Uang Kuliah Tinggi, Fasilitas Minim

Comment

Tahun ini menjadi tahun pertama Program Studi (Prodi) Ilmu Komunikasi didirikan di Universitas Negeri Jakarta (UNJ). Walaupun terbilang baru, prodi Ilmu Komunikasi ini sangat digandrungi para calon mahasiswa baru. Pada Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN), jumlah pendaftar prodi Ilmu Komunikasi mencapai 4.989 peserta.

Pembukaan prodi baru ini tidak terlepas dari status UNJ saat ini, yaitu BLU. Dengan status tersebut, UNJ boleh membuka prodi baru melalui persetujuan Kementrian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti). Pada 2017 Menristekdikti mengeluarkan SK No. 355/KPT/1/2017 tentang izin pembukaan Prodi Ilkom di UNJ.

Namun, kehadiran prodi ini menuai berbagai kritik dari mahasiswa. Salah satunya Asrul Pauzi Hasibuan, mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial (FIS). Ia berpendapat bahwa pembentukan prodi ini terlihat terburu-buru. Hal itu terlihat dari ketiadaan ruangan praktik. Selain itu, berdasarkan temuan di prodi Ilmu Komunikasi, mahasiswa yang mendapat UKT golongan VIII termasuk banyak dibanding prodi lainnya. Ia berasumsi mahasiswa dibebani Uang Kuliah Tunggal (UKT) yang besar demi tercapainya fasilitas penunjang prodi ilmu komunikasi yang sampai saat ini belum tersedia.

Senada dengan Asrul, Alvira Inez mahasiswa Prodi Pendidikan Sosiologi 2017 mengatakan, Mahasiswa pastinya dibebani dengan UKT yang tinggi demi menunjang  fasilitas yang belum tersedia di prodi Ilmu Komunikasi. “Apalagi Ilmu Komunikasi termasuk prodi favorit, bayar UKT mahal tidak masalah,” tuturnya.

Prodi Ilmu Komunikasi sendiri memiliki beberapa golongan Uang Kuliah Tunggal (UKT). Dilansir dari laman penmaba.unj.ac.id, biaya UKT untuk prodi Ilmu Komunikasi terbagi menjadi 8 golongan. Golongan UKT terkecil adalah Rp 500.000 dan terbesar mencapai Rp 7.300.000.

Berdasarakan data yang didapatkan dari Badan Eksekutif Mahasiswa Prodi (BEMP) Hubungan Masyarakat (Humas). Jumlah Mahasiswa berdasarkan besaran UKT sebagai berikut :

 

Golongan 1 4   Mahasiswa
Golongan II 2   Mahasiswa
Golongan III 15 Mahasiswa
Golongan IV 2   Mahasiswa
Golongan V 1   Mahasiswa
Golongan VI 6   Mahasiswa
Golongan VII 0  Mahasiswa
Golongan VIII 6   Mahasiswa

 

Berdasarkan data di atas, mahasiswa yang mendapat UKT golongan III-VIII berjumlah 30 mahasiswa. Jumlah tersebut didominasi UKT golongan III, yaitu sebanyak 15 mahasiswa. Sedangkan, mahasiswa yang mendapat UKT golongan I-II hanya 6 mahasiswa. Beberapa mahasiswa mengeluhkan besaran UKT yang didapat.

Jessica Lea Alexander Dien, mahasiswa baru Prodi Ilmu Komunikasi mengaku mendapatkan UKT Golongan VIII. Ia pun mengaku kaget ketika mendapatkan UKT tertinggi tersebut. Padahal, menurutnya ia telah mengisi form UKT sesuai dengan kemampuan ekonominya.

Namun, setelah ia telah membicarakan hal tersebut bersama keluarganya. “Akhirnya keluarga sudah ikhlas mendapat golongan tersebut dan bersedia untuk membayar,” ucapnya.

Seperti halnya Jessica, Pricilia Novi Febriani, mahasiswa baru ilmu komunikasi  juga mendapatkan UKT Golongan VIII. Ia juga merasa keberatan dengan besaran tersebut. Ia menganggap UKT tersebut terlalu besar, mengingat kondisi ekonomi keluarga yang sedang tidak stabil, karena pendapatan orang tua yang tidak menentu. Bahkan, ketika ia mengikuti masa sanggah, besaran UKT yang didapat tidak berubah.

UKT yang besar ini tidak menutup kekurangan fasilitas prodi yang baru dibuka ini. Kinkin Yuliaty, selaku Koordinator Prodi Ilmu Komunikasi juga mengamini hal tersebut. Ia mengaku sedang berkoordinasi dengan pihak fakultas dan universitas untuk menyediakan ruang kelas, laboratorium praktik, dan alat-alat praktik. Ia mengatakan, “apabila belum terpenuhi kami akan berencana membuka kerja sama dengan beberapa organisasi mahasiswa (ormawa) yang berkaitan dengan disiplin ilmu komunikasi.”

Muhammad Zid, Dekan Fakultas Ilmu Sosial mengaku telah mengajukan fasilitas penunjang akademik seperti kelas, laboratorium, dan alat praktik.  Ia mengatakan bahwa pihaknya telah mengajukan hal tersebut kepada pihak universitas. Selain itu, kebijakan daya tampung juga disesuaikan dengan ketersediaan ruang kelas. “Untuk tahun ini telah ditetapkan, satu kelas maksimal diisi 40 mahasiswa,” ucapnya./Qori H.

 

Editor: Uly Mega

LPM DIDAKTIKA
Up Next

Related Posts

Discussion about this post

%d blogger menyukai ini: