Sastra dan Perjuangan Rakyat

Comment

Sastra Borjuis hanya membuat rakyat terlelap di dunia angan-angan. Angan-angan yang menjauhkan dirinya dari realitas. Rakyat perlu bangun melalui sastra yang mampu merombak kesadaran palsu.

Hanung Bramantyo kian sibuk. Sebagai seorang ayah, ia juga bekerja sebagai sutradara. Berbagai film telah disutradarainya. Kini, Bumi Manusia menjadi pilihan Hanung. Film ini akan dibintangi oleh artis berbakat yang tengah naik daun, yaitu Iqbaal Ramadhan. Dalam wawancara khusus, Hanung berencana menonjolkan kisah percintaan dua tokoh utama dalam novel Bumi Manusia, yaitu Minke dan Annelies. Penonjolan kisah cinta dipilih untuk menyesuaikan selera generasi milenial.

Pemilihan tema itu menimbulkan berbagai perdebatan. Hanung dianggap tidak mampu memahami isi novel karya Pramoedya Ananta Toer.

Mungkin terlalu dini menilai film itu. Sebab, ditayangkan saja belum. Tetapi, bila Pram mendengar kabar itu dari kubur, Pram tidak akan menerimanya. Sebab, tidak dapat disangkal, Pram menulis untuk menyadarkan rakyat. Rakyat perlu sadar situasi sosial, politik, dan ekonomi. Ketidaktahuan rakyat mengenai sosial politik, membuat rakyat mudah dimanfaaatkan penguasa.

Oleh karena itu, hasil karya sastra Pram tidak jauh dengan realita rakyat. Menurut Pram dalam karyanya, Realisme Sosialis dan Sastra Indonesia, karya sastra yang berpihak kepada rakyat, perlu mengambarkan kondisi ketertindasan rakyat dari hubungan antara ketidakdilan masyarakat yang dibentuk oleh kaum penindas.

Aliran sastra yang cocok untuk mengambarkan ketidakadilan masyarakat, ialah realisme sosialis. Secara teori, realisme sosialis ialah salah satu karya sastra yang menggunakan filsafat materialisme yang berpegang teguh pada tujuan sosialisme ilmiah.

 

Konsep Sastra Realisme Sosialis

Secara garis besar, realisme sosialis adalah salah satu aliran sastra yang mengambarkan keadaan obyektif masyarakat. Keadaan itu dapat dipahami dengan menggunakan filsafat materialisme.

Filsafat materialisme mudah dipahami dengan melihat kekuatan-kekuatan produksi dan hubungan-hubungan produksi dalam masyarakat kapitalisme. Sederhananya, kekuatan produksi ialah kebutuhan alat produksi untuk memproduksi sesuatu. Sedangkan, hubungan produksi ialah ikatan pekerja dan pemilik modal.

Kaum Borjuis yang menguasai alat produksi (basis struktur ekonomi) mampu membentuk kesadaran kaum tertindas (proletar). Kesadaran kaum tertindas dikonstruksi sesuai keinginan kaum tertindas, bahkan dikaburkan. Dengan cara merubah pandangan manusia tentang dunia. Buruh melihat dunia sebagai sesuatu yang taktis dan pesimis. Oleh karena itu, buruh akan tetap menjadi budak dan borjuis akan tetap menjadi tuan.

Filsafat materialisme melihat keadaan itu sebagai bentuk keterasingan manusia (alienisasi). Terasing sebagai manusia dan sebagai masyarakat. Oleh karena itu, menurut Marx kaum tertindas perlu bersatu untuk membongkar kesadaran semu yang dibentuk oleh kaum penindas.

Realisme Sosialis juga tidak dapat lepas hubungannya dengan filsafat Hegel mengenai dialektika. Bagi Hegel, dunia itu sebuah kesatuan yang digerakan oleh pertentangan di dalamnya. Pertentangan itu coba digambarkan dengan tesis dan anti-tesis. Baginya, pertentangan itu membuat manusia menjadi manusia seutuhnya.

Kemudian, yang tak kalah penting ialah filsafat sejarah. Selain mengambarkan sejarah masyarakat, sejarah juga digunakan untuk mengetahui perkembangan kesadaran manusia. Alam digerakan oleh manusia, bukan sebaliknya. Tanpa adanya manusia, gagasan mengenai  dunia tak akan pernah ada. Dengan nilai kerja, manusia dapat menciptakan sejarah.

Tiga hal itu yang berpengaruh terhadap sastra realisme sosialis. Meskipun Karl Marx tidak pernah menyentuh secara langsung bidang sastra dalam filsafat materialisme-nya. Namun, Kaum Marxis lah yang mengembangkan pemikiran Karl Marx ke arah kebudayaan.

 

Sejarah Sastra Realisme Sosialis

Secara resmi, realisme sosialis dinyatakan dalam Kongres Rapat Sastrawan Uni Soviet di Moskow pada 1934. Gagasan kabur realisme sosialis akhirnya dibakukan oleh Andre Zdanov.

Ia menjelaskan realisme sosialis dibutuhkan untuk menggantikan kebudayaan lama – yang penuh dengan unsur feodalisme – dengan kebudayaan baru yang revolusioner.

Menurut Buku Pramooedya Ananta Toer dan Sastra Realisme Sosialis, karya Eka Kurniawan, kehadiran gagasan realisme sosialis, tidak terlepas dari kebutuhan rakyat Uni Soviet untuk mencapai masyarakat sosialis. Setelah Revolusi Bolshevik 1917, Proletkul’t – kumpulan sastrawan yang mengagas kebudayaan rakyat – menolak adanya kebudayaan lama yang mengandung budaya borjuis. Proletkul’t mengangap sastra borjuis hanya mengandung unsur pesimis dan abstrak. Sebab, tujuannya untuk mempertahankan kekuasaan kaum borjuis. Selain itu, sastra borjuis bermakna pemisahan antara bangsawan dan rakyat jelata. Oleh karena itu, sastra borjuis hanya dimengerti oleh para bangsawan.

Proletkul’t menentang sastra itu. Menurut mereka, sastra borjuis menghambat cita-cita revolusi sosialis. Proletkul’t menawarkan sastra yang revolusioner. Sastra harus menggambarkan keadaan real rakyat, seperti ketidakadilan, penindasan, dan perampasan hak kaum buruh tani.

Di Indonesia, gagasan realisme sosialis diperkenalkan oleh Pramoedya Ananta Toer. Namun, menurut Pram benih-benih realisme sosialis sudah muncul sejak 1906. Periode ini disebut Pram sebagai Periode Sastra Sosialis.

Sastra Sosialis dapat ditemukan dalam karya-karya Tirto Adhisoerjo, Hadjo Moekti, dan Mas Marco Kartodikromo.  Berbagai karya sastra itu, mengambarkan kondisi masyarakat Hindia Belanda yang dirampas kebutuhan untuk makan, hidup, dan berdemokrasi. Dengan sangat apik, mereka mampu menimbulkan emosi pembaca untuk bergerak melawan pemerintah Hindia Belanda. Pada periode ini, karya sastra sosialis belum menerapkan filsafat materialisme dalam analisisnya. Kurangnya bahan bacaan, serta kesibukan aksi langsung melawan pemerintah Hindia Belanda menjadi faktor kurangnya analisis filsafat materialisme.

Perkembangan sastra sosialis mulai surut ketika Partai Komunis Indonesia (PKI) dan Partai Nasional Indonesia (PNI) dibubarkan oleh Pemerintah Hindia Belanda. Banyak para tokoh sastra sosialis, dibuang dan diasingkan. Tujuannya untuk menjaga ketertiban dan keamanan Hindia Belanda.

Kemudian, pada era Balai Pustaka hingga Pujangga Baru hanya sekadar melahirkan sastrawan yang mengutamakan keindahan fiksi dan makna.

Di era Balai Pustaka, para sastrawan tidak dapat memiliki ruang gerak bebas untuk berekspresi. Sebab, Pemerintah Hindia Belanda mengendalikan penerbitan ini. Berbagai, karya sastra yang berhaluan politik dilarang terbit oleh pemerintah Hindia Belanda. Tujuanya agar rakyat terlena dengan keindahan semu semata.

Di era Pujangga Baru pun tidak mengalami perubahan berarti. Kehadiran Pujangga Baru merupakan reaksi para sastrawan yang menganggap Balai Pustaka sudah kuno. Indonesia perlu menerapkan kebudayaan baru untuk mengisi kemerdekaan. Mereka menolak kebudayaan lama Indonesia yang penuh dengan unsur feodalisme. Namun, gagasan itu absurd. Kebudayaan baru yang ditawarkan tidak memberikan solusi berarti. Sebab, menghilangkan akar sejarah perjuangan politik, sosial, dan kebudayaan Indonesia.

Kemudian, pada 1950, Gelanggang Merdeka terbentuk. Gelanggang Merdeka ialah perkumpulan sastrawan yang bertujuan melanjutkan revolusi kemerdekaan. Bagi Gelanggang, revolusi belum selesai. Keadaan itu membuat Gelanggang Merdeka menawarkan sebuah prinsip seni baru, yaitu prinsip kebebasan. Kebebasan diartikan seniman dalam berkarya memiliki kehendak sendiri tanpa ada paksaan dari pihak lain.

Namun, gagasan yang ditawarkan oleh Gelanggang Merdeka tidak memiliki solusi untuk melanjutkan revolusi kemerdekaan. Konsep yang dibawa Gelanggang Merdeka tidak jauh berbeda dengan Avant Garde. Avant Garde, melalui seninya menggambarkan kemanusiaan yang jauh dengan realitas rakyat. Konsep kebebasan hanya memisahkan antara borjuis dan rakyat.

Dari era Balai Pustaka hingga terbentuknya Gelanggang Merdeka, perkembangan sastra sekedar mengenai keindahan diksi dan teknis kesusastraan modern. Namun, mereka melupakan unsur yang penting dalam sastra, yaitu hubungan rakyat dengan keadaan sosial, politik, dan ekonomi. Unsur politik dihindari oleh sastrawan. Sebab, kesadaran rakyat soal politik akan berbahaya bagi penguasa. Tanpa adanya kesadaran politik, rakyat dengan mudah dipermainkan oleh penguasa.

 

Kemunculan Lekra sebagai Penggagas Realisme Sosialis Indonesia

Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) didirikan oleh D.N. Aidit, Njoto, M.A. Ashar, dan A.S. Dharta pada 17 Agustus 1950. Kelahiran Lekra, tidak dapat dilepaskan dari kemunduran seni di Indonesia. Bagi Lekra, budaya dapat menjadi ruang untuk membentuk kesadaran rakyat. Kesadaran itu dapat dibangun dengan mengambarkan keadaan real rakyat melalui seni.

Mencerdaskan pengetahuan politik menjadi tujuan berdirinya Lekra. Berbeda dengan organisasi seni lain, Lekra tidak memisahkan politik dan budaya. Bahkan, sastrawan harus meletakkan politik sebagai panglima. Pengetahuan politik penting untuk menggambarkan kontradiksi dalam masyarakat. Pengambaran kontradiksi itu bertujuan agar rakyat mampu membedakan kawan dan lawan. Dengan pembedaan itu, maka para sastrawan mampu berpihak kepada rakyat tertindas.

Rakyat pun bukan objek seniman Lekra, tetapi rakyat ialah subyek yang bergerak. Untuk memahami subyek itu, seniman Lekra perlu terjun ke rakyat. Bersama rakyat mereka mampu merasakan keresahan dan kebutuhan rakyat.

Slogan Lekra yang terkenal ialah turun ke bawah. Namun, penyimpangan penafsiran muncul dari gagasan turun ke bawah. Padahal, turun ke bawah bukan menggambarkan seorang malaikat yang turun untuk memberikan wahyu kepada hambanya. Tetapi, turun ke bawah dipahami sebagai proses dialektika para seniman untuk mengetahui sejarah kesadaran dan keadaan masyarakat.

 

Penutup

Realisme Sosialis ialah sebuah gerakan budaya untuk mencapai cita-cita sosialisme. Sebuah niat baik manusia untuk membongkar kesadaran palsu rakyat yang dibentuk oleh penguasa.

Melalui bidang sastra, sastrawan borjuis hanya menyajikan keindahan materi belaka.  Tujuanya agar rakyat terlena dengan keadaannya. Sastrawan Borjuis hanya menampakan realitas kemudian realitas itu disangkal dengan imajinasi mereka.

Realisme Sosialis menolak hal itu. Sastrawan Realisme Sosialis mencoba menggambarkan pertentangan yang ada pada masyarakat dan cara menyelesaikannya. Selain itu, mereka pula mencoba menjembatani keadaan rakyat yang dirampas kebutuhan akan keadilan dengan cara menimbulkan kesadaran sosial, politik, dan ekonomi.//Hendrik Y.

 

Editor: M. Rizky S.

 

Referensi

Khairi, Agniya. Hanung: ‘Bumi Manusia’ Itu Soal Cinta Minke dan Annelies. CNN Indonesia. Trans Media, 2018. Web. 14 Oktober 2018. (https://www.cnnindonesia.com/hiburan/20180528114015-220-301802/hanung-bumi-manusia-itu-soal-cinta-minke-dan-annelies)

Kurniawan, Eka. Pramoedya Ananta Toer dan Sastra Realisme Sosialis. Jakarta: Gramedia, 2006.

Toer, Pramoedya Ananta. Realisme Sosialis dan Sastra Indonesia. Jakarta: Lentera Dipantara, 2003.

LPM DIDAKTIKA
Up Next

Related Posts

Discussion about this post

%d blogger menyukai ini: