Perang melawan Hoax: Saring sebelum Sharing

Comment

Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Jakarta bersama dengan Google News Initiative mengadakan workshop bertema Hoax Busting and Digital Hygiene pada Jumat, 27 Juli 2018. Acara yang diadakan di lantai lima hotel Grand Cemara tersebut dihadiri oleh berbagai kalangan masyarakat, antara lain: mahasiswa, dosen, blogger serta pegiat pers.

Adapun latar belakang diadakannya acara tersebut mengarah pada kasus-kasus menjamurnya berita hoax di kalangan masyarakat. Selain itu, keamanan akun individu di media sosial juga menjadi sorotan bagi AJI.  Kasus seperti pembajakan media sosial yang terjadi pada Mark Zuckcerberg dan mantan hakim Mahkamah Konstitusi (MK), Jimly Asshiddiqie, umpamanya.

Afwan menampilkan data statistik pada presentasinya, yang menyatakan jumlah pengguna internet di Indonesia. Sekitar 54,68% atau 143,26 juta jiwa masyarakat Indonesia menggunakan internet. Artinya, separuh masyarakat Indonesia mengakses internet dan berpotensi untuk menerima maupun memperparah berita hoax –dengan cara menyebarkannya. Bahkan, Indonesia juga masuk dalam peringkat lima besar dunia mengenai jumlah pengguna internet yaitu setelah China, India, United States, dan Brazil.

Menurut Afwan, kondisi seperti ini berbahaya. Indonesia menjadi Negara dengan pengguna internet ke lima sedunia, namun tidak dibarengi dengan sikap kritis masyarakatnya. Afwan menyatakan, minimnya sikap kritis masyarakat dikarenakan  tingkat literasi masyarakat Indonesia masih sangat rendah. Lagi, ia menampilkan data statistik pada presentasinya. Indonesia dinyatakan menduduki peringkat ke 60 dari 61 Negara dalam hal berliterasi. “Miris, tingkat literasi masyarakat Indonesia berada di bawah Vietnam, bahkan Afrika Selatan” ucapnya. Bagi Afwan, rendahnya kebiasaan berliterasi masyarakat mendukung situasi di mana hoax dengan leluasa menjamur. “Kalau tingkat berliterasi rendah, daya kritis masyarakat juga rendah. Hoax jadi gampang menyebar karena informasi nggak disaring

 

Melawan hoax

Menurut Nurfahmi Budiarto, pemateri yang juga mengisi acara ini, maraknya hoax yang menyebar dapat terjadi karena faktor misinformasi dan disinformasi. Ia menjelaskan, misinformasi merupakan fenomena di mana pembaca merasa suatu informasi adalah benar, padahal informasi tersebut salah. Dalam hal misinformasi, pembaca yang menyebarkan informasi tersebut bersifat tidak sengaja. Sedangkan disinformasi merupakan fenomena di mana pembaca tahu bahwa suatu informasi tersebut salah, namun tetap menyebarkan informasi tersebut. Dalam hal disinformasi, penyebaran informasi bersifat disengaja.

Adapun dis-misinformasi menurut Nurfahmi, dilatarbelakangi oleh tujuh alasan, antara lain: faktor jurnalisme yang lemah, provokasi, partisanship, gerakan politik, propaganda, mencari uang (clickbait – iklan), dan untuk sekadar lucu-lucuan.

Bagi Nurfahmi, fenomena  ini sangat erat kaitannya dengan hoax. “Saring sebelum sharing!,” ungkapnya. Ia kemudian memaparkan cara-cara yang dapat dilakukan masyarakat Indonesia untuk mencegah penyebaran hoax serta dis-misinformasi.

Pertama, cek alamat situs. Nurfahmi menyarankan website who.is untuk melacak informasi tersebut. Kedua, Perhatikan detail visualnya. Nurfahmi mengatakan berita hoax menampilkan desain visual yang hampir mirip dengan situs resmi. Ketiga, berhati-hatilah dengan iklan. Mungkin saja, jika iklan tersebut hanya click-bait.

Lanjut ke poin keempat dan kelima, perhatikan ciri-ciri pakem media. “Media abal-abal biasanya tidak punya ciri khas, kadang nama penulis tidak dicantumkan,” tuturnya. Selanjutnya, cek profil redaksinya. Media kredibel biasanya mencantumkan susunan redaksi, sedangkan media abal-abal biasanya anonim. Keenam, Nurfahmi mengatakan bahwa pengguna internet hati-hati dengan judul yang terlalu sensasional. Jangan langsung percaya suatu informasi hanya dengan membaca judulnya saja.

Terakhir, cek situs mainstream. “Jika terdapat berita tentang suatu informasi yang mencatut sebuah situs mainstream sebagai sumbernya, cek langsung ke situsnya, apakah benar mereka menulis berita itu?” ujar pemateri yang dulunya bekerja di Tribunnews ini. Pengguna internet juga dapat menggunakan kata kunci ‘in site’ pada google untuk mencari suatu informasi dalam suatu situs secara detail.

Selain memaparkan cara-cara mencegah penyebaran hoax, Nurfahmi dan Afwan juga mengungkapkan beberapa tools yang dapat membantu masyarakat Indonesia dalam menyaring informasi. Tools yang digunakan tersebut dapat diakses lewat internet, antara lain: Google reverse images, Google maps, dan Google street views.//Annisa Nurul H.S.

 

Editor : M. Rizky Suryana

LPM DIDAKTIKA
Up Next

Related Posts

Discussion about this post

%d blogger menyukai ini: