Get Up Stand Up, Pesan Seorang Rastafarian untuk Melawan Penindasan

Comment

Get up, stand up, stand up for your rights!

Get up, stand up, don’t give up the fight!

Demikian sebuah penggalan lirik dari salah satu lagu yang ditulis oleh Bob Marley, vokalis The Wailers yang bertajuk Get Up, Stand Up. Lagu ini dirilis pada 1973 dan menjadi lagu terlaris di album Burnin’. Lagu ini sering dibawakan oleh Marley di tengah-tengah masyarakat kelas bawah Jamaika. Lagu ini merupakan representasi perlawanan masyarakat kulit hitam terhadap segregasi dan diskriminasi rasial. Selain itu, lagu ini menunjukkan karakter Marley dan grup musik-nya yang menganut ajaran Rastafarian.

Rastafarian yang dianut oleh Marley sendiri adalah sebuah ajaran dari agama Kristen yang dibentuk oleh pemimpin politik Jamaika, Marcus Garvey pada 1920-an. Ajaran ini menginginkan orang-orang kulit hitam yang bermukim di Benua Amerika untuk pulang ke tanah airnya, melepaskan identitasnya sebagai “kaum yang tertindas”. Ethiopia yang saat itu dipimpin oleh Haile Selassie (nama sebelumnya Ras Tafari, menjadi inspirasi dari nama gerakan ini) merupakan “surga di bumi” bagi kaum Rastafarian. Tersirat dari lirik yang ditulis oleh Marley; Heaven is under the earth. Marley ingin cita-cita Garvey dan masyarakat kulit hitam lainnya terwujud. Gerakan ini sama seperti kaum Zionis yang menginginkan kembali ke tanah airnya, Jerusalem, setelah diusir oleh berbagai bangsa yang menaklukkannya.

Penindasan memang marak terjadi pada mereka, bahkan sampai dibuat aturan Jim Crow di Amerika Serikat pada 1876 yang membatasi orang-orang kulit hitam untuk menikmati fasilitas publik. Fasilitas yang diberikan oleh mereka lebih jelek dibandingkan dengan orang-orang kulit putih. Mereka dipinggirkan dari kehidupan modern. Mereka dipaksa untuk menempati desa-desa yang cenderung kumuh dan tidak berkembang. Separate but equal, itulah doktrin yang dikumandangkan oleh pemerintah Amerika Serikat saat itu. Doktrin ini disetujui di Pengadilan Tinggi Plessy v. Ferguson pada 1896. Dengan demikian, gerakan masyarakat kulit hitam pun dapat diredam.

Aliran musik reggae yang diusung oleh Marley dalam lagu ini membuat cita rasa “seruan terhadap gerakan” menjadi nikmat. Marley menggambarkan masyarakat kulit hitam yang tertindas dalam lagu ini dalam liriknya; I know you don’t know, what life is really worth. Mereka benar-benar tidak tahu bagaimana harus hidup dengan layak. Mereka dibawa dari Afrika menuju Amerika dan dijadikan budak bagi orang-orang kulit putih. Mereka dinilai sebagai barang dagangan dan dijadikan media pertunjukan seperti binatang di sirkus. Jika berontak terhadap majikannya, mereka seketika dianggap kriminal dan pantas untuk dibunuh. Nilai-nilai kemanusiaan terhadap golongan ini seketika gugur, dengan kata lain masyarakat kulit hitam digambarkan sebagai iblis dan masyarakat kulit putih digambarkan sebagai malaikat[1].

Marley juga menyisipkan pesan bahwa masyarakat kulit hitam tidak bisa terus menerus dibodohi oleh para elit; You can fool some people sometimes, but you can’t fool all the people all the time. Karakter Marley dan para Rastafarian yang tidak mau tunduk terhadap siapapun, termasuk menolak pusat Katolik Vatikan yang wajib untuk dilawan. Vatikan dianggap bertentangan dari tujuan Rastafarian, penganutnya terikat dalam protokoler uskup yang elitis. Vatikan juga dianggap sebagai representasi masyarakat kulit putih oleh para Rastafarian. Sementara itu, Rastafarian menurut Marley menginginkan kebebasan dan menyatu dengan alam.

Rastafarian seakan keluar dari patron agama Kristen pada umumnya. Contohnya, dengan membaca injil sambil menghisap ganja. Ganja bagi kaum Rastafarian adalah penggambaran terhadap kebijaksanaan, tapi dilakukan sebagai pilihan. Selain itu, mereka menolak untuk memotong rambut dan membiarkannya terbentuk gimbal (dreadlocks). Alkohol dan daging babi haram bagi Rastafarian, karena mereka menginginkan makanan yang ital, bersih dan alami[2].

Meskipun secara lisan mereka menolak Kristen yang dianggap memperbudak orang lain, tetapi ajaran ini cukup skeptis dikarenakan adanya sinkretisme antara Kristen dan Yahudi dengan balutan cara-cara a la masyarakat kelas bawah Jamaika. Mereka pun masih beribadah di gereja, tentunya dengan cara-cara mereka sendiri. Gerakan Rastafarian sebenarnya hanyalah sebuah gerakan yang menolak patuh terhadap orang-orang Eropa dan menjunjung supremasi Afrika. Bagi kaum Rastafarian, tidak ada maaf bagi orang-orang Eropa selama mereka memperalat orang-orang Afrika dan mengeruk sumber dayanya.

Marley memberi pesan dalam lirik lagu ini bahwa mesias tidak harus ditunggu, melainkan kita lah yang akan menjadi mesias bagi diri sendiri dan orang lain. Kita lah yang akan membebaskan diri dari yang namanya ketertindasan. Pesan yang dibawa oleh Marley dalam lagu ini berlaku universal dan menjadi sebuah hymne bagi kaum-kaum yang tertindas. Great God will come from the skies, take away everything, and make everybody feel high.

 

DATA LAGU

Judul: Get Up, Stand Up

Tahun Rilis: 1973

Genre: Reggae

Durasi: 3:15

Penulis: Bob Marley dan Peter Tosh

Produser: Chris Blackwell dan The Wailers

 

Penulis: M. Rizky Suryana

Editor: Annisa Nurul H.S.

 

Catatan Kaki:

[1] Jude Wanniski, “Tim Russett Interview with Farrakhan, NBC – Meet the Press” (www.polyconomics.com/memos/mm-970416/, diakses 19 Juli 2018, 1997).

[2] Dany, “Mengenal Rastafarian, Aliran Kepercayaan yang Sering Diidentikkan dengan Ganja” (www.boombastis.com/fakta-aliran-rastafarian/136060, diakses 19 Juli 2018, 2018)

LPM DIDAKTIKA
Up Next

Related Posts

Discussion about this post

%d blogger menyukai ini: