Mempertunjukkan Seni Nusantara

Comment

Program Studi (Prodi) Sastra Indonesia Universitas Negeri Jakarta (UNJ), mengadakan pertunjukan seni “GANTARA 2018” pada Rabu, (25/07). Pertunjukan yang bertemakan “Panggung Budaya Nusantara” tersebut, diadakan di Gedung Kesenian Jakarta, Pasar Baru, Jakarta Pusat.

Pertunjukkan tersebut diisi beragam kesenian seperti tarian Nusantara, musik dan lagu, band, permainan senjata, rancak, serta komedi betawi (lenong). Aktor dari kesenian yang dipentaskan tersebut, gabungan dari mahasiswa Program Studi (Prodi) Sastra Indonesia, Bunyi Mayor Minor, Pusake Betawi, Komedi Betawi UNJ, dan Heixtone.

Acara dimulai pukul 19.00 WIB. Diawali dengan musik, dan tarian-tarian. Penonton khidmat menyaksikannya dan fokus mendengarkan. Sunyi, kecuali suara mereka yang pentas dipanggung. Namun, sekitar setengah sembilan malam, kesunyian penonton pecah dan suaranya mulai ramai malam itu. Sebab gelak tawa mereka tidak bisa terbendung melihat lenong.

Lenong tersebut, berjudul “Si Entong Gendut”. Sebelum lenong, dimulai diawali dengan rancak yang memberikan gambaran tentang cerita lenong tersebut. Tentu, rancak tidak lepas dengan pantun-pantun jenaka, tepuk tangan, dan gelak tawa penonton.

Secara garis besar, lenong tersebut menceritakan tentang penjajahan Belanda yang menindas petani. Sang Jenderal yang kadang di panggil “Menir” namun tidak disebutkan siapa namanya, memaksa menaikkan pajak hingga tiga kali lipat. Meskipun ditentang oleh anaknya, sang jenderal bersikeras menaikkan harga pajak.

Kemudian, ada seorang jawara betawi yang menolak pemungutan pajak yang makin tinggi oleh belanda. Dialah Entong Gendut, yang menjadi harapan para petani. Setelah berkelahi dengan centeng dan penarik pajak, cerita diakhiri dengan tumbangnya Entong Gendut akibat peluru tembakan yang mengenai tubuhnya.

Meskipun akhir cerita terkesan mengerikan, kejenakaan khas lenong Betawi tetap tidak hilang. Dibalik kejenakaannya, tetap terselip pesan yang disampaikan oleh entong gendut setelah peluru bersarang ditubuhnya. “Gua boleh mati. Tapi semangat elu pade jangan sampe mati”.

 

Tanggapan terhadap acara
Penonton pun memberikan respon positif terhadap acara tersebut, salah satunya Hikmawati Diyas Nussa dari Prodi Sastra Indonesia UNJ. Mahasiswa yang akrab dipanggil Hikmawati tersebut mengatakan, acara tersebut bagus karena kontennya mengangkat kebudayaan lokal. Hikmawati pun menganjurkan acara ini sebaiknya ada setiap tahun. “Karena kontennya baik untuk generasi hari ini yang mulai melupakan kebudayaan lokal,” ucap Hikmawati.

Senada dengan Hikmawati, Juniharto Jati mengatakan acara tersebut cukup bagus. Terutama ketika lenong ditampilkan. Menurutnya, adegan lenongnya lucu. “Acaranya lumayan apik, teknis acaranya sudah bagus. Banyak guyonan lucu,” ucapnya.

Sayangnya, menurut Juniharto, masih ada beberapa kekuarangan dalam lenong yang diperankan beberapa pemeran lenong kurang cocok memerankan karakter dalam lenong tersebut. “Jadi agak kurang pas aja,” terangnya.

Alesandro, selaku ketua penyelenggara acara mennyampaikan kebanggaanya, karena acara berjalan sesuai dengan ditargetkan para panitia. “Antusiasme penonton sudah cukup tinggi dan sesuai target,” ucapnya.

Ia menambahkan, bahwa kata Nusantara yang ada pada akronim “Gantara”, yang kemudian menjadi tujuan diadakanya acara tersebut. Tujuannya, yaitu memperkenalkan seni dan budaya Nusantara. “Supaya budaya di Indonesia tetap lestari,” tambahnya.//M. Muhtar

 

Editor: Uly Mega S.

LPM DIDAKTIKA
Up Next

Related Posts

Discussion about this post

%d blogger menyukai ini: