Akreditasi Turun, Cerminan Buruk UNJ

Comment

Akreditasi dianggap sebagai suatu indikator dalam menentukan pilihan. Seperti yang diungkapkan oleh Mutia Nabila, lulusan Sekolah Menengah Atas (SMA) 1 Tajurhalang. Menurutnya dalam menentukan pilihan perguruan tinggi akreditasi universitas merupakan hal yang penting. “Kalau akreditasi univ-nya A pasti lengkap sarana dan prasarananya,” ucapnya yang akan melanjutkan kuliah di tahun ini.

Akreditasi institusi perguruan tinggi adalah proses evaluasi dan penilaian secara komprehensif atas komitmen perguruan tinggi terhadap mutu dan kapasitas penyelenggaraan program tridarma (pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat).

Akreditasi institusi perguruan tinggi merupakan suatu mandat dari negara yang dituangkan dalam Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 60.

Lalu bagaimana dengan akreditasi Universitas Negeri Jakarta (UNJ)? Pada 2015, UNJ berhasil mendapatkan A yang berlaku sampai 2020, berdasarkan Surat Keputusan BAN-PT No 763/SK/BAN-PT/AKRED/PT/VII/2015. Namun, tidak sampai 2020 akreditasi UNJ kembali turun menjadi B pada akhir 2017 melalui Surat Keputusan BAN-PT No 4333/SK/BAN-PT/Ak-INV/PT/XI/2017. Menurut Muchlis R. Luddin selaku Wakil Rektor (WR) 1 bidang akademik hal tersebut terjadi karena permasalahan yang terjadi di pascasarjana.

Banyak tanggapan dari segenap civitas akademika UNJ seperti yang dikeluhkan oleh Mohammad Ilyas Reyhan, mahasiswa Prodi Sastra Inggris. Ia mempermasalahkannya, sebab banyak kampus untuk mendaftar S2 mensyaratkan akreditasi A di kampus sebelumnya. “Tentunya ini sangat menganggu bagi alumni UNJ,” ujarnya. Reyhan juga menambahkan  bahwa ia menghawatirkan tentang prospek kerja. “Akreditasi menjadi salah satu pertimbangan untuk mendapatkan kerja,” tuturnya.

Sebenarnya ada tujuh standar akreditasi yang dikemukakan oleh BAN-PT, yaitu (1) Visi, misi, tujuan dan sasaran, serta strategi pencapaian. (2) Tata pamong, kepemimpinan, sistem pengelolaan, dan penjaminan mutu. (3) Mahasiswa dan lulusan. (4) Sumber daya manusia, (5) Kurikulum, pembelajaran, dan suasana akademik, (6) Pembiayaan, sarana dan prasarana, dan suasana akademik, (7) Penelitian, pelayanan/pengabdian kepada masyarakat, dan kerjasama.

Hal ini pun mendapat tanggapan dari dosen Prodi Sastra Indonesia yaitu Saifur Rohman. Ia mengatakan hal itu tidak membuatnya kaget karena sebelumnya sudah ada peringatan dari Saifur Rohman terkait dengan hal tersebut. “Selama ini kinerja yang ada sudah mengalami penurunan.” Ia juga menanggapi kenapa permasalahan di pascasarjana membuat akreditasi institusi turun. Menurutnya tidak mungkin kalau UNJ jualan dengan merk yang sama, produk yang berbeda itu tetap sam, bukan sesuatu terpisah, “ UNJ merknya, program pascasarjana dan sarjana produknya,” ujar Saifur.

ia juga mengkritik tentang permasalahan di UNJ. Menurutnya selama ini pembenahan hanya terkait dengan masalah-masalah administrasi seperti bagaimana kertas kerja, kepegawaian, kertas-kertas lulusan S1, S2, dan S3 tapi tidak pernah melakukan transparansi. “Masalah di kinerja lingkup pascasarjana yang paling utama tidak ada pembenahan secara menyeluruh,” tambahnya.

Muchlis R. Luddin selaku WR 1 mengamini pendapat Saifur. Menurutnya, terkait tujuh standar akreditasi UNJ masih memiliki kekurangan. “Kalau terkait tujuh standar (akreditasi), belum sepenuhnya tercapai,” tuturnya.  Ia juga menambahkan ada permasalahan di komposisi pendidikan, meski dosen tidak ada yang lulusan S1, namun guru besar jumlahnya berkurang. “Di UNJ ada 47 sampai 49 guru besar, sedangkan doktor masih 30% dan yang lainnya S2,” tambah Muchlis. Selain itu di sektor Sumber Daya Manusia (SDM), tata kelola harus ditingkatkan dan sistem penjaminan mutu yang harus dibereskan lagi.

 

Penulis: Aditya Septiawan

Editor: Uly Mega Septiani

LPM DIDAKTIKA
Up Next

Related Posts

Discussion about this post

%d blogger menyukai ini: