Seruan Agama untuk Pembebasan

Comment

Judul Buku : Teologi Pembebasan

Penulis : Michael Lowy

Tahun Terbit :  2013 (Cetakan kedua)

Jumlah Halaman : 155

Penerbit : INSISTPress

ISBN : 978-602-8384-58-2

 

“Frei Betto : Bagi saya, manusia tidak dibedakan antara mereka yang beriman dan mereka yang tidak beriman, tetapi dibagi antara mereka yang tertindas dan mereka yang menindas” (hlm.68)

Buku Teologi Pembebasan karya Michael Lowy diterbitkan pertama kali tahun 1988. Namun, buku ini baru diterbitkan dalam bahasa Indonesia pada tahun 1999. Buku yang terdiri atas delapan bab ini memaparkan bagaimana gereja Kristen katolik di Amerika Latin bersatu dengan ajaran marxisme melawan kesewenang-wenangan penguasa dan mengutuk kapitalisme.

Pada bab satu, buku ini menjelaskan pandangan filsuf marxis terhadap agama. Kemudian bab dua dan bab tiga menjelaskan bagaimana teologi pembebasan bisa lahir. Disusul dengan bab empat, lima dan enam membahas mengenai Negara-negara Amerika Latin dalam perjuangannya membela kaum tertindas melalui teologi pembebasan. Lalu bab ketujuh dan kedelapan membahas kritik marxisme dan gerakan teologi pembebasan.

Buku ini kiranya penting dibaca, untuk dapat direfleksikan pada kondisi sosial politik di Indonesia saat ini. Di mana, propaganda komunis adalah ateis sering dikumandangkan. Apalagi situasi menjelang pemilihan presiden, isu komunis makin gencar dipropagandakan untuk menjatuhkan lawan politiknya. Karena kebanyakan masyarakat di Indonesia beranggapan bahwa agama adalah sesuatu yang wajib dipercaya, maka jika ada manusia tidak percaya agama, ia adalah manusia yang paling hina, tercela, dan tidak bermoral.

Anggapan komunis adalah ateis tentu tidak hadir begitu saja. Anggapan itu hadir dan dipolitisasi atas ucapan Marx, dalam esainya yang berjudul Toward The Critique of Hegel Philoshopy of Right (1844). Ia menyatakan bahwa agama adalah candu rakyat (Hlm. 2). Menurut Marx, agama merupakan bentuk keterasingan (alienasi) manusia terhadap kehidupan. Agama membuat manusia berkhayal atas sesuatu yang semu (surga dan akhirat). Hal tersebut membuat mencerabut manusia dari realitasnya.

Masyarakat perlu mengetahui konteks Marx mengucapkan hal tersebut. Disebabkan saat itu, banyak masyarakat Inggris hanya pasrah terhadap apa yang terjadi kepadanya. Masyarakat selalu menganggap semua yang terjadi termasuk penindasan adalah takdir Tuhan. Mereka berserah kepada agama, dan berangan-angan akan surga di akhirat.

Buku Teologi Pembebasan ini menepis aggapan Marx tersebut. Dalam buku ini dijelaskan bahwa tahun 1960 di Amerika Latin (Brazilia, Nikaragua, dan El Savador) muncul gerakan teologi pembebasan. Di mana gereja memperjuangkan hak-hak kaum tertindas dan melaknat kapitalisme.

Michael Lowy, menjelaskan munculnya gerakan gereja orang miskin di Amerika Latin dilatarbelakangi oleh berbagai hal seperti, banyak romo gereja yang belajar dan terpengaruh pemikiran-pemikiran radikal gereja katolik di Prancis, lalu percepatan dan kedalaman kapitalisme, yang meningkatkan kemiskinan di Negara-negara Amerika Latin, ditambah lagi dengan sistem kediktatoran yang banyak dialami di Negara Amerika Latin. Menyebabkan teologi pembebasan tumbuh subur di Amerika Latin.

Gerakan teologi pembebasan di gereja-gereja di Amerika Latin sempat mendapat kecaman dari Vatikan. Namun gerakan ini tetap bersikukuh mendirikan gereja kaum miskin. Bahkan di Nikaragua, para petani Sandinista bersatu dengan gereja katolik meneriakkan semboyan bahwa antara kekristenan dan revolusi tak ada pertentangan sama sekali (hlm. 79). Akhirnya hal ini dapat membebaskan Nikaragua dari rezim otoriter yang dipimpin Samoza.

Di Indonesia, pernah terjadi hal serupa pada masa kolonialisme Belanda. Tjokroaminoto, dalam tulisannya yang berjudul Islam dan Sosialisme mengatakan bahwa nilai-nilai yang diperjuangkan dalam sosialisme sama dengan nilai-nilai yang diperjuangkan dalam Islam. Yaitu, melawan kezaliman, menciptakan dunia tanpa ketertindasan.

Selain Tjokroaminoto, Haji Miscbach atau disebut Haji Merah juga menyuarakan hal yang sama. Ia pernah membuat karikaturnya yang dimuat pada 20 April di koran Islam Bergerak. Karikatur itu menggambarkan petani yang sedang memacul sawah, di mulut petani itu disalurkan selang, di ujung selang tersebut tedapat orang kapitalis (Belanda) yang sedang menghisap hasil kerja petani. Muka petani  tersebut ditutupi oleh tangan dari pemerintah dan dibawahnya ada tulisan “Adoeh! Inilah nasib kita. Siapakah jang akan toeloeng? “

Misbach mengatakan “djangan koeatir”. Mengapa Miscbah mengatakan demikian? Dalam artikel yang berjudul “orang bodo djoega machloek Tuhan, maka fikiran jang tinggi djoga bisa di dalam otakja”  diterbitkan Islam Bergerak 10 Maret 1919. Misbach percaya bawasannya “djangan koeatir” adalah suara di  luar manusia, yaitu suara Tuhan. Petani harus melawan ketertindasan karena Allah tidak menyukai ke zaliman. Petani harus berperang di jalan Allah.

Jika melihat konteks hari ini di Indonesia, isu komunis adalah ateis di kumandangkan untuk merebutkan kekuasaan dan menjatuhkan lawan politik. Padahal isu tersebut merupakan  barang rongsok, yang di daur ulang menjadi barang penuh penyakit bagi masyarakat Indonesia. Demi kekuasaan, masyarakat tidak lagi diajak berfikir. Apa itu komunis dan bagaimana seharusnya kita beragama?

Agama sudah semestinya menjadi alat pembebasan umatnya. Saya setuju dengan Marx, jangan sampai agama membuat kita hanya berkhayal tentang surga di akhirat dan meninggalkan realitas yang ada di dunia. Sudah saatnya dengan agama kita bukan hanya berkhayal surga di akhirat. Tapi kita ciptakan surga itu di dunia. //Uly Mega S

 

Editor : Annisa Surya

LPM DIDAKTIKA
Up Next

Related Posts

Discussion about this post

%d blogger menyukai ini: