PKKMB: Pembungkam Kesadaran Kritis Mahasiswa Baru

Comment

Pemandangan tidak biasa terlihat di Universitas Negeri Jakarta menjelang Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB). Terlihat wajah-wajah mahasiswa Baru (maba) memenuhi pelosok-pelosok kampus sambil duduk melingkar layaknya orang yang sedang tahlilan. Aktivitas dan obrolan mereka tidak jauh dari tugas-tugas PKKMB. Ada yang membicarakan tugas kelompok ada pula yang sampai bersorak melatih kekompakan yel-yel mereka.

Mimik wajah mereka juga beragam, ada yang bahagia, ada pula wajah murung. Dari kesemuanya, hampir tidak terdengar obrolan mereka soal hal akademis. Seperti mendiskusikan permasalahan kampus. Ah, mungkin saja panitia menganggap kampus ini baik-baik saja, atau mungkin maba terlalu sibuk dan takut apabila tidak mengerjakan tugas, akan dibentak oleh kakak-kakak galak.

Melihat para maba, timbul suatu pertanyaan yang menjadi bahan renungan. Sebenarnya, PKKMB ini mengenalkan kehidupan kampus, atau Pembungkam Kesadaran Kritis Mahasiswa Baru (PKKMB)?

 

PKKMB Tidak Menggambarkan Kultur Akademik

Sebelum jauh ke pembicaraan soal PKKMB, pertanyaan yang paling mendasar adalah apa itu kultur akademik?

Robertus Robet, salah satu dosen sosiologi pernah mengatakan bahwa kultur akademik akan tercapai apabila ada suatu kebebasan akademik.

Menurutnya, kultur akademik merupakan seperangkat aturan, nilai, praktik dalam lingkungan akademis yang bertujuan untuk mempertahankan kebenaran ilmiah.

Kemudian, kultur akademik itu sendiri akan terwujud apabila ada kebebasan akademik. Dalam hal ini, kebebasan yang dimaksud adalah kebebasan untuk berpikir. Kebebasan berpikir harus ada, karena dengan adanya hal tersebut, manusia bisa berpikir luas. Universitas pun perlu menjamin kebebasan tersebut.

Dalam tataran PKKMB, yang semestinya dilakukan adalah memberikan kebebasan berpikir kepada para maba. Hal itu tidak akan terjadi apabila maba masih berada di bawah tekanan. Tekanan yang dimaksud adalah tekanan para senior.

Dengan adanya tekanan dari senior, maba tidak berani mempertanyakan suatu hal yang diucapkan oleh senior-seniornya. Terlebih lagi, ada peraturan konyol seperti “senior selalu benar”. Peraturan tersebut sudah lawas.

Namun, sampai saat ini masih dipertahankan guna menjaga wibawa para senior agar terlihat superior di hadapan para maba.

Tidak adanya kebebasan juga bisa dilihat dari adanya penyeragaman. Dari kaki sampai kepala maba diseragamkan. Apabila hal itu tidak dilaksanakan, maba terancam dipermalukan di depan maba lainnya.

Penyeragaman dilakukan dengan alasan kerapihan dan kedisiplinan. Akan tetapi, maba tidak diberikan ruang untuk mengekspresikan dirinya. Parahnya lagi, konsekuensi yang didapatkan maba ketika melanggar adalah mendapatkan hukuman yang tidak rasional. Maba biasanya dihukum para panitia yang mengatasnamakan dirinya sebagai komisi disiplin (komdis) dengan hukuman layaknya anak Sekolah Dasar (SD) yang tidak mengerjakan Pekerjaan Rumah (PR), yaitu disetrap, dihardik, atau disuruh bernyanyi di depan maba lainnya. Miris, mereka dijadikan seperti badut yang dipertontonkan di depan pertunjukan.

Adanya penyeragaman juga membuat maba terlihat seperti buruh pabrik ataupun pegawai perusahaan. Hal tersebut juga merupakan indikasi adanya usaha penyeragaman pola pikir agar selalu menuruti perintah para senior.

Tidak adanya kebebasan akademis untuk para maba, membuat kesadaran kritis para maba terbungkam.

Menurut Paulo Freire salah satu filsuf pendidikan, kesadaran kritis adalah suatu keadaan di mana manusia mengetahui permasalahan-permasalahan yang ada di lingkungannya.

Freire juga mengatakan bahwa kesadaran kritis akan terbentuk apabila ada proses dialektika dalam lingkungan akademisnya. Hal itu bisa terjadi jika semua manusia menjadi subjek dalam proses akademis.

Pada tataran PKKMB, hampir tidak ada proses dialog diantara mahasiswa baru dengan para panitia. Dalam hal penugasan, panitia hanya menyerukan tugas, tanpa memaparkan, mengapa maba harus melaksanakan tugas tersebut. Terlebih lagi, tugas yang diberikan kebanyakan tidak ada kaitannya dengan proses akademik maba. Padahal, di kelas maba harus berani bertanya, menganalisis suatu masalah secara mendalam. Namun, PKKMB yang harusnya memperkenalkan kehidupan kampus, malah menjauhkan maba dari realitas akademis kampus.

 

Tugas yang Pura-pura Akademis

Guna menutupi kebobrokan PKKMB, terdapat suatu tugas yang seakan-akan bersifat akademis, yaitu maba disuruh menulis essai. Biasanya, penulisan essai tersebut dengan tema yang telah ditentukan oleh panitia. Kemudian, mahasiswa diberikan kebebasan untuk mengembangkan tema tersebut.

Kendati demikian, apakah maba benar-benar mendapatkan kebebasan ketika tema sudah ditentukan? Memang terlihat maba itu bebas, tetapi sebenarnya kebebasan yang ada adalah kebebasan semu.

Dalam hal ini, maba bebas mengembangkan tema, namun pikiran maba terkungkung dalam tema yang ditentukan oleh panitia. Padahal, akan lebih baik apabila maba bebas menuliskan apa yang ada di pikiran dia. Apabila hal tersebut dilakukan, maba menjadi lebih leluasa untuk mengembangkan pikiran dia tanpa batasan-batasan tema dari panitia.

Dalam tataran teknis, penugasan essai juga tidak jelas. Ketika maba menulis essai dengan tema yang ditentukan, gagasan murni maba tidak akan bisa tersalurkan lewat tulisan, karena maba akan sibuk mencari jawaban di internet tentang tema yang ditentukan panitia. Akhirnya, maba hanyalah mencomot dari internet sehingga timbul plagiarisme sejak dalam pikiran.

Selain itu, ketidakjelasan pengkoreksian essai juga harus dipertanyakan. Bagaimana penilaian essai tersebut? Hebat! pengkoreksian essai sangatlah cepat, yaitu pagi dikumpulkan, sore sudah ada hasilnya. Sedangkan, satu fakultas saja terdapat mencapai ratusan mahasiswa. Panitia sudah seperti mesin pengkoreksi saja. Akhirnya, tugas ini hanyalah formalitas saja, dan lagi-lagi, gagal membangun kesadaran kritis mahasiswa.

 

Koar-koar MAHASISWA HARUS KRITIS!

Terdapat suatu hal yang unik dalam PKKMB, yaitu adanya organisasi yang menjadi pemerintah di kalangan mahasiswa. Biasanya, organisasi tersebut menampilkan ke-aktivisannya di hadapan maba. Seakan-akan, merekalah organisasi yang selalu menentang birokrat. Sebut saja, organisasi itu adalah Badan Elit Mahasiswa (BEM), hehehe.

Teriakan yang selalu terdengar di telinga maba, HIDUP MAHASISWA! Mereka menonjolkan dirinya sebagai organisasi yang berjiwa aktivis serta kritis.

Tetapi, mereka tidak merasa berdosa, bahwa merekalah yang membuat maba menjadi badut, yang menggunakan pakaian yang mereka inginkan. Serta, mereka juga yang bertanggung jawab atas hilangnya daya kritis mahasiswa baru, karena sejak awal mereka hanya memberikan perintah-perintah kepada maba, tanpa mengadakan dialog bersama maba. Hal itu mereka lakukan, karena mereka menganggap dirinya sebagai pemerintah di kalangan mahasiswa.

Begitu banyak yang harus dikritisi dari kegiatan PKKMB. Hal-hal di atas sudah sepatutnya menjadi bahan evaluasi, baik dari pihak kampus maupun pihak panitia dari kalangan mahasiswa. Karena, untuk mengenali kehidupan kampus tidak bisa disederhanakan menjadi rangkaian acara PKKMB.

Mahasiswa baru semestinya mendapatkan kebebasan, bukan mendapatkan ketertindasan. Meskipun maba tidak menyadari ketertindasan tersebut. Kenyataannya, ketertindasan itu tertuang dalam penugasan dan penyeragaman. /Qori Hadiansyah

LPM DIDAKTIKA
Up Next

Related Posts

Discussion about this post

%d blogger menyukai ini: