Kutukan

Comment

Oleh : Yulia Adiningsih

Tikus lewat begitu saja ketika ia baru saja membuka mata dari tidur semalam. Kau tahu, tikus itu begitu gemuk untuk seukuran tikus. Tapi, tikus sekarang memang seperti itu, entah makannya apa. Parno menganggap tikus itu seperti manusia, lebih tepat teman. Seperti teman pada umumnya, dia selalu ada, meskipun hanya ada saja, tidak lebih. Tikus tidak bisa diajak bicara, kalau pun bisa diajak bicara dia tidak akan menjawab. semua orang tahu itu.  Jadi yang bisa dilakukan oleh Parno adalah membiarkannya berkeliaran.

Parno hidup seperti anak rantau lainnya di Jakarta, tidak ada yang istimewa. Saya pikir cerita tentang Parno ini bisa diceritakan nanti. Mungkin sekarang saya akan bercerita tentang Dudi, teman rantaunya dari Palembang.

Dudi seperti dikutuk tidak bisa berbuat baik pada siapa pun. Saat dia kecil, kira-kira umur 5 tahun ketika anak laki-laki seumurannya senang bermain gundu, dia terpaksa bermain Barbie bersama teman perempuan seumurannya.

Kejadian itu bermula saat ia ingin menyalamatkan gundu temannya yang menggelinding ke arah got. Gundu itu kebetulan gundu andalah Heri, anak seusianya yang tinggal di samping rumahnya. Gundu heri memang bagus, warna luarnya mengkilap dengan warna merah membentuk spiral di dalamnya. Ketika Dudi menangkap gundu tersebut, tiba-tiba anak-anak yang sedang bermain gundu itu berteriak, “maling”. Cercaan dan tuduhan terus-menerus dilontarkan tanpa dia diberi kesempatan untuk berbicara. Hingga Heri, menyatakan memblacklist Dudi dari pertemanannya.

Sebetulnya, sebelum Heri menyatakan itu, anak laki-laki seumurannya tidak ada yang mau berteman dengannya. Tidak jelas alasannya apa. Semakin Dudi mendekat, semakin mereka menjauh.

Saat ia duduk di bangku SD, ibunya jatuh sakit dan dirawat di rumah sakit. Ia dijemput oleh ayahnya yang sengaja meminta izin dari kantornya untuk mengurus isterinya. Pukul 1 siang dudi ke luar dari sekolah dengan membawa tas gembloknya. Ayahnya sudah menunggu di gerbang sekolah saat itu, dan langsung memanggilnya. Dudi pun menghampirinya dan bertanya ada apa, karena kejadian seperti ini tak seperti biasanya.

Dudi dan ayahnya bergegas menuju rumah sakit. Saat itu ia merasa sedih tapi mukanya datar. Ia bingung harus bagaimana. Ibunya tidur di ranjang pasien. Ia pun hanya duduk diam di samping ayah yang tidak pernah berhenti berdoa agar penyakit ibu dicabut dan bisa menyiapkan sarapan yang itu-itu saja.

Doa ayah terkabul. Penyakit  ibu dicabut, begitu juga dengan nyawanya. Istrinya meninggal saat dia sedang dinas di makassar. Saat itu ayah sedang beristirahat di hotel dan mendapatkan telepon dari rumah sakit. Saat itu, dudi hanya diam tersungkur di samping ibunya yang  sudah tidak bernapas. Seperti biasa, ia selalu bingung harus melakukan apa. Ada perasaan lega saat itu, semua penyakit nya diangkat. Tapi Ada juga perasaan sedih karena dia tidak akan bertemu lagi dengan ibu.

Yang membuat bingung sebenernya bukan itu, tapi ada semacam perasaan bersalah yang tidak tahu alasannya. Perasaan itu berada utuh diantara perasaan lega dan sedih. Dudi berpikir mungkin perasaan itu lazim dialami oleh orang yang ditinggalkan oleh orang yang dicintai, terutama oleh orang tua.

Sampai ia tahu bahwa ibu meninggal gara-gara dia. Selama 4 Hari ditinggalkan dinas oleh ayahnya , dudi menjaga in sendirian. Di hari pertama, obat jantung ibu sudah habis. Dudi menghiraukannya. Dia pikir obat itu, hanya obat tambahan jadi tidak apa2 jika tidak di munum. Jika saja dudi Tau obat itu sangat penting, dia akan bilang ke orang dewasa yang Ada di sana untuk memberikan ibu obat lagi.

Ayah tau tentang itu, tentang dudi yang tidak memberikan obat pada ibu. Kata ayah, “bukan Salah kamu”.

Betapapun ayah meyakinkan dudi bahwa itu bukan salahnya, ia tetap menyesal dan merasa bersalah.

Dudi semakin hari semakin besar. Besar hatinya, besar juga badannya. Meskipun begitu ia tetap bisa melanjutkan hidup berdua dengan ayahnya. Mereka tetap bisa makan meskipun tidak bisa memasak. Mereka tetap bisa memakai baju yang bersih meskipun tidak bisa mencuci. Hanya saja untuk itu mereka harus sedikit menghemat. Tidak Ada cemilan di siang atau malam hari.

Suatu hari mereka kedatangan tamu. Tamu itu adalah teman kecil ayah. Ia datang untuk bersilaturahmi dan tak lupa menempelkan beberapa lembar uang di tangan dudi.

“Untuk jajan,” katanya.

“Terima kasih”

Ayah menyuruhku untuk mengambilkan minum untuk Pak somad. Dudi mengambil air panas dan dua gelas yang sudah berisi teh siap seduh. Ia menuangkan air yang masih panas ke dalam gelas tersebut sehingga beberapa menit setelah itu air berubah menjadi agak coklat, coklat teh.

“Tolong ambilkan makan juga, Dud”

“Baik, pak”

Ketika Dudi hendak mengambil makanan itu, tak sengaja tangan dudi menyenggol ujung siku Pak Somad yang hendak akan meminum teh. Teh bercucuran ke baju Pak Somad dan membasahi setengah muka Pak Somad. Dudi meminta maap, tentu saja Pak Somad memaapkannya meskipun sedikit agak jengkel.

Ayah tau cara memaafkan dengan mudah. Tapi dia tak pernah berbagi teknisnya seperti apa. Setelah kejadian itu, Ayah tetap baik pada Dudi.

Menginjak dewasa, kutukannya tidak kunjung hilang. kesialan teru-menerus datang ketika dia berniat baik. Dudi tak punya teman selain ayah karena hanya ayah yang bisa memaafkan kesialan yang disebabkan oleh niat baiknnya.

Di rumah, Dudi rajin belajar dan tidur, sekali pun di hari libur. Dia tidak pernah bermain seperti remaja SMA lainnya. Di sekolah, Dudi hanya diam di bangku, menulis cerita tentang berbagai kesialannya saat ia ingin berbuat baik. Sudah 71 cerita yang ia tulis, mulai dari saat ia kelas 1 SD sampai sekarang, kelas 2 SMA.

Hanya ada satu hal yang sama antara Dudi dengan remaja SMA lainnya yaitu sering mendapatkan hukuman. Bedanya, remaja SMA yang lain berusaha dengan keras agar mendapatkan hukuman itu, dan terlihat keren. Sedangkan Dudi tidak pernah berusaha mendapatkan hukuman, hukuman itu yang datang sendiri, dan tidak terlihat keren.

Begitu lah hari-hari Dudi di SMA yang dia jalani dengan pasrah.

Sabtu pagi di bulan agustus, ia lelah menulis kesialan yang dialaminya sehingga ia memutuskan untuk membaca catatannya itu. Ia membaca dengan serius cerita kesialannya itu sambil menyandarkan punggungnya ke salah satu sisi tiang pintu dan  kedua kakinya ia tempelkan ke satu sisi lainnya sehingga posisi itu seperti memblok pintu. Menurut mitos, duduk di lawang pintu akan menghambat jodoh seseorang tapi Dudi tidak percaya. Meskpiun sampai sekarang, Dudi tidak pernah mempunyai pacar.  Setelah 30 cerita yang dia baca, dia menemukan benang merah dari cerita-cerita sial itu. Kesialan terjadi saat ia ingin berbuat baik, dia baru menyadarinya. Ia berpikir mungkin itulah alasan ayahnya selalu memaafkannya saat kesialan menimpa mereka.

Dudi berpikir keras untuk mengatasi kutukannya tersebut. Jika belajar dari film-film disney, kesialan dan kutukan seseorang akan hilang ketika dia menemukan pasangan sejatinya, mendapatkan ciumannya dan menerimananya. Apa salahnya mencoba, pikirnya.

Misinya dimulai dengan menentukan target perempuan yang akan dijadikan pacar. Ada 5 kandidat di otaknya.

  1. Sari, anak tercantik se-ips tapi pendiam
  2. Jane, baik dan pintar
  3. Lesni, cantik dan banyak teman
  4. Gina, rajin solat dan murid teladan
  5. Heni, baik, betubuh atletik dan nyaris tidak terdeteksi keberadaannya.

Seharian ia menimbang-nimbang. Sambil membaca, mencuci piring, menonton Tv, ia terus memikirkan itu. Hingga menjelang tidur ia belum juga mendapatkan jawaban.

Pagi hari, sebelum berangkat ke sekolah, sambil sarapan ia berkontemplasi tentang dirinya sendiri, tentang apa yang ia punya. Sesunggugnya setelah dia menyadari, dia tidak mempunyai ap-apa selain keinginannya until berbuat baik. Dengan begitu, ia dapat menimbang-nimbang dengan mudah target yang rasional mau menjdai pacarnya.

  1. Sari. Terlalu cantik buatnya. Dudi tahu diri, dia tak akan sampai hati melihat gadis cantik seperti sari berpacaran dengan laki-laki jelek seperti dia.
  2. Jane. Meskipun baik, dia tidak bodoh untuk memcari pacar yang cocok untuknya dengan segala pertimbangan yang menguntungkan.
  3. Lesni. Mungkin saja lesni bisa menjadi pacarnya. Tapi bagaimana dengan teman-temannya yang sombong dan sepertinya dia sedang dekat dengan fiko, teman sekelas dudi juga.
  4. Gina. Banyak diincar oleh laki-laki. Akan sangat sulit mendapatkannya. Apa lagi sekarang, sedang trend berpacaran dengan perempuan berhijab Dan terlihat soleh. Tapi Gina, benar-benar soleh menurutnya.
  5. heni. Tidak Ada yang mau memcari gadis bertubuh seperti pria, berpunggung lebar Dan mempunyai otot di mana-mana.

Setelah dipikir-pikir, hanya Ada 2 perempuan yang masuk akal mau menjadi pacarnya : Lesni dan Heni. Tapi ia tidak bisa mendekati dua perempuan selaligus. Jika dipikir-pikir lagi, jika benar Lesni dengan fiko, Tak baik baginya mendekati perempuan yang sedang dekat dengan laki-laki lain.

Setelah ia berkontemplasi dan menghabiskan sarapannya, ia lekas-lekas memakai sepatu dan berpamitan pada ayahnya untuk pergi ke sekolah. Ia pergi dengan motor, hadiah ulang tahunnya yang ke 16 tahun dari ayahnya. Di perjalanan ia terus memikirkan bagaimana cara mendekati Heni. Seumur-umur ia tak pernah mendekati perempuan. 15 menit di perjalanan dia habiskan untuk memikirkan itu, sampai dia turun dari motor dan tiba-tiba saja ia merasakan jantungnya berdegup meskipun ia tahu jantungnya setiap hari berdegup.

Ia langsung duduk di bangku belakang. Menurutnya duduk di bangku belakang itu banyak manfaatnya apalagi bagi seorang pengintai yang tidak punya kerjaan. Tidak ada Heni di kelas tapi dia sudah tau kemana perginya Heni. Semua di kelas sudah tahu kemana perginya heni jika tidak ada di kelas, yaitu ke pertandingan voli.

Ia lega, meskipun ia tak sabar ingin bertemu dengan Heni. Hari demi hari kembali ia jalani seperti biasa sampai hari senin tiba. hari dimana ia melihat heni sedang duduk dengan mata yang terlihat lelah karena begadang, atau mungkin karena ia menangis (?) entahlah. Yang pasti jantungnya kembali berdetak kencang dan ia merasa langkah kakinya semakin berat. Rasanya ingin ia langsung berada di bangkunya tanpa melewati heni. Tapi ia bukan hantu, bukan pula tuhan. Ia harus menyapanya, menyapanya, menyapanya seperti ia menyapa kucing di tempat yang sepi. Tanpa keraguan tanpa malu.

“hei”

“hei”

Ia menyesal menyapanya. Yang terjadi tidak sesuai dengan apa yang ia harapkan. Akhirnya ia terpaksa memulai bicara kembali.

“habis lomba ?”

“ia”

“oh”

Setelah kejadian aneh itu, ia tidak berani menyapanya kembali selama seminggu. namun, dudi adalah orang yang pantang menyerah, seminggu kemudian ia memberanikan diri lagi untuk mengantarnya pulang ke rumah. Setelah sepulang sekolah, mereka berdua bertemu di depan pintu kelas dengan kecanggungan yang mereka buat sendiri.

Dudi merasa ada titik terang untuk menyembuhkan kutukannya. Kecanggungan yang terus-menerus datang tak sebanding dengan kesialan-kesialan yang tak pernah absen jika kutukan itu tak segera ia sembuhkan.

Plakkkkkk

tiba-tiba saja ia kehilangan keseimbangan seakan ada yang menarik motornya dari belakang. Rupanya, kepala heni menabrak ranting pohon yang cukup besar. Badannya terdorong sampai ujung jok. Untungnya ia tak sampai jatuh ke tanah. Ia berteriak kencang, sampai dudi kaget. Bukan karena baru kali ini ia mendengar heni berteriak seperti perempuan, tapi karena di jidatnya terdapat benjol kecil yang merah. Benjolnya semakin membesar ketika heni sampai di depan rumah. Heni langsung masuk ke dalam rumah tanpa ada satu kata pun yang ia lontarkan kepada dudi.

Kandas sudah harapannya untuk menyembuhkan kutukannya. Dudi tak berani mendekati perempuan lagi, dan perempuan pun tak ada yang ingin mendekatinya.

Ajaibnya, ketika semester 5 ia kuliah, seorang perempuan mendekatinya. Sebenarnya ia takut, selama ini ia tak pernah sekalipun didekati, baik oleh laki-laki maupun perempuan. Ia curiga. Namun, hari demi hari, ia dan perempuan itu semakin dekat dan kecurigaan itu luntur.

Tara, namanya. Anak jurusan komunikasi, sama seperti dia. Berat badannya kira-kira 50 kg dengan tinggi badan 158 cm, lebih pendek 9 cm dari tingginya. Kulitnya tidak putih tapi tidak juga hitam. Ia pandai bersolek sehingga kulit mukanya tak pernah terpapar sinar matahari langsung.

Meskipun BB cream yang dia pakai menyebabkan gradiasi warna antara muka dan lehernya.

Hampir 8 bulan mereka bersama-sama, mengerjakan tugas, nonton bioskop, nongkrong di warung kopi, dan kegiatan-kegiatan yang tak pernah dudi lakukan selama SMA. Kini ia tahu, ini adalah takdir dari tuhan dan pertanda bahwa kutukannya akan segera sembuh dan dihilangkan.

Mereka berpacaran, entah siapa yang memulai perasaan itu, tapi keduanya setuju untuk berpacaran. Tara melihat yang tak dapat dilihat oleh orang lain tentang dudi : niat baik. Banyak orang yang hanya melihat nilai akhir, tanpa tahu usaha dan niat seseorang.

Tak pernah terbayang oleh dudi sebelumnya bahwa ia akan mendapatkan pacar di bangku kuliah. Tak pernah pula terpikir setelahnya. Hari-hari yang ia jalani kini tak sama seperti hari-hari sebelumnya. Kebahagian dan kesedihan tak lagi dipikulnya sendiri. Tak perlu juga ia menulis di buku harian tentang kesialan-kesialan yang ia buat karena sekarang sudah ada kuping yang sedia setiap saat mendengarkan cerita-ceritanya.

Satu buan berlalu, Tara mengajak dudi ke rumahnya. Ada persaan takut di benak dudi karena akan menemui orang tuanya. Dia tidak tahu harus bagaimana nanti jika bertemu dengan orang tua Tara. Sesampainya di rumah tara, ia disambut dengan semangat dan dipersilakan masuk ke rumah. Ia masuk dengan ragu.

“ayah sama ibu sedang kondangan,” ucapnya kepada dudi.

“oh”

Mereka mengobrol seperti biasa di sofa yang empuk berwarna merah maroon. Entah bagaimana, ketika dudi menyeruput teh,  Tara mencium pipi  dudi. Dudi tersipu malu dan kaget. Tara terus menciumi dudi sampai dudi tak ingat lagi pada sekitar. Dengan perasaan menggebu-gebu dudi memeluk dan menciumi juga Tara. Tak ada lagi batasan antara tubuhnya dengan tubuh tara. Mereka saling mengunci satu sama lain.

Sebulan berlalu setelah kejadian itu, dudi merasa kutukannya akan hilang segera.

Jam 7 pagi. Pintu rumahnya diketuk-ketuk entah oleh siapa. Ayah masih mandi, ia terpaksa membuka pintu. 3 lelaki berada di depannya.

“dudi ada?”

Kata salah seorang dari mereka. Polisi, ya polisi, jika dilihat dari seragamnya.

“saya”

Ekspresi muka lelaki yang satunya lagi berubah menjadi geram. Dibentak-bentaknya dudi sambil di tarik-tarik bajunya. Tak henti-hentinya, lelaki itu memaki, “pemerkosa! Mati saja!”

Ayah dudi keluar dan kebingungan anaknya dibawa oleh polisi. Dudi dijatuhi hukuman penjara 10 tahun dan pada tahun ketujuh ia meninggal Karena ditusuk oleh teman sepenjaranya.

Begitulah kisah dudi yang ingjn Saya sampaikan ke kalian sebagai teman sperantauan dulu.

Tahun 2054 dia lahir kembali dengan harapan baru dan keyakinan baru bahwa tak akan ada lagi kutukan. Sampai dia berumur 5 tahun, dia sadar jika ibunya meninggal ketika melahirkannya. Kutukan itu tetap ada.

LPM DIDAKTIKA
Up Next

Related Posts

Discussion about this post

%d blogger menyukai ini: