Usaha Menafsirkan Film The Incredibles 2

Comment

 

Film                      : The Incredibles 2

Produser              : John Walker dan Nicole Paradis

Penulis                 : Brad Bird

Produksi              : Pixar Animation Studios

 

Alur cerita mungkin bukan jadi andalan film The Incredibles 2, melainkan isi ceritanya cukup asyik buat dinikmati. Film sekuel dari The Incredibles ini pertama kali tayang di Amerika 15 Juni 2018. Di Indonesia, film ini masih diputar di bioskop-bioskop sampai saat ini. The Incredibles 2 menceritakan tentang keluarga Parr, alias The Incredibles, yang terpaksa harus pensiun sebagai superhero. Mereka dan teman superhero-nya, Frozone, dianggap merugikan negara dalam aksi menyelamatkan Metroville Bank dari upaya perampokan oleh Underminer.  Alih-alih menangkap Underminer, The Incredibles dan Frozone banyak merusak fasilitas umum.

Keluarga Parr kepusingan harus mencari pekerjaan baru yang normal dan legal. Dari adegan itulah kita bisa melihat bagaimana potret keluarga yang banyak ditemui di Indonesia. Mulai dari membicarakan susahnya mencari pekerjaan sampai menjamin kesejahteraan anak-anak.

Di tengah kebingungan yang melanda keluarga Parr, Frozone tiba-tiba datang mengajak mereka untuk bergabung dalam misi yang sangat penting baginya: melegalkan superhero. Ide tersebut datang dari pengusaha kaya bernama Winston. Devtech, perusahaan milik Winston, bersedia memfasilitasi mereka dalam menjalankan aksi-aksi mereka. Mr. Incredibles dan Elastigirl pun setuju dengan misi tersebut.

Ya, setelah itu memang jalan ceritanya sudah ketebak: mereka beraksi lagi. Meskipun ada banyak perbedaan dari aksi-aksi sebelumnya. Namanya juga film animasi pahlawan. Namanya juga sekuel.

Tapi banyak banget sebenarnya pesan-pesan terselubung dari film The Incredibles 2 ini. Mulai dari ngomongin isu perempuan, keluarga, sampai diskriminasi usia. Yang plus-plus dari film ini sebenarnya adalah kelucuan si bayi super, yaitu Jack Jack.

  1. Menepis stereotip negatif perempuan

Jika di film sebelumnya, tokoh utamanya itu Mr. Incredibles, di film yang kedua ini adalah Elastigirl yang jadi perhatian. Winston mempunyai strategi untuk melegalkan superhero. Pertama-tama, ia harus membangun citra bagus superhero di masyarakat sebelum semua superhero tampil. Ia memilih Elastigirl di antara mereka bertiga (Mr. Incredibles, Elastigirl, dan Frozone). Elastigirl dipilih bukan karena dia cantik dan seksi, melainkan dia itu teliti, cerdik, dan paling sedikit membuat kerusakan atau kerugian saat beraksi.

 

  1. Beban ganda perempuan itu bisa diatasi

Saat Elastigirl dipilih sebagai pionir superhero, terjadilah dilema. Di sisi lain dia senang dipilih sebagai superhero pertama yang akan menjalankan misi tersebut. Sehingga ia senang menjalankan pekerjaannya. Akan tetapi, ia khawatir akan keluarganya. Awalnya dia ingin menolak tawaran tersebut karena kekhawatirannya kepada keluarganya, terutama anak-anaknya yang masih bersekolah. Dengan legowo Mr. Incredibles mendorong Elastigirl untuk melakukan yang dia suka. Mr. Incredibles tahu kapan saatnya dia beraksi, dan kapan saat istrinya juga mempunyai kesempatan yang sama.

Dengan gamblang film ini juga mengajarkan kita jika suatu saat nanti kita menikah, haruslah dibangun atas komunikasi dan kesepakatan. Istri bukanlah konco wingking, begitu pun suami. Relationship is partnership. Mantap.

 

  1. Belajar untuk tidak mendiskriminasi usia

Isu ini jarang banget sih kayanya jadi perhatian di Indonesia. Selain karena terbentur (lebih tepatnya sih bias) dengan nilai dan norma, diskriminasi usia ini seringkali dianggap engga ada. Sering banget kita dengar orang dewasa bilang gini ke anak kecil, “jangan dia deh kalau bisa. Dia kan masih kecil. Mana bisa!” atau sebaliknya, “jangan dia, dia kan udah tua. Ga akan sanggup. Berat!” Hal ini dianggap biasa di Indonesia. Padahal kan kita belum tahu juga dia bisa atau engga.

Nah, itu juga terjadi di film The Incredibles 2. Hampir setiap aksi, Mr. Incredibles dan Elastigirl meragukan anak-anaknya. Padahal sejak film yang pertama anak-anaknya sudah hebat. Selalu punya cara untuk menyelamatkan diri mereka dari para penjahat dunia. Tapi emang sudah mendarah daging kali, yah. Sayang, kemampuan superhero anak-anaknya ini masih aja diragukan. Di sekuel ini, Mr. Incredibles dan Elastigirl meragukan anak-anaknya. Dari mulai aksi penangkapan Underminer sampai penangkapan musuhnya yang teranyar, yaitu Screenslaver. Tapi kan, padahal… (yah begitulah. Saya engga mau spoiler terlalu dalam).

 

  1. Kesetiaan

Ini nih yang paling susah didapatkan. Kesetiaan. Di zaman sekarang kesetiaan itu mahal. Ya, orang bisa saja berkhianat gara-gara kamu engga lebih menguntungkan dari penawaran yang baru saja datang. Tapi, lagi-lagi film ini mengajarkan kebaikan.

Dari film pertama dikisahkan The Incredibles itu selalu pakai kostum buatan bibi-bibi serius, yaitu Edna E. Mode. Tiba-tiba mereka bergabung dengan perusahaan Wanston sehingga kostumnya harus ganti dan pakai desainer yang beda. Edna sih sedih, apa lagi The Incredibles engga ada omongan sedikit pun mau ganti kostum.

Tapi saat The Incredibles butuh bantuan, dia selalu siap siaga membantu  dengan kejutekan yang alami. Ya, emang begitu wataknya.

 

Masih banyak sebenarnya pesan-pesan terselubung di film The Incredible 2 ini. Langsung saja kalau mau diskusi tentang film ini datang ke sekretariat Didaktika di Gedung G ruang 304. Siapa tahu kita bisa bedah film di sini… Bye!

 

Penulis: Yulia Adiningsih

Editor: Lutfia Harizuandini

LPM DIDAKTIKA
Up Next

Related Posts

Discussion about this post

%d blogger menyukai ini: