Bambang

Comment

Dari kecil, Bambang sudah berhasrat untuk jadi arsitek. Perasaan ini berasal dari ayahnya yang selalu bangga ketika sepulang kerja dari proyeknya. Sesekali dari kejauhan ia mengintip ayahnya bekerja keras: dari mengangkut material pembangunan yang ringan hingga yang tidak mungkin diangkat manusia biasa. Dari kejauhan, mata Bambang bisa menyaksikan perancang dirinya bekerja keras dengan semangat. Tambah semangat lagi bila mahasiswi magang melintas dan memutar sesuatu. Bapak Bambang selalu dapat kontrak kuli karena pemerintah memang gemar membangun di atas tanah Jawa.

Meski kadang Bambang jadi korban perundungan oleh orang sekitarnya lantaran anak kuli proyek, ia tidak terlalu mempedulikannya. Apalagi Bambang dengan tangannya bisa membungkam mereka dengan keji dan bersih. Di akhir masa SMP, ia mendapat gelar Bambang Pemangkas.

“Bambang, kamu gak boleh berkelahi,” kata ibunya.

“Iya, bu. Saya janji gak akan berkelahi lagi.”

Bambang tahu ia akan berbohong jika situasi benar-benar menyudutkan. Namun, bila situasi itu tidak terjadi, cukup sering Bambang sendiri “menyudutkan dirinya sendiri” sehingga ada alasan untuk memukul orang di bijinya. Hampir ia di-drop out, bila tidak cemerlang otaknya atau tidak diiringi dengan seringnya ibunya menangis di kantor kepala sekolah.

Apalagi bila saja ada yang menyindir dirinya sebagai anak kuli bangunan. Keadaan ini pula yang menyumbang kontrol amarahnya yang buruk. Salah satu faktor lainnya adalah tempat tinggalnya, Sarbung Utara, Pasar Bunga. Jika dilihat dari satelit, garis sungai Bengawan Solo dibelah oleh Delta Sarbung sehingga membentuk penampilan bagian bawah tubuh perempuan. Lebih lengkap lagi jika hutan-hutan belum dibabat manusia, khususnya pada jaman penjajahan Jepang. Kelompok-kelompok pekerja seks komersil dari Yogja dan Solo diusir hingga menetap di sini. Beruntungnya tidak seperti anjing peliharaannya, Bambang tidak mudah berahi dan kuat imannya, seperti kucing yang sudah dikebiri.

“Jangan jatuh ke godaan perempuan, karena sesungguhnya enaknya cuma sebentar, dan mahal…. maksudnya dosa besar,” nasihat bapak pada buah hatinya saat Bambang mulai menampakan sisi kejantanannya, yakni mimpi basah.

“Iya, Pak.”

Bagi orang tua Bambang, membesarkan anak di lingkungan seperti ini memang berat. Sungguh begitu miskin. Mereka hanya bisa bayar sekolah dan makan. Bambang prihatin melihat realita, lalu memikirkan soal tuhan dan berdoa. Kalau dia tetap miskin, maka dia tidak bisa jadi arsitek.

Di awal masa SMA, ia menemukan jalan. Dipertemukannya ia dengan Bambang Laksana, keturunan pejabat kaya asal Kota Solo.

Dua individu ini memang kontradiktif. Secara administrasi, kelas anak pejabat tentunya sekolah di sekolah bermerk bersama bule import. Di sisi lain, adanya perbedaan di kelas sosial. Tapi mereka dipersatukan dengan hasrat saling suka berkelahi. Di medan tawuran mereka pertemukan. Karena Laksana bosan dengan hidupnya yang serba kecukupan, ia turun ke jalan dan membantu berkelahi meski dirinya langsung jatuh sekali pukul.

Di suatu kesempatan, Laksana ditinggalkan oleh teman-temannya karena kalah jumlah. Sementara Laksana sendiri tetap diam karena tidak dengar perintah mundur. Hasilnya, dia setengah bonyok sampai muncul Bambang yang lainnya menyelamatkan. Bukan sebagai sisi lawan, tapi orang yang sedang lewat karena disuruh beli beras.

Mereka kemudian jadi sahabat karena sama-sama bernama Bambang. Seusai sekolah, mereka berdua jadi teman main. Bahkan membuat Bambang si miskin mendengar banyak cerita soal pejabat di kota itu dan bagaimana pejabat ini bisa menimbun kekayaan.

“Aku sadar bapakku ini main terus. Dia memang dibutakan oleh uang,“ ujar Bambang Laksana yang menjabarkan kisah hidupnya.

“Daripada aku, dari nenek moyang mungkin aku sudah miskin. Nanti anakku miskin pula.“

“Mending aku jadi miskin biar nanti masuk surga. “

“Loh,pejabat boleh kok taubat, kalo udah dikabarin mau meninggal.“

Mereka berdua tahu pejabat mana yang di maksud, tapi anak pejabat tersebut hanya mengangguk.

“Sebenarnya kejahatan ada karena diamnya orang baik,” ujar Bambang yang miskin, mengutip perkataan orang dulu.

Tiba-tiba obrolan mereka menyambung ke hal-hal tinggi dari mulai menyalahkan rezim presiden abadi, sampai membicarakan peran Nyi Roro Kidul dalam pemerintahan. Pembicaraan lama ini menghasilkan Bambang-Bambang yang tahan banting dan siap bersaing. Satu semakin yakin jadi arsitek dan satu lagi yakin dia bisa menyadarkan bapaknya dan bapak-bapak pejabat korup lainnya.

Saat kuliah telah tamat, Bambang bingung harus berbuat apa. Sudah setengah tahun tidak ada panggilan pekerjaan yang memanggil namanya untuk merencakan pembangunan. Maka menganggurlah ia di ibu kota. Bahkan ia tidak punya uang untuk pulang kampung ke Sarbung dan berziarah makam bapaknya.

Jika mengingat sendiri sudah berhasil numpang belajar di kampus adalah hal yang tidak terbayangkan sangat beruntung. Karena ia jago berhitung, didapatnya beasiswa daerah.

Bambang mengingat Bambang lainnya, sambil mengeluhkan sulitnya hidup dan menghidupi impian. Ia ingat Bambang yang pernah berusaha mengumpulkan dokumen berkas korupsi bapaknya dan benar-benar melaporkannya. Upayanya menyulut api kemarahan sang ayah. Saking begitu marahnya, ia membuang anaknya ke Militer. Ia dilarang pulang sampai berhasil jadi jendral.

“Nanti aku jadi jendral, lantas akan kukuasai negeri ini.”

Bambang ucapkan kata-kata sambil marah, lebih terbawa suasana hati. Namun, setidaknya dia punya tujuan besar meski tidak mulia.

Selesai mengkhayal, hidupnya kembali berubah. Bambang Pemangkas bertemu dengan dosennya yang sangat ia hargai karena manusiawi dalam memberi nilai, menjelaskan dengan manusiawi, dan pikirannya pun cerdas secara manusiawi berguna bagi masyarakat. Bambang Wijaya namanya.

Sosoknya masih sama meski sudah setengah tahun tidak berjumpa. Ia terkejut sejenak lalu tersenyum. Barisan giginya hadir di sana, dipayungi oleh bibir kering lantaran banyak merokok. Sembari merokok, dipanggilnya nama anak muridnya.

Mereka berbincang, mengenai hal-hal mistis, seperti prospek peternakan tuyul, kolor ijo , kesejahteraan Indonesia bahkan hal yang tidak lagi relevan seperti peran Nyi Roro Kidul dalam kebijakan pembangunan infrastruktur di Jawa Tengah.

“Jadi sekarang kamu kerja apa? Kamu yang paling pintar  di kelas pasti sekarang kerja ama orang asing nih. “

Kalau saja dulu mahasiswa (beserta dirinya yang diajak dosennya) tidak memprotes penanaman modal asing dan itu terjadi. Mungkin saja ia sekarang sudah kerja bergaji dolar lalu pulang dan merenovasi makam bapaknya. Ia juga bisa menjadi insinyur yang manusiawi sehingga tidak ada kuli yang mati seperti bapaknya. Apalagi begitu Bambang sadar bahwa teriakan dan aspirasinya dibawah terik mentari kala itu hanyalah permainan

“Saya nganggur, Pak.”

“Puji tuhan, kamu gak jadi budak orang Barat, hehe.”

“Syukurlah, Pak.” Meski agak kesal, kata-kata dosenya lebih logis.

Keduanya terdiam. Jakarta memperdengarkan suara malam, suara manusia, kesedihan, kebahagiaan, dan banci ibu kota. Di bawah selimut langit yang gelap, di bawah terpal warung kopi portable, keduanya masih terdiam.

Tiba-tiba Bambang si Dosen, angkat suara, ia menawarkan pekerjaan.

“Kamu mau pulang kan ke Surbang? Saya akan pekerjaan buat kamu, moga kamu belum lupa cara hitung tanah.”

“Kenapa tidak dari tadi, Pak? “

“Kan saya tanya dulu. Kalau kamu udah kerja ngapain saya tawarin? Kamu jadi tim arsitek inti saya: proyek renovasi penjara di Jakarta timur,”

Penjaranya tidak dikelilingi tembok 50 meter ataupun anjing penjaga yang kelaparan siap memangsa pesakitan yang melarikan diri. Tidak pula dikelilingi lautan. Tidak ada menara dengan personil bersenapan jarak jauh. Hanya ada tembok bertuliskan “dilarang kabur” dan “sesungguhnya tuhan mengawasi hambanya”.

Mobil yang membawa Bambang muda berhenti di garis parkir. Atmosfer penjara langsung menjajah ruang lingkup Bambang. Kali ini ia datang untuk survei, belum sempat ia buka arsip rencana pembangunan. Begitu bersemangat ia akhirnya menjadi anggota masyarakat yang produktif dengan kemampuan memiliki andil terhadap kemajuan bersama. Ia yang dari awal bulan hanya bekerja sebagai operator Warung Telepon sekarang akan berkembang.

Langkah pertamanya disambut oleh mata para tahanan. Mereka iri terhadap insinyur muda yang merdeka dan bebas. Meski di antara ratusan pasang mata yang jarang mendapat kunjungan itu sadar di balik dua sisi dinding semua manusia itu setara. Sama-sama tidak merdeka dan tidak akan merdeka.

“Ini, mas, saya diminta mengawal mas juga,“ ucap petugas dengan nama Bambang Geledak.

“Oh, iya, terima kasih, Pak.”

Ia sadar yang ia bangun benar-benar lahan kosong, yang kemudian akan ia sulap menjadi sebuah bangunan yang akan digunakan oleh para tahanan.

“Mas, kira-kira selesai bangunanya kapan ya?“

“Waduh gak tau ya, pak. Mungkin hanya tuhan yang tahu.“

“Soalnya gini, yah, mas, saya denger dari atasan, bangunan belakang selnya udah sempit memang. “

“Loh, kenapa tidak dipindah ke tempat lain, saja?“ Bambang mempertimbangan kebutuhan yang urgen, maka harus cepat ia selesaikan proyeknya agar para tahanan tidak lebih menderita lagi.

“Niatnya memang begitu, mas, tapi jangan bilang-bilang nih, mas.“

Uang pembangunannya banyak dikorupsi oleh administrasi sehingga pembangunan banyak yang tidak nampak terjadi.

“Bapak sendiri kenapa tidak berbuat apa-apa?” Bambang muda yang tersulut amarah menatap tajam  petugas pengawalnya seakan dirinyalah manifestasi kejahatan di tanah ini.

“Berbuat seperti apa toh? Ini saya dititipin sesuatu dari atasan saya,“ ujarnya seraya menyerahkan amplop coklat.

Bambang menerimanya dan melihat ada selembar kertas dengan cap pemerintah  dan amplop kecil lainnya–yang ia tebak isinya merupakan uang. Selembar kertas itu meminta agar waktu pengerjaannya yang awalnya 5 bulan jadi 4,5 bulan.

Bambang yang tahu rasanya menjadi miskin dan lapar sungguh ia mau mengambil amplop itu. Uang 200.000. Jumlah uanh yang bisa membuatnya jadi orang kaya dalam satu malam. Ini adalah uang rakyat Indonesia yang ia perjuangkan bahkan sampai detik ini. Pernah ada kalanya ia bersumpah untuk hidup dan mati demi masyarakat bernama Indonesia, bukan negara. Tapi sekarang tangan kecil dari negara rakasa ini yang memintanya untuk membuang idealismenya.

Namun, sekarang ia bisa pulang dan memeluk ibunya sebelum terlambat. Ia bisa bershodaqoh menggunakan uang itu dan membantu orang miskin dengan jadi orang kaya.

Darahnya mengalir deras bersamaan dengan keringat dan air mata di dalam hatinya. Rasa marahnya makin memuncak ketika tangannya mengambil amplop itu dan memasukan ke dalam tasnya. Bambang membenci dan mengutuk senyum di wajah Bambang sang petugas.

Ia terduduk. Setelahnya dia duduk sendirian. Ia mengambil dokumen dari tasnya. Dokumen itu berisi rancangan dan mengeceknya. Lima bulan masa pembangunan yang terbagi ke tiga tahap dan satu tahun masa pengawasan di bawah superivisor pembangunanya. Dan lagi, yang akan ia bangun di atas lahan ini adalah gedung eksekusi tahanan.

Dua hari kemudian ia pesan tiket pesawat yang membawanya ke landasan udara Yogjakarta

Dalam dua bulan, lahan itu dipenuhi tempat oleh orang-orang proyek. Kadang wartawan muncul meski tidak ikut angkat pacul. Bambang tua meminta agar narapidana diikutsertakan membangun gedung ini. Argumennya terkait kerap raibnya material bangunan oleh kuli yang kurang bayaran dan memotong uang anggaran. Jelas mereka bersemangat mengangkat material karena tahanan yang mau membantu masa tahananya dikurangi 2-2,5 bulan.

Semua tahanan turut membantu tentunya, kecuali tahanan yang datang di pertengahan Juli sampai Agustus. Mereka juga tidak ditempatkan di tahanan pada umumnya. Begitu mereka datang, penghuni awalnya dipindah ke samping. Mereka adalah tahanan dengan sel paling timur yang bisa menyaksikan pembangunan tempat eksekusi mereka.

Bambang muda merasa dia orang yang paling berdosa di dunia saat ini. Apalagi saat bertatapan dengan pesakitan yang eksekusinya dilaksanakan ketika peletakan batu terakhir. Bila seorang Bambang mati, mungkin masih diingat dirinya. Apalagi banyak orang tua yang menamakan anaknya Bambang pada Zaman itu.

Tapi, mereka setelah dibunuh akan dilupakan. Saat sesuatu dilupakan itu seseorang benar-benar mati.

Beberapa minggu kemudian, Bambang muda meminta agar mereka yang diminta membantu sebagai asisten pribadi Bambang secara bergantian. Secara bergantian tiga orang berada di luar sel. Bambang bertukar sejarah dengan asisten barunya. Ia menceritakan bagaimana ia menderita sebagai perpanjangan tangan penguasa.

Mereka tidak berharap agar pembangunan dihambat atau dibebaskan. Kadang berpikiran bahwa mereka bersalah. Satu orang begal di Pantai Utara yang sudah beraksi lebih dari 10 tahun, berpikir dengan ia mati tuhan mau mengampuninya. Atau seorang bandar narkoba yang mengaku kalah dalam perjudian dengan takdir, kecuali salah satu mantan tentara yang melanggar perintah.

Bambang, sang tentara yang dikirim ke Madura, tidak jarang ia memohon agar dirinya dibebaskan, termasuk kepada sang arsitek. Ia menyesal memilih mengikuti kemauan kaptennya menolong orang waktu itu, yang berimbas pada hukuman matinya di sini.

“Kapten suka ngomong, kalau kejahatan ada karena diamnya orang baik. Tapi apa kebaikan lebih kuat dari perintah tertulis?” tanyanya.

Mendengar hal itu, rasa bersalah makin kuat. Timbul dipikirannya untuk menghambat pembangunan. Namun, itu bisa berdampak pada dirinya meski ia hambat juga tidak akan berpengaruh pada nasib si pesakitan.

Bulanan kemudian, sisa tiga minggu namun belum usai penempatan interior gedung. Secara permukaan telah jadi bangunan tinggal interior bangunan. Halaman akan digunakan untuk regu penembak dan tiang gantung. Sedangkan kursi listrik akan ditempatkan di dalam bersamaan dengan hukuman yang lebih sederhana.

Bambang tua dan muda memperdebatkan untuk memasang ventilasi udara, karena itu merupakan standar dasar bangunan layak. Namun, tentunya untuk menekan anggaran, Bambang tua lebih suka uang itu dibagi ke timnya. Orang akan di listrik tidak butuh ventilasi udara apalagi pendingin ruangan asal Jepang.

“Kamu ini gak bisa lagi idealis, waktu pertama kali kamu terima amplop itu, kamu sudah mati”

“Meski begitu saya, punya hati, duit gak dibawa mati, Pak.”

“Terus apa? Memang mereka ditanya nanti apa ruangan eksekusimu nyaman?”

Pada akhirnya, Bambang muda tidak bisa bicara banyak di hadapan mantan dosennya. Sesama budak tidak punya posisi untuk saling membantah. Apalagi kedudukan Bambang tua lebih kuat. Pada akhirnya, setelah 1,5 bulan kursi listrik tidak kunjung datang.

Akhirnya, tiga orang pesakitan pun dibariskan ditengah siang, Bambang minta agar mata mereka ditutup sebelum tubuhnya dipenuhi peluru. Ada yang satu menyebut nama Tuhannya begitu keras bahkan setelah badannya berlubang. Astuti juga nama yang disebut oleh yang lain.

Tersisa satu orang, hanya terdiam. Ia sebenarnya berharap agar tutup matanya dibuka, agar bisa melihat wajah pembunuhnya.

 

Faisal Bahri

LPM DIDAKTIKA
Up Next

Related Posts

Discussion about this post

%d blogger menyukai ini: