Ras, Kelas, dan Kajian Pascakolonial

Comment

Identitas Buku

Pengarang: Ania Loomba

Penerbit    : Narasi

Tahun       : 2016

Tebal         : 422 hlm

 

Ekspansi kolonialisme, tak hanya meraup kekayaan negara taklukkan. Lebih dari itu, kolonialisme berhasil menancapkan jejak yang tak mudah dilepaskan.

Pemikiran Marx dapat menjawab hal itu. Marx menjelaskan dua perkembangan kolonialisme. Kolonialisme lama mengambil paksa upeti dan tanah dari kekayaan negara taklukannya. Kolonialisme ini masuk dalam tahap prakapitalis. Sedangkan kolonialisme modern, tidak hanya melakukan itu. Negara koloni, dijadikan pasar yang dipaksa mengonsumsi produk-produk negara induk. Sebab, ia datang bersama kapitalisme industri Eropa. Kolonialisme modern, merubah struktur-struktur ekonomi serta birokrasi negara taklukannya.

Pengubahan struktur ekonomi negara taklukan, menarik mereka ke dalam hubungan kompleks antar keduanya. Arus ini bekerja dua arah. Budak, buruh kontrak, serta bahan mentah diangkut kolonialisme untuk menghasilkan barang-barang jadi di perkotaan. Tujuanya untuk konsumsi perkotaan. Namun, tanah koloni juga menjadi pasar paksaan bagi barang-barang Eropa.

Jadi, budak-budak diangkut dari Afrika ke Benua Amerika, yaitu perkebunan-perkebunan Hindia Barat (Karibia). Mereka menghasilkan gula untuk konsumsi Eropa dan kapas mentah diangkut dari India untuk dijadikan kain di Eropa. Kemudian, dijual kembali ke India yang produksi kainnya kemudian dirugikan. (hlm.5)

Untuk mempertahankan arus itu, kapitalisme menerapkan strategi – strategi serta metode-metode. Diantaranya yaitu penaklukan fisik, penyebaran ideologi, dan wacana.

Menurut Edward Said, dalam bukunya Orientalisme, pengetahuan tentang Timur, diedarkan dan disebarluaskan melalui otoritas lembaga-lembaga kolonialisme. (hlm. 65) Wacana digunakan untuk menyebarluaskan adanya “pihak lain” di belahan dunia.

“Pihak lain” dimaknai  adanya bangsa yang berbeda. Kolonialisme menciptakan perbedaan ras untuk membedakan dirinya dengan bangsa tak beradab. John Rex mengatakan perbedaan ras dipertahankan guna menyediakan tenaga kerja murah. Di Afrika Selatan, tenaga dari rakyat terjajah diambil melalui berbagai sarana pemaksa. Ras dan rasisme adalah basis bagi pekerja tidak bebas untuk dipaksa bekerja untuk kolonialisme. (hal. 186)

Pembahasan mengenai hubungan antara negara koloni dan negara terjajah dijelaskan dalam Kolonialisme dan Pascakolonialisme karya Ania Loomba. Dalam karyanya Loomba menguraikan beberapa tema untuk mengkaji studi kolonialisme dan pascakolonialisme. Seperti gender, ras, kelas, Nasionalisme, serta rakyat terpinggirkan.

Kritik Loomba mengenai studi Pascakolonial, terpaku pada sejarah kolonial. Bagi sarjana Sastra India ini, kajian pascakolonial perlu melihat praktik-praktik dan dinamika masyarakat prakolonial dan kolonial. Gunanya untuk mengetahui peran rakyat di dalam dominasi kolonialisme dan imperialisme.

 

Identitas dan Ras

Perbedaan ras dikonstruksi maknanya oleh kolonialisme. Melalui laporan perjalanan, surat kabar, serta wacana agama, Barat menciptakan wacana adanya “pihak lain” di dunia ini. “Pihak lain” didefinisikan sebagai ras yang bodoh, primitif, irasional, tidak beradab, serta seksualitas tinggi. Keadaan tersebut dipertahankan secara terus-menerus untuk membenarkan tindakan penindasan yang dilakukan kolonialisme.

Namun, jauh sebelum kolonialisme modern muncul, wacana “pihak lain” sudah ada. Sejak zaman Yunani dan Romawi Kuno stereotip tersebut melekat kuat untuk membedakan bangsa beradab dan primitif. Di abad pertengahan, orang berkulit hitam ditempatkan sebagai makhluk yang menuai amarah Tuhan. Pernyataan itu, mendapat legitimasi dari asosiasi kitab injil, bahwa warna hitam disamakan dengan Ham (seorang keturunan Nabi Nuh yang jahat).

Kemudian ekspansi Eropa modern, memperkuat, memperlebar, serta menegaskan wacana tersebut. Bangsa Eropa melakukan perjalanan untuk mencari benua baru. Salah satunya ialah Columbus. Sewaktu mendarat di benua Amerika, ia mengatakan telah “menemukan” benua baru yang ditinggali oleh bangsa barbar dan primitif.

Kemudian, misi peradaban diklaim kolonialisme untuk membenarkan tindakan eksploitas bangsa lain. Setalah itu, Eropa mengubah struktur ekonomi, sosial, dan politik rakyat jajahan melalui institusi, kebijakan dan hukum yang dibuat oleh kolonial. Lembaga tersebut mempertahankan perbedaan ras.

 

Ras dan Kelas

Perbedaan ras dan entitas yang dikonstruksi kelas dominan dapat ditelaah dari segi ekonomi. Karl Marx mampu menjelaskan analisa dari sudut ekonomi. Menurut pemikiran Marx, kapitalisme dianggap mengubah struktur ekonomi dan mempengaruhi kebijakan sosial masyarakat kolonial. Kapitalisme membutuhkan buruh murah untuk melanjutkan roda produksi. Kaum terjajah atau kaum hitam yang menyediakan buruh murah tersebut.

Ketika Inggris melakukan ekspansi ke Kenya, tanah penduduk diambil oleh Inggris. Kemudian, penduduk diberikan tempat tinggal di dekatnya.

Selanjutnya, Inggris memiliki berbagai proyek pembangunan, seperti membuat jembatan dan jalan raya. Untuk mengerjakan proyek tersebut dibutuhkan buruh.

Tiap suku diberikan ketua oleh Inggris. Tujuannya, untuk mempermudah Inggris memanfaatkan rakyat terjajah. Inggris juga menyewakan tanah yang diberikan kepada penduduk. Akhirnya, penduduk terpaksa bekerja agar membayar sewa tanah.

Perbedaan kelas sengaja dipertahankan kapitalisme untuk memperoleh buruh murah. Struktur tradisional diubah kapitalisme menjadi struktur modern. Hukum, kebijakan, serta lembaga memegang kunci untuk menanamkan identitas pribumi. Lembaga mampu menyebarkan ideologi kelas dominan untuk memberikan makna baru kepada identitas rakyatnya.

Meski begitu, Ania Loomba mengingatkan penanaman identitas dan ideologi berbeda tiap daerahnya. Hal tersebut menandakan penanaman identitas tergantung dari sejarah serta praktik-praktik kolonialisme.

 

Kaum Terpinggirkan Berbicara

Perlawanan rakyat tertindas, dianggap penjajah sebagai kegilaan masyarakat pribumi. Menurut kolonial, hal tersebut terjadi karena kagetnya masyarakat terhadap praktik modern yang di bawa bangsa Eropa.

Menurut Ania Loomba, keadaan tersebut terjadi karena masyarakat tertindas sadar akan ketertindasan mereka. Mereka membawa sebuah identitas baru sebagai gerakan anti-kolonial, yakni Nasionalisme. Nasionalisme menjadi salah satu kontra-ideologi yang digunakan untuk memerdekakan rakyat dari belenggu dan praktek praktek kolonialisme.

Namun, nasionalisme gagal untuk memberikan keadilan kepada kaum terpinggirkan. Keadilan hanya diperoleh elite-elite nasional.

“Shisu” (anak-anak), yang ditulis oleh seorang Benggali, Mahasweta Devi, menguraikan bagaimana rakyat suku-suku telah dibuntungi secara harfiah dan figuratif di India pasca kemerdekaan. “Pembangunan” nasional tidak menyediakan tempat untuk budaya-budaya atau kepercayaan suku dan sikap dari pejabat pemerintah yang beritikad baik sekalipun, yaitu Mr. Singh. Bahkan, pandangan suku itu mirip dengan pandangan-pandangan kolonial terhadap rakyat non-barat. (hal.15)

Kisah ini mengingatkan, bahwa gerakan anti-kolonial jarang mewakili kepentingan-kepentingan rakyat sebuah jajahan.

 

Refleksi

Ania Loomba, memperkuat analisanya menggunakan sejarah India. Namun, ia mengingatkan kajian kolonialisme dan pascakolonialisme tidak universal. Tiap daerah, memiliki sejarah, dinamika, serta hubungan berbeda.

Pasca kemerdekaan, Bangsa Indonesia memiliki tugas panjang untuk menyebarkan gagasan nasionalisme serta menerapkan keadilan untuk semua kalangan. Meskipun, sembilan puluh persen elite nasional ialah bekas pegawai kolonial. Namun, revolusi nasional terus berlangsung.

Pada 1950-an, Soekarno, melakukan restrukturasi untuk mengusir pejabat pemerintah yang bekerjasama dengan imperialisme. Pasca peristiwa 1965, rencana itu gagal.

Era Reformasi, perbedaan rasial dipertahankan pemerintah. Pasca peristiwa Malari 1975, kebijakan ekonomi disahkan untuk melindungi kepentingan kapitalis pribumi dari kapitalisme asing. Namun, kebijakan itu hanya menguntungkan pengusaha Cina yang memiliki kedekatan dengan keluarga Cendana.

Peristiwa penjarahan dan pembunuhan massal masyarakat menjadi bukti, bahwa entitas Cina dikambinghitamkan pemeritah untuk menutupi krisis ekonomi. Padahal, tidak semua entitas Cina diuntungkan dari kebijakan ekonomi Soeharto.

Kini, keadaan diperparah dengan tindakan para elite partai yang menggunakan isu rasial untuk membenci entitas terntentu. Kata “Aseng” misalnya, sudah menyatu dengan entitas Cina. Tujuanya untuk kepentingan partai politik belaka.

Buku Ania Loomba, selain menggambarkan praktek kolonialisme serta wacana yang ditimbulkan, mengingatkan kepada kita bahwa sejarah tidak digerakan kalangan tertentu saja. Namun, sejarah juga digerakan oleh masyarakat marjinal.

Terlepas dari banyaknya istilah yang sulit dipahami. Buku ini cocok dijadikan rujukan untuk mengkaji sejarah kolonial dan dampaknya bagi masyarakat bekas kolonial.//Hendrik Yaputra

 

Editor  : M. Muhtar

LPM DIDAKTIKA
Up Next

Related Posts

Discussion about this post

%d blogger menyukai ini: