengajak temannya Rudi untuk makan bersama di kantin dengan harapan temannya Rudi mengajak Rudi juga. Usahnya gagal. Ternyata Rudi lebih suka makan bekal yang ia bawa di dalam kelas. Esok harinya, Riri membawa bekal dan dengan malu-malu meminta izin untuk bergabung dengan Rudi, makan di bangku paling belakang. Berhasil, Riri akhirnya makan bersama Rudi. Tapi, selama makan mereka tidak membicararakan apapun karena Rudi lebih memilih diam ketika makan dan Riri terlalu canggung untuk memulai percakapan.

Modus Riri untuk makan bersama dan dekat dengan Rudi hanya bertahan kurang lebih seminggu. Riri merasa sia-sia, karena setiap dia memberanikan diri untuk mengobrol dengan rudi selalu ditaanggapi dengan dingin. Akhirnya Riri memutuskan untuk mendekati Rudi lewat perhatian-perhatian yang ia kirim lewat whatsapp. Setidaknya, lewat whatsapp Riri mendapatkan balasan walaupun slow respon.

Cerita ini aku dengar langsung dari Rudi. Aku dan Rudi mulai dekat ketika Bu Yanti guru biologi membagi kelompok belajar. Aku dan Rudi berada dalam kelompok yang sama. Semenjak itu Rudi sering mengirim pesan singkat kepada ku mula-mula tentang pelajaran sekolah, curhat-curhat, sampai pesan-pesan seperti orang sedang pendekatan. Aku tidak risih dengan perhatian-perhatian yang Rudi kirim lewat pesan whatsapp, karena ternyata aku menyukai Rudi sejak saat itu.

Tepat di tanggal ulang tahunnya, Rudi mengirim pesan singkat yang mengejutkan bagi ku. Dia mengungkapkan persaannya pada ku, dia menyukai sifat feminimku. Dia ingin menjadi pacarku. Aku juga bilang aku menyukainya. Aku akhirnya mendapatkan pacar. Saat itu juga aku merasa normal dan bahagia.

Tidak ada yang tahu perihal hubunganku dengan Rudi. Teman-teman di kelas meihat kami sebagai sepasang sahabat. Tidak tahu apa reaksi mereka jika mereka tahu aku dan Rudi sudah resmi berpacran, apalagi Riri. Aku dan Rudi menyembunyikan status pacaran kami karena kami tahu, bagi mereka hubungan kami tidak normal. Entah sejak kapan nilai-nilai itu melekat di dalam pikiran masyarakat Indonesia.

Setelah 5 bulan hubungan ku dengan Rudi berjalan, kami semakin dekat. Rudi sering main ke rumahku dan kami sering mengekspresikan rasa cinta kami dengan lepas ketika ibu dan ayah kerja. Hingga pada suatu hari di bulan April ibu memergoki kami sedang bersenggama. Aku dan Rudi sedang melakukan apa yang bisa dilakukan sepasang homoseksual ketika bercinta. Ketika ibu datang membuka pintu rumah, kami sedang melakukan anal seks di atas meja.

Aku yang pertama kali melihat Ibu datang langsung membeku tidak bergerak. Setelah beberapa detik aku dan Rudi pun berhenti melakukan anal seks dan menutupi kemaluan kami dengan taplak meja. Ibu menangis tak henti-henti. Aku dan Rudi hanya bisa diam. Isak tangis Ibu semakin memilukan. Tapi aku dan Rudi tetap diam di kursi menutupi kemaluan kami.

Hari itu juga aku diusir oleh Ibu. Panjang kali lebar aku menjelaskan peristiwa itu kepada Ibu agar Ibu mengerti, tapi Ibu tidak mengerti juga. Ibu lebih menghargai nilai-nilai yang dianggap luhur itu ketimbang anaknya. Aku terpaksa ke luar dari rumah.

Hari itu juga aku putus dengan Rudi karena kecewa. Panjang kali lebar aku menjelaskan peristiwa itu kepada Ibu agar Ibu mengerti, tapi Rudi hanya diam. Membela aku pun tidak.

IV

5 bulan setelah aku menjadi pengamen bersama keempat teman ku. Aku bertemu dengan seorang dokter yang baik hati. Saat itu ia menawarkanku untuk tinggal bersamanya. Ia bilang pada ku bahwa dia akan menjamin kebebasanku, termasuk untuk melakukan hubungan seksual bersama pacar laki-lakiku. Ia tahu bahwa aku adalah seorang homoseksual setelah ia menghampiriku dan mengajak aku ngobrol di sebuah taman ibu kota. Ia melihat sifat ku yang feminine dan penyayang dari bagaimana cara aku mengobrol dengannya.

Dengan segala iming-iming yang dokter berikan padaku, aku menerima tawarannya untuk tinggal di rumahnya. Katanya, ada satu kamar yang nyaman untukku. Kamar itu komplit dengan pendingin ruangan yang bisa menyejukkan ku dikala teriknya matahari. Dengan satu syarat aku bisa tinggal di rumahnya, satu syarat tersebut adalah aku tidak boleh memberitahu teman-temanku bahwa aku tinggal bersama dirinya. Tanpa pikir panjang, aku pun menyetujuinya.

Hari itu, ketika aku pulang besama teman-temanku, aku meminta izin untuk tidak lagi tinggal dengan mereka. Aku bilang kepada mereka bahwa aku dan Ibu ku sudah berteman kembali dan mengijinkanku untuk tinggal bersamanya lagi. Teman-temanku mengerti dan melepaskanku meskipun aku tahu mereka sedih tetapi kami masih bisa bertemu ketika kami akan ngamen.

Semua barangku kini sudah berada di rumah dokter. Dokter menyuruhku untuk beristirahat setelah ia memberiku makan. Sungguh dia baik sekali kepada ku.

Besoknya, aku meminta izin dengan ragu kepada dokter untuk membawa pacarku ke rumahnya. Dia memperbolehkan. Dia bilang, lakukanlah yang kamu suka jangan sungkan untuk bercerita. Hampir tiap minggu aku membawa pacarku ke rumahnya dan besok paginya kami bercerita ketika sarapan pagi. Aku juga tidak ragu untuk menceritkan pengalaman seks kepadanya. Toh dia juga selalu memancing aku untuk bercerita mengenai pengalaman seks ku, bahkan dia tahu bahwa aku sering melakukan anal seks sejak dari SMA dengan pacar pertama ku.

Aku memang tak sebaik dulu, ketika aku bersama Rudi. Aku punya 3 pacar dan teman dekat yang bisa aku ajak berhubungan anal. Semuanya pernah aku bawa ke rumah dokter. Dokter tidak pernah memarahiku. Aku percaya apa yang dia bilang kepadaku adalah sungguh-sungguh tanpa kemunafikan, dia bilang lakukan yang saya mau. Saya benar-benar melakukan apa yang saya mau.

Hingga pada suatu hari aku jatuh sakit ia merawat ku. Sebulan berlalu daya tahan ku masih lemah. Akhirnya dokter mengecek kesehatan ku. Ternyata aku terkena virus HIV. Tapi dokter bilang tenang saja dia kan mengurus ku.

Aku tenang.

Teman-teman ku tenang. Mereka tidak tahu bahwa aku terkena HIV.

Pacar-pacar juga tenang. Mereka tidak tahu bahwa aku terkena HIV.

V

Sudah lama aku tidak berkumpul dengan teman-teman kecuali saat kami mengamen. Kini aku berkumpul lagi, kali ini lebih banyak. Niki mengajakku untuk ikut dalam kajian bersama teman-temanya yang lain, niki bilang mereka adalah kaum kami, LGBT. Aku menyimak dengan serius salah satu perempuan yang berbicara dengan penuh semangat. Dia adalah seorang lesbi, kata Niki membisikkan ke telingaku.

Aku baru sadar, aku terlalu sibuk sendiri dengan fasilitas yang dokter berikan pada ku. Pulang mengamen aku langsung pulang ke kamar, kadang aku bolos mengamen dan mengajak pacar-pacarku untuk bercinta dengan ku di rumah dokter. Aku tidak tahu jika ada permasalahan serius di luar sana yang menyangkut diriku dan mereka.

Aku baru tahu bahwa, kaum ku sedang terancam dikriminalisasi oleh beberapa orang yang menganggap kami kriminal karena kami mempunyai orientasi seks yang berbeda. Bukan hanya itu, menurut mereka kami adalah pezina, lebih buruk dari apa pun. LGBT adalah pezina, pencabul, penyakit masyarakat, begitu kata mereka.

Dari perempuan lesbi itu aku tahu bahwa 7 orang yang terdiri dari Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), peneliti dan guru besar salah satu perguruan tinggi negeri mengajukan permhonan kepada MK untuk menguji tiga pasal tentang perzinahan, pemerkosaan, dan pencabulan anak itu agar diperluas cakupan atau diubah undang-undang. Mereka menganggap bahwa LGBT adalah penyakit masyarakat yang menular serta tukang zina sehingga harus dibasmi.

Pihak pemohon mempunyai alasan yang cukup kuat karena mereka membawa data-data yang mereka tuduhkan. Data hasil penelitian tentang perilaku homoseksual selama 7 bulan lamanya. Penelitian itu dilakukan oleh seorang guru besar dan dokter yang tinggal di daerah manggarai. Kedua orang tersebut mengamati satu orang homoseksual yang berbeda. Setiap hari mereka membuat jurnal tentang aktivitas keseharian seorang waria.

Hasilnya adalah, waria yang mereka teliti mempunyai kebiasaan yang sama. Sering bergonta-ganti pasangan, sering berhubungan seksual, terutama analseks yang menyebabkan keduanya terkena virus HIV.

Aku diam mendengar cerita itu. Aku langsung teringat dokter yang menampungku. Dengan penuh curiga aku sudah tak tahan ingin segera pulang dan menanyakan langsung kepada dokter.

Jika yang perempuan itu ceritakan adalah aku, bagaimana aku harus meminta maaf kepada mereka? Kepada teman-teman ku yang tidak semuanya seperti ku, mereka yang lebih sering bekerja dan bersembahyang?

Sudah jam 10 aku lihat di ponsel ku. Aku pamit duluan kepada teman-teman.

Aku sampai rumah dokter. Dokter tak ada.

Aku hanya melihat buku catatan dengan tulisan “AKTIVITAS WARIA” di atas meja kerja dokter. Sial.

 

Yulia Adiningsih

LPM DIDAKTIKA
Up Next

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: