Imbas Beban Kerja Guru Tetap

Comment

Beranjak ke tahun terakhir perkuliahan, semua mahasiswa Program Studi Pendidikan wajib mengikuti Praktik Keterampilan Mengajar (PKM). Sebagaimana namanya, mahasiswa melakukan praktik di lapangan. Berdasarkan Pedoman PKM 2018, PKM merupakan satu mata kuliah berbobot dua Satuan Kredit Semester (SKS).  Pelaksanaannya dua hari per minggu selama empat bulan di sekolah mitra. Selama itu pula mahasiswa melakukan observasi sekaligus magang (mengajar).

Selama pemagangan di sekolah, mahasiswa dibimbing oleh guru pamong. Guru Pamong, sebagaimana yang dikutip dari Ketua LP3M Totok Bintoro, ialah guru yang membimbing mahasiswa dari perencanaan hingga penilaian kelas. Selain itu, penentuan guru pamong ini disesuaikan dengan bidang yang diampu mahasiswa. Misalnya, mahasiswa program studi (prodi) A mengajar mata pelajaran A ketika magang di sekolah.

Di semester ini, saya menunaikan kewajiban PKM di salah satu SMA di Jakarta.

Pada kunjungan pertama, saya dan kawan sekelompok mengusung surat permohonan PKM ke sekolah. Setelah mendapat izin, di pertemuan berikutnya, kami membahas kontrak antara mahasiswa, dosen pembimbing PKM, dan pihak sekolah. Hal yang dibicarakan ialah jadwal perkuliahan yang mesti disesuaikan dengan sekolah, pakaian yang harus berseragam, waktu lama PKM, dan lain sebagainya, hingga akhirnya dicapai kesepakatan.

Minggu selanjutnya, saya dan seluruh kawan-kawan diminta mengajar. Tentu sambil observasi. Di sekolah, saya dipertemukan dengan kawan-kawan baru dari beragam program studi (prodi) yang juga sedang mengikuti PKM. Kebetulan semuanya dari UNJ.

Selama PKM, saya berupaya menjalin persekawanan dengan kawan-kawan yang lain, baik dari mahasiswa se-prodi maupun tidak.

Tak jarang pula kami saling bercerita tentang pengalaman selama magang. Dari situ, saya mendengar banyak kejanggalan pelaksanaan PKM di sekolah. Saya juga merasakannya sih. Kerap kali pihak sekolah menyalahi kesepakatan atau kontrak di awal kunjungan.

Kenyataannya, dari beragam pengalaman, banyak mahasiswa yang menetap di sekolah lebih dari dua hari selama seminggu. Jelas ini menyalahi aturan. Padahal mahasiswa masih punya kewajiban berkuliah di kampus.

Saya dan kawan sekelompok pun turut merasakan ini. Kami menetap di sekolah tiga hari dalam seminggu.

Kawan di kelompok saya pun ada yang terus-terusan diminta untuk mengurusi kewajiban si guru pamong. Ia diminta merevisi RPP kelas 12—yang bukan ranahnya. Padahal beban magang ia hanya di kelas 11.  Selain itu, ada pula yang bercerita bahwa kawannya diminta oleh guru pamong membuat RPP untuk sekolah lain. Duh!

Hal lain yang membuat saya heran adalah ketika saya tahu ada kawan yang mengajar mata pelajaran A, namun disuruh oleh guru pamongnya membuat  rancangan pelaksanaan pembelajaran (RPP), bahan ajar, dan soal ujian mata pelajaran B. Jika tidak menuruti kemauan guru pamong, ia khawatir nilainya terancam sehingga PKM-nya tidak lulus. Maka dari itu, ia terima saja ketika disuruh begitu.

Setelah dicari tahu, rupanya guru pamong kawan saya ini mengajar dua mata pelajaran. Entah ia suka rela atau tidak mengajar dua mata pelajaran itu. Mungkin sebetulnya terbebani juga. Maka dari itu, butuh bantuan. Nah, keberadaan mahasiswa magang ini ibarat bala bantuan untuk meminimalisasi beban kerja si guru. Saya kira ini ada kaitannya juga dengan keinginan memperoleh tunjangan dan kekurangan guru di sekolah.

Meski begitu, jelas ini kelewat batas. Toh, tanggung jawab mahasiswa—ketika magang—hanya sebatas melakukan observasi dan mengajar sesuai dengan bidang yang diampu. Itu semua pun seharusnya di bawah pengawasan dan bimbingan guru pamong.

Selain kisah yang saya paparkan, ada lagi pengalaman kawan yang lain belum saya tulis di sini. Pengalaman itu juga terkait dengan perlakuan guru pamong yang dianggap “seenaknya”.

Kemungkinan kasus ini atau kasus yang hampir serupa pernah dialami mantan pemagang lain.

Perilaku guru pamong yang seolah “suka-suka” ini tentu memiliki sebab. Menurut Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) No. 23 Tahun 2017 tentang Hari Sekolah, beban kerja guru tetap ialah 40 jam dalam seminggu. Ketentuan ini dijadikan syarat untuk mendapat tunjangan profesi. Tujuannya agar guru tetap fokus di sekolah. Tidak perlu mencari jam tambahan mengajar di sekolah lain.

Waktu beban kerja itu tidak hanya diukur dari tatap muka. Tetapi juga dihitung dari perencanaan hingga penilaian kelas. Semuanya dikerjakan di sekolah.

PKM ini sejatinya ladang untuk mencari pengalaman mahasiswa dan nilai. Akan tetapi, mahasiswa ini justru diperalat guru pamong untuk meminimalisasi beban kerja. Ya, jadi gak begitu capek lah ya. Toh, kalau di rumah dibebani pekerjaan domestik juga. Sehingga keberadaan PKM mempermudah akses guru mencapai targetan untuk mencapai tunjangan profesi.

Penghisapan tenaga mahasiswa—sebagai guru magang—jelas akan terus langgeng. Selama pemenuhan beban kerja dijadikan sebagai syarat memperoleh tunjangan profesi. Pun selagi peraturan menteri tadi tetap diberlakukan.

Mengapa tunjangan profesi begitu penting? Hampir semua orang menggunakan tunjangan demi pengembangan kualitas diri. Toh, guru juga butuh penghidupan yang layak.

Kemudian muncul pertanyaan baru: apakah kualitas para guru ini terjamin apabila tunjangan profesi turun?

Kalau menurut saya, lebih baik PKM itu ditiadakan saja. Lagipula PKM itu sia-sia. Kalau mau jadi guru betulan ‘kan pada akhirnya mesti ikut PPG juga.

Kasihan juga mahasiswa. Mungkin saja mahasiswa yang ikut PKM ini mesti mengulang banyak mata kuliah.

Jangan-jangan PKM juga salah satu penghambat kelulusan mahasiswa? Kan mungkin saja banyak mata kuliah  yang harus diambil. Padahal jatah tahun berkuliah tinggal sedikit. Hampir DO-lah. Kalau begitu, akreditasi universitas ‘kan bisa turun.

Guru-guru mungkin kelelahan. Sesudah dituntut bekerja sehari selama 8 jam, apakah seluruh pekerjaan domestik bisa dituntaskan setibanya di rumah?

Meski ada alternatif untuk menuntaskan pekerjaan domestik si guru, apakah ia sanggup membayar demi alternatif ini?

Seperti yang sudah-sudah. Dibalik suatu masalah, pasti ada masalah. Dibalik suatu peristiwa, pasti ada penyebab. Seperti aku ada, ya karena kamu ada, hehe. Jijik.

Bagaimana menurut kalian para pembaca?

Ngomong-ngomong, saya sih bersyukur tidak diminta yang macam-macam oleh guru pamong. Sayangnya, saya merasa karakter saya “dibunuh”. Kapan-kapan akan saya ceritakan—apa maksud pernyataan saya—di tulisan yang lain.//Lutfia H.

 

Editor: M. Muhtar

LPM DIDAKTIKA
Up Next

Related Posts

Discussion about this post

%d blogger menyukai ini: