Tutu Ingin Kuliah

Comment

Suasana berdebu di jalanan Jakarta membuat Tutu menjadi lebih bersemangat dalam memacu sepada bututnya. Pria tersebut memiliki wajah garang dan berkulit hitam, layaknya Eric Killmonger yang menjadi musuh T’Challa dalam film Black Panther. Hari ini adalah hari terakhirnya untuk Ujian Nasional (UN) SMA. Hari-hari yang membosankan di masa SMA akan segera pergi. Hatinya begitu senang. Ia bisa mencari orang lebih tangguh darinya dalam berkelahi, mungkin akan dia temukan di Universitas. Tutu dikenal sebagai pria yang sangat kuat di SMA-nya, pernah ia memukul dada seorang jagoan di SMA-nya hingga dada orang tersebut berbekas membentuk tangan Tutu, kata Tutu itu adalah pukulan “cap”.

Akhirnya Tutu sampai di parkiran SMA-nya, ia pun langsung menaruh asal sepedanya “ini tanah negara dan gua putra negara”. Kalimat itulah yang membuat dia merasa bebas melakukan apapun di negara ini. Walaupun Tutu pandai berkelahi dan nakal ia tetaplah siswa yang pintar, menurutnya berkelahi dan kenakalan hanyalah sebuah hobi. Hari ini adalah mata pelajaran Sosiologi, ia yakin bisa mengerjakannya, karena menurutnya soal UN adalah soal “sampah” dan sangat mudah di kerjakan.

Waktu pun melesat tajam, Tutu pun akhirnya selesai menyelesaikan UN. Setelah sampai di rumah Tutu pun langsung memikirkan akan kuliah dimana dia. Dalam lamunannya tersebut ia ingat bagaimana ia di datangi bapaknya lewat mimpi

“Nak, kalo sudah besar tolonglah jadi guru walaupun miskin kamu berguna, eh tapi kamu jangan miskin, kalo kamu miskin korupsi aja dana sekolahmu atau jual aja buku-buku. Kamu sendiri yang jual mahalin ya harga bukunya.” Beginilah pesan bapak Tutu lewat mimpi.

Akhirnya Tutu pun langsung memantapkan pilihannya untuk menjadi guru dan ia tidak akan korupsi, karena teringat bagaimana bapaknya mati karena mencuri ayam paling indah kokokannya.

Setelah berpikir lebih lanjut ia pun memutuskan untuk berkuliah di Universitas Negeri Jakarta (UNJ) mengingat kampus tersebut dekat dari rumahnya dan juga termasuk kampus negeri.

Akhirnya Tutu pun mempersiapkan untuk mengikuti SBMPTN, namun sayang ia tidak memiliki buku-buku tentang SBMPTN. Ia berpikiran untuk meminjam buku dari kaka kelasnya, tapi karena ia dikenal nakal, tidak ada yang ingin meminjaminya. Hal ini membuat Tutu bertekad mengumpulkan uang mengingat kondisi ibunya yang hanya berkerja sebagai tukang cuci baju dari tetangga yang satu ke tetangga yang lain.

Tutu pun melamar kerja ke sebuah pabrik pembuatan batu bata, tanpa pikir panjang pemilik pabrik tersebut langsung menerima Tutu dilihat dari postur tubuhnya yang tegak dan berisi, mungkin ia akan menjadi karyawan yang cukup cakap di pabrik tersebut. Tutu pun bekerja bagai orang gila yang keserupan, kombinasi gila dan kesurupan adalah kerja dengan sangat hebat. Ia mampu menyelesaikan 60 batu bata dalam satu hari dan 1 batu bata dihargai Rp700,- oleh sang pemilik pabrik.

Karena berkerja Tutu mampu menghasilkan Rp42.000,- dalam sehari dan selama sebulan ia mampu menghasilkan uang sebanyak satu juta dua ratus enam puluh ribu, itu adalah uang yang paling banyak yang pernah ia pegang. Setelah sebulan bekerja Tutu pun langsung memutuskan untuk keluar dari pekerjaannya dan langsung mempersiapkan diri untuk ikut SBMPTN.

Dari pabrik tempat bekerjanya ia langsung memacu sepedanya ke toko buku terdekat dan langsung membeli buku dengan judul InsyaAllah Lulus SBMPTN cuy. Setelah membeli buku tersebut seharga dua hari gajinya, ia pun langsung pergi ke warung internet untuk mendaftar SBMPTN secara online.

Setelah membuka web SBMPTN hatinya langsung diremukan oleh satu kalimat “maaf pendaftaran SBMPTN telah ditutup”. Hal ini membuat ia terdiam di depan komputer selama 60 menit. Selama 60 menit tersebut ia memikirkan kenapa ia tidak mendaftar setelah pulang kerja di hari pendaftaran masih dibuka dan kenapa ia bekerja bagai orang gila yang keserupan.

Namun, di menit ke-61 ia membuka web UNJ untuk menenangkan hatinya dan wajahnya pun kembali tersenyum dan melihat pengumuman Penerimaan Mahasiswa Baru (PENMABA) UNJ yang akan dibuka esok hari. Ia pun langsung pulang dan langsung tidur. Tanpa dibangunkan oleh ibunya Tutu bangun jam 4 pagi dan langsung mandi. Sehabis sholat Subuh Ia pun langsung mengayuh sepedanya ke warnet untuk mendaftar PENMABA, namun sayang warnet tersebut buka jam 7 pagi. Sementara jam 5 pagi ia sudah di depan pintu warnet tersebut.

Tutu pun menunggu selama 2 jam dan ia pun menjadi orang pertama yang bermain warnet tersebut melebihi bocah-bocah berumur 8 tahun ke atas yang sudah berani menonton film porno di warnet. Tutu pun langsung mendaftar PENMABA.

Setelah membayar biaya pendaftaran Tutu kembali ke warnet untuk menyelesaikan pendaftaran PENMABA dan ia pun kaget ketika menemui kolom Sumbangan Pengembangan Universitas (SPU). Tutu pun bertanya mengapa mahasiswa baru disuruh menyumbang? Apakah kampus yang ia ingin tuju begitu miskin? Lalu kenapa pertanyaan itu datang sebelum ia diterima? Kenapa bukan sebaliknya ketika sudah diterima baru kampus itu mengemis. Apakah orang yang menyumbang besar sudah pasti diterima? Kenapa ada sumbangan tersebut?

Tutu sangat ingin diterima di kampus tersebut, akhirnya ia pun memutuskan untuk menaruh sejuta rupiah, uang yang selama 1 bulan ia kumpulkan dengan susah payah bekerja. Tutu sangat berharap untuk dapat di terima di kampus tersebut dan ingin membanggakan kedua orang tuanya. Ia menganggap sepintar apapun dia yang bermain pasti uang.

Akhirnya Tutu pun kembali belajar dengan semangat baginya ini adalah pertarungan hidup dan mati. Tidak peduli kehilangan uang sejuta rupiah yang penting dapat diterima di kampus negeri yang katanya biayanya lebih murah dibandingkan kampus swasta.

Tak disangka waktu begitu cepat mengalir, Tutu berhasil menyelesaikan ujiannya dengan sempurna dan hanya tinggal menunggu hasil. Ia tak berhenti berdoa kepada Tuhan. Sekarang hanya Tuhan lah yang mampu menolongnya. Tutu tak pernah lupa sholat 5 waktu dan berpuasa senin dan kamis. Setidaknya jika ia tidak diterima lalu stress dan melupakan tuhan, ia telah mengumpulkan cadangan pahala.

Akhirnya waktu pengumuman pun tiba. Tutu pun bergegas warnet yang penuh dengan bocah mesum. Di depan komputer Tutu langsung membuka web PENMABA dan langsung melihat apakah ia diterima atau tidak. Ternyata Dewi Fortuna sedang berpihak kepadanya. Ia dinyatakan diterima dan siap ditempa menjadi guru yang baik. Ia tidak jadi menjadi manusia stress namun dalam konsistensi menjalankan perintah Tuhan ia tidak berani menjamin.

Pada waktu yang bersamaan Tutu pun langsung mengisi data-data pribadinya. Tutu mengisi gaji orang tua sebesar sejuta lima ratus rupiah, Tutu pun menganggap ia sudah melebih-lebihkan gaji ibunya. Setelah menunggu beberapa hari akhirnya keluar lah pengumuman besaran UKT yang akan dibayarkan Tutu selama satu semester.

Di depan komputer Tutu terdiam melihat besaran UKT yang akan diterimanya. UKT tersebut sebesar tiga juta seratus rupiah. Uang yang sangat banyak, uang tersebut sebesar 3 bulan gajinya bekerja di pabrik batu bata dengan semangat kerja bagai orang kesurupan. Rasanya Tutu ingin menangis, tidak mungkin ibunya mampu membiayai dirinya berkuliah. Mungkin bisa bila ia dan ibunya hanya makan sehari sekali, mungkin juga bisa bila ia dan ibunya mematikan jaringan listrik rumahnya.

Tutu pun pulang dengan kayuhan sepeda yang lambat, kepalanya serasa ingin meledak. Di jalan ia memikirkan

“Apakah menuntut ilmu semahal ini? Apakah Presiden tidak ingin anak negara ini menjadi guru yang baik? Apakah tidak ada bedanya kuliah negeri dan swasta jika uang yang harus dibayarkan pun sama?” Tutu terus menggerutu di jalanan ibukota.

Sesampainya di rumah, Tutu langsung memberikan kabar tersebut kepada ibunya

“Bu, ada kabar baik dan kabar buruk,” Tutu berkata dengan menundukan kepalanya.

“Tidak ada kabar buruk Tu, semua pasti diganti yang lebih baik oleh Tuhan,” ibunya berusaha menegarkan Tutu.

“Kabar baiknya Tutu di terima di UNJ bu, kabar buruknya Tutu harus membayar tiga juta seratus rupiah tiap semester,” ucap Tutu dengan suara lirih.

Ibunya diam saja, ia tau bagaimana Tutu ingin kuliah. Tanpa disadari Tutu, ibunya selalu memperhatikannya bangun jam tiga pagi untuk belajar dan tak lupa solat subuh. Ibunya sangat tahu bagaimana perjuangan Tutu mulai dari berkerja dan tidak pernah merasa lelah.

Tanpa disadari air mata ibunya pun mengalir mau dipaksakan pun ia tak mungkin bisa membayar. Namun ibu masih berharap untuk Tutu bisa berkuliah.

“Yaudah nak besok kita sanggah uang tersebut di kampus ya,” Ibunya berkata dengan senyuman

Tutu pun hanya tersenyum melihat ketegaran ibunya. Untungnya ibunya tahu ada masa sanggah.

Kesokan harinya Tutu bersama ibunya pergi ke UNJ menggunakan kendaraan umum. Mereka berdua datang cukup pagi dan mendapat giliran awal-awal. Di depan orang yang memverifikasi Ibu Tutu menjual semua kemiskinan yang dialaminya, mungkin jika ia ikut mikrofon pelunas hutang ia pasti orang yang menang.

Entah apa yang ada di pikiran orang-orang yang memverifikasinya tersebut.

“Bu maaf, biaya tersebut sudah di tentukan dari kampus dan tidak bisa diubah.”

Ibu Tutu hanya terdiam dan ingin mengucurkan air matanya. Tutu pun hanya terdiam dan tanpa banyak kata ia pun langsung menarik ibunya untuk keluar dari ruangan tersebut. Ia pun langsung melangkah untuk pulang.

Di bus Metromini dalam perjalanan pulang Tutu berkata kepada ibunya.

“Bu aku ga usah kuliah, aku akan cari pekerjaan dan ibu ga usah kerja lagi.”

Ibu Tutu hanya menunduk dan menahan air matanya. Ia tahu anaknya adalah anak yang baik dan dia tidak ingin mengubur impian anak tersebut. Hanya kepercayaan “akan digantikan yang lebih baik oleh Tuhan” yang mampu menegarkan mereka berdua.

Setelah sampai di rumah Tutu menjadi anak yang periang dan tidak ingin membuat ibunya bersedih, ia pun langsung mencari pekerjaan yang layak, namun mencari pekerjaan di ibukota sangatlah sulit. Ia ingin menjadi Go-Jek tapi hanya memiliki sepeda, ingin usaha tapi miskin. Sampai hari ini Tutu masih mencari pekerjaan yang layak dan ia yakin ia akan menemukannya./Aditya S.

LPM DIDAKTIKA
Up Next

Related Posts

Discussion about this post

%d blogger menyukai ini: