Petualangan tentang Kebahagiaan

Comment

Pertanyaan tentang tujuan hidup sulit untuk dijawab. Mungkin kita akan sedikit gagap untuk menjawabnya secara langsung. Perlu adanya kontemplasi mendalam untuk bisa menemukan jawaban yang bagus dan sesuai dengan keinginan kita yang sesungguhnya.

Namun, kegagapan itu akan bisa dijawab dengan mudah dan optimis oleh Eric Weiner. Dalam bukunya yang berjudul The Geography of Bliss, ia begitu yakin bahwa manusia pada dasarnya membutuhkan kebahagiaan. Bahkan, ia mencoba menjadi antitesis untuk ilmu pengetahuan sosial yang pendekatanya selalu pada “masalah” yang merupakan bentuk dari ketidakbahagiaan.

Buku tersebut merupakan catatan perjalanannya mencari bentuk kebahagiaan di masing-masing negara. Ia melakukan perjalanan mulai dari Belanda, Bhutan, Swiss, Qatar, Moldova, Islandia, Thailand, Britania, India, hingga Amerika Serikat. Ia membagi sub judul dalam buku tersebut berdasarkan kategori Negara yang disebutkan tadi.

Negara yang ia temui tidak semuanya merupakan negara yang paling bahagia. Namun, membaginya dalam negara yang bahagia, cukup bahagia, dan tidak bahagia berdasarkan hasil penelitian National Public Radio (NPR). Dan fakta-fakta dari beberapa negara yang ia temui justru cukup mengejutkan.

Seperti Swiss, negara yang begitu terikat dengan peraturan. Bahkan sampai ada aturan yang melarang menyiram WC diatas pukul 10 malam, namun masyarakatnya termasuk dalam masyarakat yang bahagia. Lalu, Islandia yang merupakan Negara yang hanya mendapatkan matahari sekitar tujuh hari dalam sebulan. Begitu juga Moldova, negara yang justru sangat tidak begitu bahagia jika dibandingkan dengan beberapa negara yang lebih miskin di Afrika.

Eric seolah sepakat ketika memaknai kebahagiaan adalah urusan jiwa bukan materi. Ketika di Bhutan, ia menuliskan bahwa kebahagiaan orang Bhutan merupakan sesuatu yang diagungkan. Kebudayaan yang mendukung kebijaksanaan Kebijaksanaan khas penganut ajaran Budha dan filosofi yang hanya dimiliki oleh orang Bhutan terutama orang yang barpengaruh dan yang diagungkan di Bhutan.

Kebijaksanaan yang menjadi filosofi dasar rakyat buthan adalah bahwa kebahagiaan lahir dari tidak adanya harapan. Seperti kata bijak yang terkenal dalam ajaran Buddha tentang yang menyebut keinginan sebagai sumber penderitaan.

“Karma (nama dari imam yang berpengaruh disana) apakah anda bahagia?”

“Setelah melihat kembali sejarah hidup saya, saya menemukan bahwa jawabanya adalah ya. Saya mencapai kebahagiaan bahwa saya tidak memiliki harapan yang tidak realistis.” (hlm. 117)

Pemerintah Bhutan bahkan menolak adanya Produk Domestik Bruto (PDB), dan merubahnya dengan Kebahagiaan Domestik Bruto. Alasan Bhutan menerapkan kebijakan itu adalah karena ia melihat dasar dari manusia hidup adalah bahagia.

Selain itu, Bhutan begitu dekat dengan hal-hal mistis. Hal-hal yang berbau mistis dan spiritual merupakan tumpuan dari kebahagiaan. Kuil-kuil masih ramai dikunjungi pendatang, salah satunya kuil yang dibangun dari berdasarkan kecintaan orang Bhutan terhadap Dewata Gila.

Orang gila Dewata tersebut,  kemudian menggetarkan Bhutan meskipun melakukan hal aneh seperti membuka celana untuk menggunakan petir kebijakanya yang membara. Namun kegilaanya itulah menjadi dewata yang dicintai di Bhutan. Terbukti dari kuil yang diciptakan untuk mengenang namanya.

Kegilaan yang dewata tersebut merupakan filososfi dari manusia tidak boleh menindas emosi atau bahkan hasrat mereka. Semuanya harus dimurnikan (hlm. 131). Kemudian, kuil-kuilnya yang dipenuhi dengan patung penis dengan berbagai bentuk ukuran dipercaya setiap yang datang dengan berbagai ukuran.

Sementara, perjalanan selanjutnya di India, merupakan kepasrahannya pada alam semesta yang menjadi kunci kebahagiaan. Setiap kebahagiaan. Namun, dalam hal itu, orang pun tetap harus berusaha. Begitulah, Eric menyebutnya sebagai kontradiksi yang ia temukan di India. Ia menyebut kontradiksi itulah yang dinikmati orang india tersebut. Manusia boleh berambisi. Ambisi merupakan sumber penderitaan, namun ambisi sekaligus pendorong keberhasilan.

Selanjutnya, ketimpangan di India merupakan bentuk kontradiksi yang lain. Tapi perlu diperhatikan, orang miskin India bukan merupakan orang yang tidak bahagia. Seperti Mona, yang berprofesi hanya sebagai tukang bersih-bersih di tempat penginapan yang disinggahi Eric ketika di india. Mona adalah orang yang sangat bahagia, akunya. Kebahagiaanya adalah karena ia tidak terlalu banyak berpikir

“Jangan terlalu banyak berpikir. Jangan memikirkan apapun. Semakin banyak anda berpikir, anda akan semakin kurang bahagia. Hiduplah dengan bahagia, makan dengan bahagia, dan mati dengan bahagia,” (hlm. 505).

Eric membuat framing  bahwa kebahagiaan merupakan sesuatu yang dipandang secara spiritual dan psikologikal. Itu merupakan kersahan yang memang diderita oleh orang yang muak dengan hingar bingar dan kesibukkan kota besar. Eric, merupakan seorang Amerika. Sudah jelas Amerika adalah negara yang berisi kota hingar bingar dan sibuk. Maka, secara tidak langsung ia membuat framing kebahagiaan adalah sesuatu yang tidak terikat materi, seperti contoh India dan Buthan tadi.

Bahkan, ia begitu tendensius dengan Moldova (negara bekas Uni Soviet). Ia mengatakan bahwa Moldova tidak begitu miskin dibanding orang negara-negara di Afrika. Tapi, justru Moldova lebih tidak bahagia. Tidak lain, karena Moldova negara yang dikelilingi negara maju dan kaya. Dan orang Moldova membandingkan kesejahteraan mereka dengan negara sekitar. Bukan membandingkanya dengan negara yang lebih miskin seperti negara-negara di afrika. Jelas saja, mereka merasa sebagai negara miskin.

Buku ini tidak gamblang menjelaskan apa itu kebahagiaan. Hanya sampai “dimana” kebahagiaan itu ada dan seperti apa kebahagiaan di tempat tersebut. Seperti yang dikatakan dalam reviewer yang ada di buku tersebut. Buku yang tidak mencari makna kebahagiaan. Hanya mengidentifikasi seperti apa kebahagiaan di tempat tertentu. Sayangnya, hal tersebut yang menjadi kelemahan dalam buku ini. Geografi yang disebutkan dalam judul buku ini menjadi tidak tesampaikan. Karena, pembahasan geografi seharusnya lengkap menggambarkan konteks alam dan sosial. Terutama, dalam geografi modern yang disampaikan oleh Daldjoeni, bahwa cakupan pendekatan geografi sekarang lebih kompleks dan lebih mendalam. Bersifat klausal. Tidak hanya menemukan dimana. Tapi kaitannya pula dengan kenapa dan bagaimana pengaruh alam dan manusianya.

Eric berusaha menyampaikan tulisan supaya mudah dipahami oleh semua orang. Itu memang tantangan bagi tiap jurnalis dan Eric merupakan mantan seorang jurnalis.

Buku ini tetap asik untuk dibaca. Teruama untuk yang sedang patah hati dan tidak bahagia. Meskipun buku ini tidak sedang mencari definisi kebahagiaan. Tapi kita tetap akan mendapatkan bahagia. Sebab, kita akan banyak berjumpa dengan kalimat jenaka dalam buku ini, yang cukuplah membuat kita senang membacanya. Kesenangan itu, ketika kita menikmatinya akan menciptakan bahagia. Jenaka dan kelucuan bisa membuat senang, dan senang yang dinikmati akan membawa kebahagiaan.

Mari berkontemplasi kembali sekali lagi. Kita hidup untuk menjadi bahagia atau bahagia untuk dapat hidup?//M. Muhtar

 

Editor: M. Rizky Suryana

LPM DIDAKTIKA
Up Next

Related Posts

Discussion about this post

%d blogger menyukai ini: