Feminisme dan Reformasi yang Belum Selesai

Comment

Jakarta Feminist Discussion Group dan Universitas Negeri Jakarta (UNJ) bekerja sama membuat diskusi publik dalam rangka memeringati hari reformasi. Diskusi tersebut bertemakan Feminisme dan Reformasi. Sesuai dengan tema yang diangkat, acara ini menghadirkan beberapa tokoh feminis yang ikut berjuang dalam proses reformasi. Mereka adalah Tati Krisnawaty (Solidaritas Perempuan), Ita Fatia Nadia, dan Ruth Indah Rahayu.

Diskusi yang bertempat di gedung Dewi Sartika UNJ ini dibuka oleh Robertus Robert selaku perwakilan dari UNJ (23/5). Setelah itu dilanjutkan dengan pidato dari Nursyahbani Katjasungkana yang juga terlibat dalam proses reformasi.

Dalam pidatonya, ia mengungkapkan bahwa dalam memperjuangkan reformasi, perempuan mempunyai peran yang tak kalah penting dengan laki-laki. Mereka bersama-sama melawan rezim kontra demokrasi. Ia mengungkapkan, para feminis pada saat itu bukan hanya melawan budaya patriarki saja, melainkan juga melawan feodalisme, kapitalisme dan kolonialisme.Menurutnya, ini tidak boleh dilupakan oleh sejarah. “Sering kali perempuan dilupakan,” ungkapnya.

Setelah rezim Soeharto jatuh, menurutnya perjuangan para feminis tidak berhenti sampai di situ. Banyak tujuan-tujuan yang belum tercapai seperti penindasan terhadap perempuan dan kaum marjinal belum juga hilang. “Tidak terbukti penindasan kelas hilang, lalu penindasan perempuan juga akan hilang,” ucap pendiri Solidaritas Perempuan ini. Menurutnya, generasi sekarang itu harus melanjutkan perjuangan reformasi dan tidak malu mengakui dirinya sebagai feminis.

Reduksi Makna Feminisme
Nursyahbani menjelaskan banyak masyarakat yang anti dan takut dengan kata feminisme. Feminisme sering diartikan sebuah paham dan sebuah gerakan perempuan-perempuan egois. Padahal, menurutnya itu tidak tepat. Seperti yang telah ia katakan, feminisme bukan hanya gerakan perempuan yang melawan budaya patriarki. “lebih dari itu,” ucapnya.

Selain itu, menurutnya rezim Soeharto juga telah mereduksi makna perempuan dari ‘Ibu bangsa’ menjadi hanya ‘Ibu rumah tangga’. Sehingga, budaya patriarki di Indonesia yang mensubordinasikan perempuan tetap melekat.

Pendapatnya tersebut diaminkan oleh Tati yang juga pendiri Solidaritas Perempuan. “Feminis sering diidentikkan dengan gerakan kemarahan kaum perempuan,” ucapnya. Tati mengakui memang pada masa itu perempuan-perempuan marah akan rezim Soeharto.

Ia menceritakan pada 1980-an suasana di Indonesia itu mencekam. Saat itu, rezim Soeharto. banyak melakukan pembangunan. Namun, dari pembangunan tersebut banyak yang menjadi korban. Ia menceritakan pada masa pembangunan Borobudur, banyak masyarakat sekitar candi tergusur.

Saat itu ia mengaku geram atas ketidakpedulian pemerintah terhadap masyarakat dan golongan marjinal. Ia bersama teman-temannya di Solidaritas Perempuan pun akhirnya membantu korban-korban dari pembangunan tersebut.

Tahun 1986 menurut Tati adalah puncak kekuasaan Soeharto. Ia mengungkapkan pada saat itu elit penguasa memegang kendali atas ekonomi, sosial, politik dan budaya. Banyak pihak yang dirugikan atas rezim Orde Baru (orba).

Ia mengatakan salah satu program rezim Soeharto yang dikenal dengan ‘revolusi hijau’ terlalu dipaksakan. Ia menjelaskan dampak dari program tersebut banyak perempuan yang kehilangan pekerjaannya. Perempuan-permpuan beralih dari bertani menjadi buruh industri. Setelah mereka menjadi buruh, mereka dieksploitasi dengan diberi upah dengan murah.

Masih banyak program rezim Soeharto yang menurutnya merugikan, termasuk pencabutan kebebasan berpendapat dan demokrasi. Seperti, pembredelan media detik, tempo, dan editor. Ia mengungkapkan buletin terbitan Solidaritas Perempuan juga ikut dibredel saat itu.

Itu adalah sekilas penggambaran pada rezim Soeharto dari Tati. Menurutnya, masyarakat tak sepenuhnya salah jika melihat feminisme itu identik dengan kemarahan. Ia mengakui, “karena dulu memang kondisinya seperti itu.”

Namun, yang tidak boleh dilupakan menurut Tati adalah feminisme bukan hanya reaksi kemarahan, melainkan juga menyebarkan kebahagian. “Tidak perlu takut menjadi seorang feminis,” ucapnya.

Dari Gerakan Feminis Ke Gerakan Sivil
Melihat kondisi pada saat itu (rezim Soeharto), Tati mengakui bahwa ada perubahan dari gerakan feminis menjadi gerakan sivil. Mengingat isu yang diperjuangkan pada saat itu sangat beragam. Menurutnya dalam setiap isu atau permasalahan yang ada pasti di dalamnya terdapat isu perempuan. Seperti, kekerasan, eksploitasi buruh dan penggusuran.

Inilah yang menggugah Tati dan Nursyahbani kemudian membentuk Solidaritas Perempuan. Mereka melihat gerakan feminis itu perlu perlawanan yang terorganisir. Menurutnya, para feminis juga harus bekerja sama dengan gerakan-gerakan pro demokrasi lainnya. Dengan begitu, perjuangan akan semakin kuat.

Selain Solidaritas Perempuan, gerakan feminis yang menyadari pentingnya membentuk perlawanan terorganisir dan berjejaring adalah Kalyana Mitra. Ita Fathia dan Ruth merupakan pendiri Kalyana Mitra (1983). Awalnya, Kalyana Mitra didirikan untuk mengadvokasi kebebasan perempuan. Namun, kini Kalyana Mitra juga melakukan edukasi melalui kursus gender, menulis dan kajian filsafat feminisme.

Pada saat proses reformasi Kalyana Mitra juga tidak absen. Menurut Ita, pergerakan pada masa orba itu dimulai dengan gerakan-gerakan anti Soeharto. Lalu, gerakan-gerakan yang tadinya berdiri sendiri seperti Kalyana Mitra bersatu untuk melawan rezim Soeharto. “Gerakan itu tidak bisa berdiri sendiri. Tapi harus bersama melawan rezim orba dan militerian,” ucapnya. Hingga akhirnya, mereka berhasil menggulingkan rezim Soeharto pada Mei 1998.

Meskipun begitu, menurutnya setelah Soeharto turun dari jabatannya, banyak permasalahan yang belum terselesaikan. “Perjuangan masih berlanjut,” ucapnya.

Feminis Zaman Now

Genap 20 tahun runtuhnya orba, Ruth lantas menanyakan langkah selanjutnya. “Feminisme zaman now mau ngapain ?”  tanyanya sambil tersenyum.

Ia menjelaskan jika dulu itu gerakan feminis jelas apa yang diperjuangkan dan dilawan. Mereka (gerakan feminis)  dulu jelas apa tujuannya, yaitu ingin mengubah relasi perempuan dengan Negara. Setelah penggulingan Soeharto, perubahan itu terjadi. Tuntutan yang mereka perjuangkan tercapai meskipun tak sepenuhnya.

Menurutnya, pengakuan Negara terhadap perempuan itu memang ada. Tapi belum mengubah relasi perempuan dengan Negara. Ia juga berpendapat bahwa belum ada distribusi power perempuan untuk mensejahterakan dan memperjuangkan hak kebebasan perempuan lainnya.

Ruth berpendapat inilah yang menjadi salah satu masalah gerakan feminis sekarang. Memang, ada kuota 30% untuk perempuan dalam kursi politik. Tapi, menurutnya perempuan-perempuan itu tidak berpihak pada perempuan. “Mereka hanya memperjuangkan aspirasi partai saja,” ungkapnya.

Selain itu menurut Ruth permasalahan feminis sekarang dan sekaligus permasalah revolusi  digital saat ini adalah terlalu riuh di dunia virtual tapi gagap dalam menghadapi kehidupan. Padahal menurut dia permasalahan sekarang ini semakin banyak dan kompleks. Seperti, permasalahan permasalahan ketenagakerjaan.

Ia menjelaskan, sekarang perempuan itu sudah relatif mudah dalam mengakses sekolah. Namun, mereka tetap saja banyak yang dieksploitasi melalui kerja dengan upah murah. Selain itu gejala domistikasi mewabah di generasi milenial.

Ruth melihat banyak perempuan yang memilih untuk menikah muda dan berdiam diri di rumah. Ia mengungkapkan tidak ada yang salah dengan menikah muda, tapi yang menjadi masalah adalah mindset seperti itu tertanam di generasi milenial dan tidak mepedulikan apapun lagi.

Maulida Raviola dari salah satu pendiri PAMFLET menyetujui apa yang telah disampaikan oleh Ruth. Sebagai remaja dari generasi milenial dia mengakui memang gerakan feminis pada saat ini tidak seperti dulu. “Gerakan feminis sekarang tidak mempunyai satu musuh bersama,” ucapnya.

Ia menjelaskan bahwa keadaan pada masa orba dan sekarang itu berbeda, sehingga gerakan feminis pun juga mengalami perubahan. Maulida menjelaskan bahwa feminisme sekarang sudah berubah menjadi cair. Namun, menurutnya gerakan feminis tetap pada esensi semula, yaitu melawan diskriminasi dan subordinasi terhadap perempuan. “kini, feminis bergerak melawan ketertindasan dan diskriminasi dalam kehidupan sehari-hari,” ucapnya.

 

Penulis : Yulia Adiningsih

Editor: Uly Mega Septiani dan Annisa Nurul Hidayah Surya

LPM DIDAKTIKA
Up Next

Related Posts

Discussion about this post

%d blogger menyukai ini: