Wawancara Khusus: Kebebasan Akademik adalah Kunci

Comment

Robertus Robet merupakan Koordinator Program Studi (Prodi) Sosiologi. Tim Didaktika menemui ia di kantor Prodi Sosiologi. Dalam wawancara khusus kali ini, kami membawakan tema mengenai kultur akademik. Robet akan menjelaskan mengenai kultur akademik dengan baik. Simak bincang-bincang Didaktika dengan Robertus Robet.

Apa itu kultur akademik?
Kultur akademik adalah seperangkat nilai dan praktik di dalam suatu lingkungan akademis yang dilakukan dalam upaya menemukan, mempertahankan kebenaran ilmiah. Itulah kultur akademik.

Dalam implementasinya, bagaimana kultur akademik yang seharusnya?
Kultur akademik yang baik akan menciptakan lingkungan ilmiah yang bagus. Tahap umumnya adalah menciptakan lembaga pendidikan universitas/sekolah lebih bagus atau bermutu.

Bagaimana cara meneumbuhkan budaya akademik yang baik?
Pertama adalah kebebasan akademik. Yang pertama-tama harus dijamin yang mananya penyelenggara kebebasan akademik, supaya orang dapat bebas berpikir terlebih dahulu, karena kebenaran ilmiah syaratnya adalah kebebasan berpikir, baru seseorang dapat menemukan kebenaran ilmiah.
Kedua adalah ini yang penting. Harus didukung birokrasi akademik dan terdapat birokrasi akademik yang sehat. Manajemen akademik yang sehat adalah yang berfungsi sebagai supporting system bagi terselenggaranya kebebasan akademik dengan cara yang beragam. Contoh mensupport dari segi prasarana, dan juga dari segi software misal aturan-aturan atau mekanisme yang memungkinkan setiap civitas akademika itu bisa mengaktualisasikan pikiran dan kebebasannya dalam rangka mencari ilmu.
Ketiga adalah lingkungan kampus yang manusiawi dan nyaman, yang memungkinkan orang bisa berpikir dengan enak, dan bisa berdiskusi dengan nyaman. Selain itu, infrastrukturnya juga bisa merangsang pergulatan pemikiran, merangsang perdebatan gitu loh. Kalau itu terpenuhi itu yang akan menghasilkan suatu kondisi nilai-nilai praktik akademik yang sehat dalam sebuah kampus. Jadi kampus itu nantinya akan dipenuhi oleh kegitan berpikir, bukan kegiatan politis, dan bukan dalam kegiatan-kegiatan birokratisasi. Birokrasi ada di dalam rangka menopang untuk mensupport orang berpikir bukan malah sebaliknya, mematikan orang berpikir.

Menurut bapak, kultur akademik di UNJ bagaimana?
Kultur akademik kita ini masih buruk dan harus diperbaiki, karena apa? Terlihat dari masih minimnya diskursus akademik yang berkembang dalam kehidupan sehari-hari. Habitus di UNJ itu masih terlalu banyak diwarnai oleh birokratisasi, domestik politik, dan urusan-urusan privat. Nah, itu menjadi beban dari manculnya budaya akademik yang lebih maju di UNJ. Itu semua mesti disingkirkan, budaya akademik kita masih buruk.

Apakah sejauh ini kebijakan UNJ mengarah ke perbaikan akademik?
Setelah Pelaksana Tugas (Plt.) Rektor ada sedikit kemungkinan ada arah untuk memperbaiki. Ada peluang untuk memperbaiki budaya akademik UNJ, tapi ini Plt. Rektor sifatnya sementara, budaya akademik tidak dapat dibangun tapi dia memberikan syarat adanya satu kebijakan yang determinan dan serius untuk memperbaiki budaya akademik itu. Contohnya adalah mengubah mata rantai birokrasi menejemen yang selama ini terus menggrogoti budaya akademik kita.

Apa penyebab kultur akademik kita buruk?
Satu, karena menurut saya kita terlalu banyak inbreedingInbreeding itu kita mencari dosen-dosen yang berasal dari kampus ini, UNJ rekrut dosennya dari lulusan UNJ. Itu menghambat pertukaran pikiran dan justru menimbulkan patronase yang tidak sehat
Kedua nepotisme, anak si ini saudara si ini dibawa masuk semua. Nepotisme berdasarkan kekeluargaan mau pun kedaerahan atau berdasarkan kelompok. Nah, itu banyak terjadi di UNJ, hal tersebut mengosongkan akal sehat, karena apa? Itu juga menghasilkan budaya yang mampet karena orang-orang lebih banyak terlibat dalam hubungan yang bersifat primordial nantinya, ketimbang perdebatan dalam pemikiran./Aditya S.

 

Editor: M. Muhtar

LPM DIDAKTIKA
Up Next

Related Posts

Discussion about this post

%d blogger menyukai ini: