Bertambahnya Kuota Bidikmisi Melambungkan Asa Mahasiswa Baru

Comment

Kamis (5/7) sampai Jum’at (6/7), ratusan calon mahasiswa penerima beasiswa Bidikmisi yang mendaftar lewat jalur SBMPTN mendatangi Universitas Negeri Jakarta (UNJ) demi melakukan verifikasi. Verifikasi ini bertujuan untuk menghindari manipulasi data yang dilakukan oleh calon mahasiswa. Kegiatan verifikasi Bidikmisi diadakan di dua tempat, yaitu Aula Daksinapati Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) pada hari pertama serta Aula Latief Hendraningrat Gedung Dewi Sartika pada hari kedua.

Berkas-berkas untuk verifikasi Bidikmisi sama dengan ketika pengisian data Bidikmisi secara online dan terpampang jelas di spanduk depan ruang verifikasi. Berkas yang harus dibawa diantaranya: slip gaji Ayah dan slip gaji Ibu, keterangan penghasilan Ayah dan Ibu dari RT/RW (jika Ayah dan/atau Ibu adalah wiraswasta), fotokopi Kartu Keluarga (KK), tagihan Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) terbaru (jika rumah milik sendiri atau milik bersama keluarga lain), tagihan listrik 3 bulan terakhir, dan fotokopi STNK kendaraan (jika ada).

Terlihat banyak calon mahasiswa penerima Bidikmisi yang duduk menunggu giliran untuk dipanggil. Diantaranya ada seorang ibu yang duduk sambil memegang beberapa berkas yang ditaruh di dalam map hijau. Ia sedang menunggu anaknya yang sedang diperiksa berkasnya oleh seorang dosen di dalam ruang verifikasi. Tim DIDAKTIKA pun mendatanginya dan ia mempersilakan kami untuk mengajukan pertanyaan padanya.

Ia bernama Harmini. Ia mempunyai anak perempuan bernama Liviana Maritza, yang diterima di Program Studi (Prodi) Pendidikan Matematika. Harmini menjelaskan bahwa ia juga datang bersama dengan suami dan anak keduanya yang masih duduk di bangku Sekolah Dasar, menggunakan motor. Keluarga kecil ini tinggal di daerah Kramat Jati, Jakarta Timur.

Harmini juga menjelaskan latar belakang ekonominya. “Saya tidak bekerja, sementara suami dagang bumbu masakan secara keliling,” ujarnya. Anaknya juga punya keinginan tinggi untuk kuliah meskipun terganjal mahalnya biaya. “Dari guru BK (Bimbingan dan Konseling –red)-nya menyarankan ia ikut Bidikmisi aja,” tambahnya.

Menurut Harmini, sejak masa sekolah Liviana tertarik dengan matematika dan bercita-cita menjadi seorang guru. “Ia sempat memilih PGSD (Pendidikan Guru Sekolah Dasar –red) saat SNMPTN, tetapi gak lolos,” tambahnya. Liviana memilih Pendidikan Matematika sebagai pilihan pertama dan PGSD sebagai pilihan kedua di SBMPTN.

Saat wawancara berlangsung, Liviana keluar dari ruang verifikasi dan mendatangi ibunya. Ia mengatakan kepada ibunya bahwa ada beberapa berkas yang belum di-fotocopy. Kemudian, Liviana dan Harmini pamit kepada kami, sambil bergegas meninggalkan Aula Daksinapati.

Hal yang sama juga diungkapkan oleh Ferdy, calon mahasiswa penerima Bidikmisi lainnya yang berasal dari Cipinang Muara. Ferdy lolos di pilihan pertama yang ia pilih, Pendidikan Khusus.

Ia mengikuti Bidikmisi atas pertimbangan ekonomi keluarganya yang tidak cukup baik. Kakaknya bekerja di ITC Cempaka Mas dan mengambil kuliah di Universitas Telkom. “Penghasilannya pas-pasan mas, hanya cukup untuk dirinya sendiri,” ujarnya. Sementara ayahnya bekerja sebagai penjual air oxygen untuk kesehatan.

Ferdy juga sempat berdebat dengan orang tuanya mengenai biaya kuliah. “Sebelum dapat Bidikmisi, saya sempat tidak kepikiran untuk kuliah karena orang tua tidak menyanggupi biayanya,” tambahnya. Setelah obrolan singkat itu, namanya dipanggil dan dipersilakan masuk ke ruang verifikasi.

 

Penambahan Kuota Bidikmisi

Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohamad Nasir dalam pidatonya di Kampus C Universitas Airlangga Surabaya telah meningkatkan kuota mahasiswa penerima Bidikmisi, dari sebelumnya 80 ribu menjadi 90 ribu.[1] Peningkatan kuota Bidikmisi ini juga berdampak terhadap UNJ. UNJ dijanjikan kuota Bidikmisi oleh Kemenristekdikti yang berjumlah 1000 mahasiswa pada 2018. “Dibagi menjadi dua tahap, kalau tahap pertama jumlahnya 534 mahasiswa untuk SNMPTN dan SBMPTN, sisanya untuk Seleksi Mandiri” ujar Vera Maya Santi, salah satu staf di Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan UNJ.

Vera memberikan keterangan tentang jumlah kuota Bidikmisi di masing-masing jalur seleksi. Menurutnya, kuota Bidikmisi untuk jalur SNMPTN berjumlah 230 mahasiswa. Namun, setelah verifikasi Bidikmisi untuk jalur SNMPTN diselenggarakan, jumlahnya berkurang menjadi 224 mahasiswa. “Ada 6 calon mahasiswa yang tidak daftar ulang saat itu, kuotanya kita alihkan ke SBMPTN.” tambahnya.

Sementara itu, kuota Bidikmisi untuk jalur SBMPTN di UNJ berjumlah 310 mahasiswa. Namun, yang terdata oleh pihak Kemenristekdikti berjumlah 336. “Kita hubungi satu-satu, ada yang belum daftar ulang dan terdeteksi 26 orang, kita harus mengeliminasi untuk memenuhi kuota.” tegasnya.

Vera juga memberikan keterangan tentang jumlah kuota Bidikmisi di dua tahun terakhir, yaitu 2016 dan 2017. Menurut Vera, di tahun 2016 kuota Bidikmisi untuk UNJ awalnya berjumlah sekitar 400 mahasiswa. “Banyak mahasiswa yang harus diakomodasi dengan Bidikmisi saat itu, kita mengajukan penambahan kuota ke Kemenristekdikti dan diterima,” ucap wanita yang juga merupakan dosen di Prodi Pendidikan Matematika ini. Kuota total setelah ditambah berjumlah 750 mahasiswa.

Selanjutnya, Vera juga menuturkan kuota Bidikmisi untuk UNJ di tahun 2017. Alokasi kuota untuk UNJ menurutnya sebenarnya berjumlah 750 mahasiswa untuk tiga jalur seleksi, yaitu SNMPTN, SBMPTN, dan Seleksi Mandiri. Namun, karena ada isu mengenai perubahan aturan yaitu tidak dialokasikan kuota Bidikmisi ke jalur Seleksi Mandiri, Vera mengatakan bahwa kuota Bidikmisi hanya dipakai untuk dua jalur seleksi saja di tahun tersebut.

Menurut Vera, pada November 2017 Kemenristekdikti membuka kuota untuk jalur Seleksi Mandiri. Sayangnya, UNJ tidak bisa menggunakan kuota tersebut karena sudah dialokasikan semuanya ke dua jalur seleksi. ”Kita tidak bisa mengajukan dana karena kuota Bidikmisi untuk Seleksi Mandiri sudah terpakai sebelumnya,” tuturnya.

Vera kemudian menuturkan tentang Bidikmisi pengganti. Menurutnya, penggantian mahasiswa Bidikmisi bisa dilakukan ketika semester perkuliahan berjalan. “Mahasiswa Bidikmisi bisa dicabut dan diganti kalau statusnya menikah, atau melanggar salah satu kontrak Bidikmisi, atau ada yang lulus 3,5 tahun,” ucapnya.

Penggantinya menurut Vera diambil dari mahasiswa lainnya yang berada di prodi atau fakultas yang sama. “Itu sudah aturan internal dari fakultasnya. Jika tidak ada yang menggantikan (dari fakultasnya), jatah Bidikmisi pengganti bisa dioper ke fakultas lain,” ujar Vera. Vera juga mengatakan jatah Bidikmisi pengganti diprioritaskan kepada mahasiswa yang mengalami kesulitan dalam membayar Uang Kuliah Tunggal (UKT) karena kasus-kasus seperti ayah dan/atau ibunya mengidap penyakit berat.

Vera mengatakan jatah Bidikmisi pengganti tidak diberlakukan pada mahasiswa angkatan 2018. “Kalau ada kasus-kasus yang membuat Bidikmisi dicabut, mulai tahun 2018 tidak dapat lagi dialihkan jatahnya ke mahasiswa lain,” tegasnya.//M. Rizky Suryana

 

Catatan Kaki:

[1] Dadang Kurnia, “Menristekdikti Berencana Tambah Uang Saku Bidikmisi” (www.republika.co.id/berita/nasional/umum/18/03/08/p59iu4359-menristekdikti-berencana-tambah-uang-saku-bidikmisi , diakses 22 Juli 2018, 2018).

LPM DIDAKTIKA
Up Next

Related Posts

Discussion about this post

%d blogger menyukai ini: